Cedera Tulang Belakang: Klasifikasi, Gejala, hingga Cara Memeriksanya

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap orang yang terjatuh atau terlibat dalam kecelakaan, termasuk tenggelam, mungkin akan mengalami cedera pada tulang belakangnya. Seseorang yang mengalami cedera tulang belakang harus sesegera mungkin dibawa ke unit gawat darurat dengan pergerakan yang lembut.
Fiksasi leher yang kaku harus diberikan untuk mencegah pergerakan leher dan pasien harus diletakkan pada papan spinal. Mengutip buku Penuntun Kedaruratan Medis oleh Buku Saku, langkah yang harus dilakukan ketika memeriksa orang yang mengalami cedera tulang belakang adalah:
Pada pemeriksaan pasien yang tidak sadar, tulang belakang harus dipalpasi dari kepala sampai sakrum untuk mencari adanya penonjolan yang jelas, perubahan kontur, dan area dari refleks respons nyeri-menarik.
Jika pasien perlu dibalik, kepala dan badan harus dipindahkan sebagai satu kesatuan untuk menghindari pemutaran leher dan tulang belakang, kecuali pemeriksa yakin tidak ada cedera pada daerah tersebut.
Tentukan adanya refleks regangan lutut dan tumit dengan stimuli tusukan peniti atau stimuli nyeri yang lain akan membantu, bahkan pada pasien yang tidak sadar. Tidak adanya refleks atau respons menunjukkan adanya trauma pada medulla spinalis. Penting juga untuk mencek adanya priapisme dan melakukan pemeriksaan refleks dan tonus spingter rectum.
Jika pasien sadar, pemeriksaan neurologis dapat dengan cepat mendeteksi adanya kerusakan medulla spinalis. Caranya, yakni dengan meminta pasien untuk melakukan gerakan volunter berbagai bagian dari ekstremitas. Selain itu, refleks juga harus dicoba, meliputi respons plantar, abdominal, regangan biseps, triseps, lutut dan tumit. Respons terhadap tusukan peniti dan tonus sfingter rektal juga perlu diperiksa.
Klasifikasi Cedera Tulang Belakang
Menurut Corke dalam Buku Modul Daftar Penyakit Kepaniteraan Klinik : SMF Neurologi oleh Imran dan Ika Marlia, terdapat beberapa klasifikasi akibat cedera tulang belakang atau medulla spinalis, yakni:
Hiperfleksi: Biasanya akibat pukulan di bagian belakang kepala atau deselerasi kuat. Pasien umumnya stabil dan jarang berhubungan dengan cedera neurologis.
Hiperfleksi-rotasi: Gangguan kompleks ligamen posterior terjadi dan meskipun serviks. cedera akar saraf tulang belakang umum stabil dan tidak biasanya berhubungan dengan kerusakan saraf tulang belakang.
Kompresi vertikal atau beban aksial: Kompresi yang timbul tergantung pada besarnya kekuatan kompresi mulai cedera korpus vertebral dengan margin relatif utuh sampai kerusakan tulang vertebra komplit. Mungkin bisa dijumpai pergeseran tulang ke belakang sehingga bisa terjadi cedera medulla spinalis.
Hiperekstensi: Biasanya terjadi akibat pukulan bagian depan kepala atau cedera whiplash. Sering menyebabkan kerusakan saraf. Trauma hiperekstensi dengan fraktur pedikel C2 dan pergeseran C2 dan C3 ke depan bisa menimbulkan "fraktur Hangman".
Ekstensi-rotasi: Sering dijumpai pada cedera menyelam. Ini karena cedera menyelam sering kali menyerang kolumna anterior dan posterior, sehingga risiko kerusakan medulla spinalis menjadi lebih tinggi.
Fleksi lateral: Sering bersamaan dengan cedera ekstensi dan fleksi.
Gejala Cedera Tulang Belakang
Menurut Dahlberg dalam Buku Modul Daftar Penyakit Kepaniteraan Klinik : SMF Neurologi oleh Imran dan Ika Marlia, hampir 57 persen pasien yang menderita tulang belakang adalah laki-laki dengan rata-rata umur 31 tahun. Penyebab utamanya adalah olahraga, berbagai kecelakaan, alkohol, dan penyalahgunaan obat-obatan.
Sheerin turut menjelaskan dalam buku yang sama, dampak dan kompresi dari cedera saraf tulang belakang adalah kerusakan pada pembuluh darah intrameduler, pendarahan di bagian tengah substansia grisea, dan ada kemungkinan terjadi vasospasme.
Suatu trauma yang mengenai tulang belakang dapat terjadi akibat jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kecelakan olahraga. Kerusakan yang dihasilkan dapat berakibat terganggunya peredaran darah, blok saraf, pelepasan mediator kimia, kelumpuhan otot pernapasan, nyeri hebat, dan akut anestesi.
Adapun menurut studi dari American Association of Neurological Surgeons (AANS), tanda-tanda dan gejala yang ditimbulkan dari cedera tulang belakang, yakni:
Nyeri ekstrem atau tekanan di leher;
Kepala atau punggung kesemutan atau hilangnya sensasi di tangan, jari, kaki, tangan atau kaki;
Parsial atau kehilangan kontrol atas setiap bagian dari tubuh;
Kesulitan dengan keseimbangan dan berjalan;
Abnormal-band, seperti sensasi nyeri atau terdapat tekanan di dada;
Gangguan pernapasan setelah cedera;
Terdapat benjolan di kepala atau tulang belakang.
Baca Juga: Pengertian Tungkai dan Fungsinya untuk Aktivitas Sehari-hari
(NDA)
Frequently Asked Question Section
Apa yang terjadi jika cedera tulang belakang?

Apa yang terjadi jika cedera tulang belakang?
Cedera tulang belakang dapat menimbulkan serangkaian gejala, termasuk nyeri ekstrem atau tekanan di leher, gangguan pernapasan, hingga benjolan di kepala atau tulang belakang.
Apakah cedera tulang belakang dapat menyebabkan kelumpuhan?

Apakah cedera tulang belakang dapat menyebabkan kelumpuhan?
Kerusakan yang dihasilkan dapat berakibat terganggunya peredaran darah, blok saraf, pelepasan mediator kimia, kelumpuhan otot pernapasan, nyeri hebat dan akut anestesi.
Apa saja jenis cedera tulang belakang?

Apa saja jenis cedera tulang belakang?
Hiperfleksi, hiperfleksi-rotasi, kompresi vertikal atau beban aksial, hiperekstensi, ekstensi-rotasi, dan fleksi lateral.
