Kegunaan Obat Alpara beserta Efek Samping, dan Aturan Pakainya

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alpara obat apa? Alpara adalah obat yang digunakan untuk meredakan gejala flu seperti hidung tersumbat, sakit kepala, demam, dan bersin-bersin yang disertai batuk.
Alpara termasuk ke dalam golongan obat bebas, sehingga dapat dibeli tanpa resep dokter. Obat ini dapat dikonsumsi oleh anak-anak berusia 6-12 tahun dan orang dewasa.
Apa Itu Alpara?
Alpara adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gejala flu dan batuk. Mengutip laman DailyMed, obat ini mengandung kombinasi empat bahan aktif, di antaranya:
Paracetamol, yaitu obat untuk menurunkan demam (antipiretik) dan meredakan nyeri (analgesik) dengan intensitas ringan hingga sedang.
Phenylpropanolamine, yaitu obat untuk meredakan gejala flu, hidung tersumbat, batuk, pilek, dan alergi.
Chlorpheniramine maleate, yaitu obat antihistamin untuk meredakan gejala alergi, flu, bersin-bersin, batuk, pilek, dan demam.
Dextromethorphan, yaitu obat untuk meredakan batuk kering akibat flu.
Alpara merupakan obat yang dijual bebas di apotek tanpa membutuhkan resep dokter. Obat ini digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi kesehatan, seperti:
Meredakan gejala flu
Menurunkan demam
Melegakan hidung tersumbat
Meredakan sakit kepala
Meredakan batuk kering
Mengatasi sakit gigi
Mengatasi sakit pinggang dan sakit punggung
Selain itu, Alpara juga dapat digunakan untuk meredakan rasa nyeri ringan hingga sedang, seperti nyeri pada punggung dan pinggang. Namun, obat ini hanya membantu untuk meredakan nyeri, bukan mengobati penyebab sakit pada bagian tubuh tertentu.
Jenis Alpara
Berdasarkan bentuk sediaan obatnya, Alpara terdiri atas dua jenis, yaitu:
Alpara Kaplet
Tiap kaplet Alpara mengandung zat aktif paracetamol 500 mg, phenylpropanolamine HCl 12,5 mg, chlorpheniramine maleate 2 mg, dan dextromethorphan HBr 15 mg.
Alpara Sirup
Tiap 5 ml Alpara sirup mengandung zat aktif paracetamol 125 mg, phenylpropanolamine HCl 3,125 mg, chlorpheniramine maleate 0,5 mg, dan dextromethorphan HBr 3,75 mg.
Efek Samping Alpara
Pada umumnya, Alpara hanya memiliki sedikit efek samping selama diberikan sesuai dengan dosis yang dibutuhkan. Akan tetapi, ada beberapa efek samping obat ini yang mungkin dirasakan, di antaranya:
Mual
Muntah
Mengantuk
Gangguan pencernaan
Mulut kering
Susah buang air kecil
Vertigo
Aritmia
Selain beberapa efek samping di atas, jika mengonsumsi Alpara yang mengandung paracetamol dalam dosis besar dan jangka panjang, akan ada risiko kerusakan fungsi hati.
Hentikan pemakaian obat Alpara jika mengalami kesulitan tidur, detak jantung tidak beraturan, pusing yang tidak kunjung membaik, dan reaksi alergi, seperti ruam pada kulit dan gatal-gatal.
Dosis dan Aturan Pakai Alpara
Alpara merupakan obat bebas yang dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter. Obat ini tersedia dalam bentuk kaplet dan sirup.
Penggunaan Alpara harus sesuai petunjuk pada label kemasan, panduan informasi, dan anjuran dokter. Berdasarkan petunjuk pada informasi produk, berikut dosis dan aturan pakai Alpara untuk orang dewasa dan anak-anak:
1. Dosis Alpara Kaplet
Dewasa: 1 kaplet, diminum 3 kali sehari. Obat dapat dikonsumsi sesudah makan.
Anak usia 6-12 tahun: ½ kaplet, diminum 3 kali sehari. Obat dapat dikonsumsi sesudah makan.
2. Dosis Alpara Sirup
Anak usia 6-12 tahun: 2 sendok takar (10 ml), diminum 3 kali sehari. Obat dapat dikonsumsi sesudah makan.
Segera berkonsultasi dengan dokter apabila gejala flu tidak kunjung berkurang dalam 3 hari setelah pemakaian obat.
