Konten dari Pengguna

Cara Mengatasi Hipotermia dengan Perawatan Medis dan Langkah Mudah

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 7 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengalami hipotermia. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengalami hipotermia. Foto: Pixabay

Cara mengatasi hipotermia perlu diketahui ketika bantuan medis belum tiba. Sebab, jika tidak segera diatasi, hipotermia bisa menyebabkan komplikasi besar bagi tubuh. Lebih parah lagi, hipotermia dapat membuat penderitanya kehilangan nyawa.

Hipotermia terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat dibandingkan menghasilkan panas. Kehilangan suhu tubuh yang dianggap sebagai hipotermia apabila mencapai di bawah 95° F (35° C). Sebagaimana diketahui bahwa suhu tubuh normal, yaitu sekitar 98,6° F (37 °C).

Kondisi ini sering disebabkan oleh paparan cuaca dingin atau merendam badan dengan air yang dingin. Hipotermia juga dapat disebabkan oleh paparan suhu ruangan di bawah 50° F (10° C) secara terus-menerus.

Penyebab Hipotermia

Ilustrasi salah satu penyebab hipotermia adalah terlalu lama berada di bawah cuaca dingin. Foto: Unsplash

Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh menurun di bawah batas normal, yaitu di bawah 35 derajat Celsius. Penyebab hipotermia dapat bervariasi, tetapi umumnya terkait dengan paparan suhu dingin yang terlalu lama.

Dikutip dari laman Mayo Clinic, adapun beberapa kondisi yang dapat menyebabkan hipotermia, di antaranya:

  • Paparan suhu rendah dalam waktu yang lama. Jika seseorang berada di lingkungan yang sangat dingin tanpa mengenakan pakaian hangat, suhu tubuhnya dapat turun dengan cepat.

  • Berada di luar ruangan dengan cuaca dingin terlalu lama.

  • Mengenakan pakaian yang basah dalam cuaca dingin.

  • Berendam dalam air dingin, terutama jika berlangsung dalam waktu yang lama.

  • Terpapar zat beracun atau obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi fungsi tubuh dalam mempertahankan suhu normal. Misalnya, alkohol dan beberapa obat psikotropika dapat meningkatkan risiko hipotermia.

  • Penggunaan AC secara berlebihan, sehingga menyebabkan ruangan terlalu dingin.

  • Kondisi medis tertentu, seperti sepsis (infeksi berat dalam tubuh), dapat menyebabkan perubahan suhu tubuh yang ekstrem, termasuk penurunan suhu yang cepat.

Faktor Risiko Hipotermia

Ilustrasi hipotermia lebih berisiko pada lansia. Foto: Pexels

Selain penyebab di atas, ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena hipotermia, di antaranya:

1. Usia

Bayi dan orang lanjut usia (lansia) memiliki risiko lebih tinggi terkena hipotermia. Pada bayi, sistem pengaturan suhu tubuh masih berkembang, sehingga mereka lebih rentan terhadap perubahan suhu yang ekstrem.

Sementara lansia cenderung memiliki respons tubuh yang lebih lambat terhadap perubahan suhu, serta mungkin mengalami masalah kesehatan yang mempengaruhi kemampuan mereka dalam mengatur suhu tubuh.

2. Penggunaan Alkohol dan Narkoba

Alkohol memang membuat tubuh Anda terasa hangat di dalam. Namun, minuman ini sebenarnya menyebabkan pembuluh darah Anda melebar, sehingga mengurangi sensitivitas kulit terhadap suhu dingin.

Selain itu, penggunaan alkohol atau narkoba dapat memengaruhi Anda dalam pengambilan keputusan. Misalnya, seseorang yang mabuk karena alkohol mungkin tidak sadar harus mengenakan pakaian hangat ketika cuaca dingin.

Jika seseorang mabuk dan pingsan dalam cuaca dingin, dia kemungkinan besar akan mengalami hipotermia.

3. Kondisi Medis Tertentu

Beberapa kondisi medis tertentu dapat meningkatkan risiko hipotermia. Contohnya adalah hipotiroidisme, gizi buruk atau anoreksia nervosa, diabetes, stroke, artritis, penyakit Parkinson, trauma, dan cedera tulang belakang.

4. Penggunaan Obat-obatan

Beberapa jenis obat dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur suhu. Contohnya termasuk obat antidepresan, antipsikotik, sedatif, dan sebagainya.

5. Gangguan Mental atau Demensia

Individu yang menderita penyakit mental atau demensia mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena hipotermia. Kondisi ini dapat mempengaruhi pemahaman dan kesadaran seseorang terhadap situasi lingkungan.

