Mengenal Penyebab Zika dan Berbagai Risiko Penularannya

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyakit zika adalah infeksi virus yang pertama kali diidentifikasi pada kawanan monyet di Uganda tahun 1947. Pada manusia sendiri, virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1954 di Negeria. Apa sebenarnya penyebab zika?
Sebagian besar kasus yang terjadi, penyakit zika masih berskala kecil dan tidak dianggap sebagai ancaman besar terhadap kesehatan manusia. Namun, persebaran zika mulai mengancam masyarakat global semenjak mewabah di benua Amerika, terutama Brasil pada tahun 2015.
Selain itu, infeksi virus zika yang rentan terjadi pada ibu hamil ini juga memerlukan perhatian lebih. Sebab, infeksi virus ini berhubungan dengan keguguran dan mikrosefali.
Menurut situs Cleveland Clinic, mikrosefali adalah kelainan kongenital yang menyebabkan ukuran kepala bayi lebih kecil dari yang seharusnya. Bayi dengan mikrosefali dapat tumbuh normal. Namun, pada sebagian besar kasus dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, seperti gangguan motorik, bicara, hingga intelektual.
Pembahasan berikut ini akan mengulas secara lengkap tentang apa penyebab seseorang terinfeksi virus zika, sekaligus risiko penularannya. Selengkapnya ada di bawah ini.
Penyebab Zika dan Risiko Penularannya
Berdasarkan buku Pengendalian Penyakit yang Ditularkan Binatang karangan Ririh Yudhastuti, penularan virus zika umumnya terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes, yakni Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang telah terinfeksi. Nyamuk jenis ini aktif di siang hari dan dapat hidup di dalam maupun di luar ruangan.
Jika nyamuk Aedes mengisap darah orang yang terpapar zika, nyamuk-nyamuk tersebut dapat menularkan virus zika ke orang berikutnya. Selain lewat gigitan nyamuk, penelitian terbaru membuktikan bahwa virus zika dapat disebarkan melalui hubungan seksual, transfusi darah, serta seorang ibu kepada bayi yang sedang dikandungnya.
Tak hanya itu, mengutip buku Wabah dan Pandemi yang ditulis oleh Meera Senthilingam, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena virus zika, yaitu:
1. Ibu Hamil
Bahaya terbesar dari serangan virus ini justru muncul pada ibu hamil. Sebab, ibu hamil yang positif terjangkit virus zika, kemungkinan bisa menularkan virus tersebut pada janin dalam kandungannya.
Jika virus tersebut sampai menyerang ibu hamil, kemungkinan bisa berdampak pada kerusakan jaringan otot dan sistem saraf, termasuk sistem saraf pusat di otak dari janin.
2. Hubungan Seksual Tanpa Pengaman
Virus zika juga dapat menyebar melalui hubungan seks, setelah biasanya seseorang melakukan perjalanan ke daerah di mana penyakit zika sedang mewabah.
Kasus pertama yang membuktikan bahwa zika bisa ditularkan lewat hubungan seks adalah pada Juli 2016 di New York. Saat itu, otoritas kesehatan Amerika Serikat melaporkan, jika seorang wanita menularkan virus zika ke seorang pria melalui seks tanpa pengaman.
3. Pergi ke Daerah yang Terinfeksi
Sebagian kasus penyebab virus zika dikaitkan dengan aktivitas perjalanan ke daerah yang sedang terinfeksi. Oleh sebab itu, Centers for Disease Control telah menerbitkan peringatan perjalanan terkait peta penyebaran virus zika.
Berikut ini daftar persebaran daerah penyakit zika yang tergolong sebagai kejadian luar biasa (KLB):
Brazil
Cape Verde
Colombia
El Savador
Honduras
Martinique
Panama
Suriname
Adapun negara-negara persebaran penyakit zika yang memiliki status transmisi aktif, di antaranya:
Barbados
Bolivia
Curacao
The Dominican Republic
Ecuador
Fiji
French Guiana
Guadalope
Guatemala
Guyana
Haiti
Meksiko
New Caledonia
Nicaragua
Paraguay
Puerto Rico
Saint Martin
Samoa
Tonga
US Virgin Islands
Venezuela
Upaya Mencegah Penyakit Zika
Setelah mengetahui daftar negara apa saja yang berpotensi menyebarkan virus zika, cara terbaik untuk mencegah penyakit satu ini adalah tidak bepergian ke negara atau daerah tersebut, terutama jika sedang hamil.
Namun, jika seseorang terpaksa harus pergi ke wilayah tersebut, cara pencegahan yang bisa dilakukan antara lain:
Berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi kesehatan 4–6 minggu sebelum keberangkatan.
Mencari informasi tentang fasilitas kesehatan yang tersedia di daerah yang akan dikunjungi.
Tidak berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom.
Sementara itu, untuk mencegah gigitan nyamuk penyebab virus zika, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu:
Mengenakan baju berlengan panjang, celana panjang, dan kaus kaki saat beraktivitas di luar ruangan atau di tempat yang banyak nyamuk.
Mengoleskan losion antinyamuk dengan kandungan DEET minimal 10%.
Menggunakan pendingin ruangan (AC) jika memungkinkan.
Memasang kawat nyamuk di jendela dan pintu.
Memasang kelambu di tempat tidur dan kereta dorong bayi.
Membersihkan tempat penampungan air setiap 1 minggu sekali dan menutup tempat air tersebut, agar nyamuk tidak bertelur di dalamnya.
Menaburkan bubuk larvasida di tempat penampungan air untuk membunuh larva nyamuk.
Membuang atau menimbun barang bekas yang dapat menampung air, seperti ember, kaleng, atau ban.
Baca Juga: Cara Mengusir Nyamuk dengan Kopi yang Mudah Dilakukan
(VIO)
Frequently Asked Question Section
Kapan pertama kali zika ditemukan?

Kapan pertama kali zika ditemukan?
Zika merupakan salah satu penyakit yang pertama kali ditemukan pada seekor monyet di Hutan Zika, Uganda tahun 1947.
Apa itu mikrosefali?

Apa itu mikrosefali?
Mikrosefali adalah kelainan kongenital yang menyebabkan ukuran kepala bayi lebih kecil dari yang seharusnya. Bayi dengan mikrosefali dapat tumbuh normal. Namun, pada sebagian besar kasus dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, seperti gangguan motorik, bicara, hingga intelektual.
Apa bahaya virus zika untuk ibu hamil?

Apa bahaya virus zika untuk ibu hamil?
Bahaya terbesar dari serangan virus ini justru muncul pada ibu hamil. Sebab, ibu hamil yang positif terjangkit virus zika, kemungkinan bisa menularkan virus tersebut pada janin dalam kandungannya.