Peringatan Sebelum Mengonsumsi Alpara
Sebelum mengonsumsi Alpara, konsultasikan dengan dokter riwayat penyakit yang Anda miliki dan semua obat-obatan yang dikonsumsi agar tidak terjadi kontraindikasi. Jangan mengonsumsi obat Alpara apabila memiliki kondisi berikut:
Pasien yang alergi terhadap kandungan obat.
Pasien yang menderita gangguan fungsi ginjal dan hati.
Pasien yang menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Selain itu, beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang menderita kondisi berikut:
Penyakit liver, diabetes, dan penyakit jantung, aritmia, penyakit tiroid, glaukoma, obstruksi usus, kejang, pembesaran prostat,
Gangguan pernapasan, seperti asma, batuk berdahak, bronkitis, dan emfisema.
Kecanduan alkohol.
Wanita hamil dan menyusui atau sedang merencanakan kehamilan.
Cara Mengonsumsi Alpara dengan Benar
Meskipun termasuk golongan obat bebas, penggunaan Alpara tidak boleh sembarangan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat mengonsumsi obat ini, yaitu:
Sebelum mengonsumsi Alpara, konsultasikan dengan dokter jika Anda memiliki riwayat kesehatan tertentu, obat-obatan yang sedang dikonsumsi, dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan terkait penggunaan obat.
Konsumsi Alpara harus sesuai anjuran dosis yang tertera pada kemasan obat. Penggunaannya tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.
Untuk Alpara kaplet, konsumsi obat ini secara utuh dengan segelas air putih. Jangan mengunyah, menghancurkan, atau mencampurkan obat dengan makanan.
Untuk Alpara sirup, kocok terlebih dahulu botol obat sebelum digunakan. Gunakan sendok takar yang sesuai agar obat yang dikonsumsi tidak melebihi dosis. Jangan mencampurkan obat dengan makanan atau minuman tertentu.
Jika Anda lupa mengonsumsi Alpara pada waktu yang ditentukan, segera konsumsi obat begitu ingat selama jeda dengan waktu konsumsi berikutnya belum terlalu dekat.
Disarankan untuk mengonsumsi obat Alpara di jam yang sama setiap harinya agar pengobatan lebih optimal.
Simpan Alpara di tempat yang sejuk dan kering, serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Pastikan obat berada di luar jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
Baca Juga: 6 Obat Flu yang Bagus dan Efektif untuk Redakan Gejala
Interaksi Alpara dengan Obat Lain
Alpara mengandung kombinasi paracetamol, phenylpropanolamine, chlorpheniramine, dan dextromethorphan yang dapat berinteraksi dengan jenis obat-obatan tertentu. Adapun beberapa interaksi Alpara dengan obat lain, yaitu:
Kandungan phenylpropanolamine dalam Alpara dapat berinteraksi dengan obat antihipertensi (obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi). Kombinasi obat ini dapat mempengaruhi efektivitas pengobatan hipertensi.
Kandungan phenylpropanolamine dan dextromethorphan dapat berinteraksi dengan obat antidepresan monoamine oxidase inhibitors (MAOI). Kombinasi obat ini dapat menyebabkan peningkatan kadar serotonin dalam tubuh.
Kandungan chlorpheniramine dalam Alpara dapat berinteraksi dengan obat pengencer darah, seperti warfarin. Kombinasi obat ini berpotensi meningkatkan risiko perdarahan.
Kandungan dextromethorphan dalam Alpara dapat menyebabkan efek samping mengantuk. Penggunaan bersamaan dengan obat antinyeri golongan opioid, obat tidur, atau obat antipsikotik dapat memperkuat efek kantuk ini.
Kandungan dextromethorphan dalam Alpara dapat meningkatkan risiko efek samping jika digunakan bersamaan dengan obat amiodarone atau haloperidol.
Kandungan paracetamol dalam Alpara dapat berinterkasi dengan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen. Kombinasi obat ini dapat meningkatkan risiko efek samping dan mempengaruhi fungsi ginjal.
Selain daftar di atas, kandungan obat Alpara juga dapat berinteraksi dengan jenis obat lain tergantung dari kondisi pasien. Oleh sebab itu, selalu konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu jika ingin mengombinasikan Alpara dengan obat-obatan lain.
(SFR)