Akibatnya, orang-orang dengan kondisi ini mungkin tidak menyadari bahwa mereka berada dalam cuaca dingin atau tidak dapat mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi diri dari hipotermia.

Gejala Hipotermia

Ilustrasi seseorang yang mengalami hipotermia dan kehilangan kesadaran. Foto: Pexels

Tanda atau gejala hipotermia biasanya berkembang perlahan. Namun, seseorang dengan hipotermia biasanya tidak menyadari kondisinya karena gejala sering di mulai secara bertahap.

Dirangkum dari buku Mengenal Hipotermia oleh Ita Ratnasari dan Buku Pertolongan Hipotermia di Gunung oleh Fitriani Mardiana Hidayat, dkk., berikut adalah beberapa tanda atau gejala hipotermia yang kerap dialami penderitanya:

Gejala Hipotermia Ringan (Suhu 32–35 Derajat Celsius)

  • Takikardia (detak jantung meningkat)

  • Hiperventilasi (peningkatan laju pernapasan)

  • Sulit berjalan atau berbicara

  • Menggigil dan pucat

  • Mati rasa

  • Sering berkemih

  • Respons menurun

  • Kulit terasa dingin ketika disentuh

  • Kemampuan mengisap lemah

Gejala Hipotermia Sedang (Suhu 28–32 Derajat Celcius)

  • Pernapasan lambat tidak teratur

  • Detak jantung lambat dan tidak beraturan

  • Menggigil dengan refleks melambat

  • Mengalami disorientasi (bingung)

  • Berhenti menggigil

  • Penurunan tekanan darah

Gejala Hipotermia Berat (Suhu di bawah 28 Derajat Celsius)

  • Muka, ujung kaki, dan tangan berwarna merah terang, serta bagian tubuh lainnya pucat

  • Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki, dan tangan (sklerema)

  • Nadi lemah

  • Aritmia ventrikel (ketika bilik bawah jantung berdenyut sangat cepat)

  • Henti jantung atau hilang kesadaran

  • Otot kaku

Cara Mengatasi Hipotermia

Ilustrasi mengalami hipotermia. Foto: Pixabay

Hipotermia adalah keadaan darurat medis. Hubungi bantuan medis segera jika menduga bahwa diri sendiri atau seseorang yang dikenal menderita hipotermia. Tujuan mengatasi hipotermia adalah untuk meningkatkan suhu tubuh hingga ke kisaran normal.

Apabila terkena dampak hipotermia atau sedang membantu seseorang yang mengalaminya, maka dapat mengikuti cara mengatasi hipotermia yang dikutip dari laman Healthline berikut ini:

1. Tangani Orang Itu dengan Hati-Hati

Tangani orang yang terkena hipotermia dengan hati-hati. Jangan memijatnya untuk memulihkan aliran darah. Sebab, setiap gerakan yang kuat atau berlebihan dapat menyebabkan henti jantung. Hal terpenting adalah pindahkan atau lindungi mereka dari hawa dingin.

2. Lepaskan Pakaian Basah Orang Tersebut

Lepaskan pakaian basah yang sedang dipakai. Jika perlu, potonglah kain yang digunakan untuk menghindari pergerakan berlebih. Kemudian tutupi tubuh dengan selimut hangat, termasuk wajah mereka, tetapi jangan mulut dan hidungnya.

Jika selimut tidak tersedia, gunakan panas tubuh orang lain untuk menghangatkannya. Apabila penderitanya sadar, cobalah untuk memberi mereka minuman hangat atau sup, yang dapat membantu meningkatkan suhu tubuh.

3. Terapkan Kompres Hangat

Terapkan kompres hangat (tidak panas) dan kering ke tubuh sang penderita, seperti botol air hangat atau handuk hangat. Pastikan untuk mengompres hanya ke bagian dada, leher, atau selangkangan.

Jangan mengompres lengan atau kaki, dan jangan gunakan bantal pemanas atau lampu pemanas. Menerapkan kompres ke area ini akan mendorong darah dingin kembali ke jantung, paru-paru, dan otak, yang bisa menyebabkan henti jantung.

4. Pantau Pernapasan Orang Tersebut

Pantau pernapasan penderita hipotermia. Jika pernapasan mereka tampak sangat lambat, atau jika mereka kehilangan kesadaran, lakukan CPR jika terlatih untuk melakukannya.

5. Perawatan Medis

Menghimpun laman Mayo Clinic, tergantung pada tingkat keparahannya, perawatan medis darurat untuk hipotermia untuk menaikkan suhu tubuh, di antaranya sebagai berikut:

  • Penghangatan ulang pasif. Untuk seseorang dengan hipotermia ringan, cukup menutupinya dengan selimut hangat dan menawarkan minuman hangat.

