Konten dari Pengguna

Hipotermia: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hipotermia. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hipotermia. Foto: pixabay

Hipotermia adalah kondisi penurunan suhu tubuh yang mencapai bawah batas normal. Kondisi ini dapat terjadi akibat terus-menerus terpapar suhu dingin, sehingga memengaruhi kemampuan tubuh dalam memproduksi panas.

Hipotermia dapat terjadi secara cepat atau lambat. Ada tiga tingkat keparahan yang biasa ditemui, yakni hipotermia ringan (36-36,5°C), hipotermia sedang (32-36°C), dan hipotermia berat (di bawah 32°C).

Mengutip buku Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kelautan karya Dr. Muhammad Lalu (2018), hipotermia biasanya dipicu oleh suhu dingin yang terlalu ekstrim. Kondisi ini bisa semakin parah ketika penderita tidak memakai pakaian lengkap, terluka, mengenakan pakaian basah, kelelahan, dan kekurangan energi.

Di samping itu, serangan hipotermia juga bisa dipengaruhi oleh beberapa penyakit tertentu. Agar lebih memahaminya, berikut penjelasan tentang hipotermia selengkapnya yang bisa Anda simak.

Gejala Hipotermia Itu Apa?

Gejala hipotermia bervariasi tergantung tingkat keparahannya. Umumnya, pasien akan merasakan kesemutan, mati rasa, terjadi perubahan warna, dan tekstur kulit.

Ilustrasi hipotermia. Foto: pixabay

Menurut Setiati dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (2015), gejala klinis yang sering terjadi berdasarkan kategori hipotermia dapat meliputi:

  • Hipotermia ringan: takikardi, takipnes hiperventilasi, sulit berjalan dan berbicara, mengigil, dan sering berkemih karena cold diuresis.

  • Hipotermia sedang: nadi berkurang, pernapasan dangkal dan pelan, berhenti menggigil, refleks melambat, pasien menjadi disorientasi, sering terjadi aritmia.

  • Hipotermia berat: hipotensi, nadi lemah, edema paru, koma, aritmia ventrikel, dan henti jantung.

Pada tahap awal, biasanya pasien akan melakukan gerakan aktif atau involunter seperti menggigil. Dalam kondisi ini, kesadaran, pernapasan, dan sirkulasi darah pasien masih sangat normal.

Kemudian, seluruh sistem organ akan mengalami penurunan fungsi sesuai dengan kategori hipotermia. Komplikasi berat seperti fibrilasi atrium akan terjadi apabila suhu inti tubuh kurang dari 32°C.

Risiko henti jantung akan meningkat apabila suhu inti tubuh menurun di bawah 32°C dan semakin parah ketika menyentuh suhu 28°C. Jika belum ada tanda instabilitas jantung, kondisi ini belum memerlukan penanganan khusus.

Ilustrasi hipotermia. Foto: pixabay

Apa Penyebab Terjadinya Hipotermia?

Seperti disebutkan sebelumnya, hipotermia bisa disebabkan oleh paparan udara dingin yang terjadi terus-menerus. Sehingga, tubuh penderitanya tidak mampu memproduksi panas secara alami.

Hipotermia akan semakin parah jika pasien tidak berpakaian dengan benar. Misalnya memakai baju yang tipis, memakai jeans yang basah, dan lain-lain.

Namun, setiap orang memiliki kekebalan yang berbeda terhadap pemicu hipotermia. Mengutip Mayoclinic, berikut kondisi khusus yang bisa menyebabkan hipotermia:

  • Mengenakan pakaian yang tidak cukup hangat untuk kondisi cuaca dingin.

  • Terlalu lama berada di luar ruangan dalam cuaca dingin.

  • Mengenakan pakaian basah.

  • Jauh dari tempat yang hangat dan kering.

  • Menyebur ke air karena berenang atau tenggelam.

  • Tinggal di rumah yang terlalu dingin karena paparan AC.

Berapa Suhu Tubuh Hipotermia?

Ilustrasi hipotermia. Foto: pixabay

Mengutip situs NHK, suhu tubuh hipotermia berada di bawah 35°C. Angka pastinya disesuaikan dengan tingkat keparahan dan kondisi tubuh pasien. Hipotermia ringan berkisar antara 36-36,5°C, hipotermia sedang 32-36°C, dan hipotermia berat di bawah 32°C.

Dalam kondisi terparah, pasien bisa menyentuh angka 25-28°C. Pasien akan mengalami penurunan fungsi organ dan komplikasi berat seperti fibrilasi atrium. Gejalanya meliputi hipotensi, nadi lemah, edema paru, koma, aritmia ventrikel, dan henti jantung.

Cara Mengatasi Hipotermia

Anda bisa melakukan pertolongan pertama pada pasien hipotermia dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. 1. Berikan penanganan yang lembut

    Saat Anda menolong pasien hipotermia, tangani dengan lembut. Batasi gerakan dan jangan memijat atau menggosok pasien. Sebab, gerakan yang berlebihan dan kuat dapat memicu terjadinya serangan jantung.

  2. 2. Jauhkan pasien dari udara dingin

    Jika memungkinkan, pindahkan pasien ke tempat yang hangat atau kering. Anda juga bisa menggunakan selimut alumunium untuk mengembalikan suhu tubuhnya ke kondisi normal. Jangan lupa untuk memosisikan pasien secara horizontal.

  3. 3. Lepaskan pakaian basah

    Lepaskan pakaian basah yang dikenakan pasien secara keseluruhan. Potong pakaian jika perlu untuk menghindari gerakan yang berlebihan.

  4. 4. Selimuti pasien

    Gunakan lapisan selimut atau mantel kering untuk menghangatkan pasien. Tutupi kepalanya dan biarkan hanya wajahnya saja yang terbuka.

  5. 5. Pantau pernapasan

    Pasien dengan hipotermia berat biasanya tidak sadarkan diri. Jika pernapasannya berhenti atau melemah, segera lakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation).

  6. 6. Berikan minuman hangat

    Jika pasien masih sadarkan diri dan mampu menelan, berikan minuman yang hangat, manis, nonalkohol, dan nonkafein. Ini bisa membantu pasien menghangatkan tubuhnya.

  7. 7. Gunakan kompres hangat dan kering

    Gunakan kompres hangat dalam botol plastik atau media sejenis. Oleskan kompres tersebut ke daerah leher, dinding dada, dan selangkangan. Jangan kompres di lengan atau kaki karena bisa menyebabkan suhu tubuh semakin menurun.

(MSD)