  • Menghangatkan kembali darah. Darah dapat diambil, dihangatkan, dan disirkulasikan kembali ke dalam tubuh. Biasanya menggunakan mesin hemodialisis, yang berfungsi untuk menyaring darah pada orang dengan fungsi ginjal yang buruk.

  • Memakai cairan infus hangat. Larutan air garam intravena yang dihangatkan dapat dimasukkan ke dalam pembuluh darah untuk membantu menghangatkan darah.

  • Penghangatan kembali saluran napas. Penggunaan oksigen yang dilembapkan yang diberikan dengan masker atau selang hidung dapat menghangatkan saluran udara dan membantu meningkatkan suhu tubuh.

  • Irigasi. Larutan air asin hangat dapat digunakan untuk menghangatkan area tubuh tertentu, seperti area di sekitar paru-paru (pleura) atau rongga perut (rongga peritoneum). Cairan hangat dimasukkan ke daerah yang terkena dengan kateter.

Baca Juga: 6 Penyebab Hipotermia yang Penting Diketahui

Cara Mencegah Hipotermia

Ilustrasi mengenakan pakaian hangat dan tebal saat cuaca dingin. Foto: Pexels

Hipotermia adalah kondisi serius yang terjadi ketika suhu tubuh menurun di bawah batas normal. Mencegah hipotermia sangat penting, terutama saat berada di lingkungan dingin.

Dikutip dari laman Penn Medicine, berikut adalah beberapa cara mencegah hipotermia yang bisa dilakukan.

1. Mengenakan Pakaian Hangat dan Tebal

Kenakan pakaian yang hangat dan tebal untuk melindungi tubuh Anda saat berada di lingkungan dingin. Anda bisa mengenakan lapisan pakaian yang terdiri dari bahan seperti wol atau serat sintetis yang tahan terhadap kelembapan.

Selain itu, gunakan sarung tangan, kaus kaki, syal, dan topi untuk melindungi bagian tubuh yang rentan dingin, seperti tangan dan kepala.

2. Menjaga Tubuh Tetap Kering

Pakaian yang basah atau lembap dapat mempercepat tubuh kehilangan panas. Pastikan untuk menjaga tubuh tetap kering dengan menggunakan pakaian yang tahan air, seperti jaket atau mantel yang dilengkapi dengan lapisan pelindung air.

3. Menghindari Konsumsi Alkohol dan Kafein

Minuman beralkohol dan kafein dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur suhu. Keduanya dapat mengganggu aliran darah dan mengurangi sensitivitas kulit terhadap suhu dingin.

Sebaiknya konsumsilah minuman hangat non-alkoholik, seperti teh herbal atau minuman hangat lainnya, untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat.

4. Menghindari Aktivitas Fisik yang Berat dalam Cuaca Dingin

Jika suhu sangat dingin, hindari aktivitas fisik yang dapat membuat tubuh berkeringat. Berkeringat dapat menyebabkan tubuh kehilangan panas dengan cepat saat berada di suhu dingin.

Jika Anda harus melakukan aktivitas fisik, pastikan untuk mengenakan pakaian yang dapat menyerap keringat dan menjaga suhu tubuh tetap hangat.

5. Mengonsumsi Makanan dan Minuman Hangat

Mengonsumsi makanan dan minuman hangat dapat membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil. Konsumsilah makanan hangat yang kaya nutrisi, seperti sup ayam, serta minuman hangat, seperti teh jahe.

Baca Juga: Gejala-Gejala Varises dan Cara Menghilangkannya

(NDA & SFR)

Frequently Asked Question Section

Hipotermia disebabkan oleh apa?
chevron-down

Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh menurun di bawah batas normal, yaitu di bawah 35 derajat Celsius. Penyebab hipotermia dapat bervariasi, tetapi umumnya terkait dengan paparan suhu dingin yang terlalu lama.

Apa gejala hipotermia ringan?
chevron-down

Takikardia (detak jantung meningkat), hiperventilasi (peningkatan laju pernapasan), sulit berjalan atau berbicara, menggigil dan pucat, mati rasa, sering berkemih, respons menurun, dan lainnya.

Apakah penyakit hipotermia berbahaya?
chevron-down

Suhu tubuh yang rendah dapat memperlambat aktivitas otak, pernapasan, dan detak jantung. Akibatnya, kebingungan dan kelelahan dapat terjadi, sehingga menghambat kemampuan seseorang untuk memahami apa yang terjadi.