Konten dari Pengguna

Obat Antibiotik untuk Apa? Ini Fungsi, Jenis, dan Aturan Pakainya

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi obat antibiotik. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat antibiotik. Foto: Pexels

Banyak orang yang sudah tidak asing lagi dengan obat antibiotik. Obat ini sering diresepkan dokter untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan infeksi. Namun sebenarnya, obat antibiotik untuk apa?

Jika kamu pernah bertanya tentang hal tersebut, artikel ini akan menjelaskan fungsi antibiotik, jenis-jenisnya, serta bagaimana cara menggunakannya dengan tepat agar tidak membahayakan tubuh.

Obat Antibiotik untuk Apa?

Ilustrasi obat antibiotik. Foto: Pexels

Merujuk buku Antibiotik dan Resistensi Antibiotik karya Dr. apt. Muntasir. S.Si., M.Si, dkk., antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Obat ini bekerja dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit di dalam tubuh, bukan melawan infeksi yang disebabkan oleh virus, seperti flu, batuk biasa, dan sebagian besar kasus sakit tenggorokan.

Penggunaan antibiotik yang tak sesuai justru bisa berdampak negatif dan memicu resistensi antibiotik. Berikut beberapa kondisi medis yang umum menggunakan antibiotik:

  1. Infeksi saluran pernapasan bakterial, seperti pneumonia (radang paru-paru), bronkitis akut akibat bakteri, dan infeksi sinus (sinusitis bakteri).

  2. Infeksi saluran kemih (ISK). Penderita ISK biasanya merasakan nyeri saat buang air kecil dan perlu antibiotik untuk menghilangkan infeksi di saluran kencing.

  3. Infeksi telinga tengah, terutama pada anak-anak, infeksi telinga akibat bakteri dapat ditangani dengan antibiotik oral.

  4. Infeksi kulit dan jaringan lunak, termasuk abses, bisul, selulitis, atau luka yang terinfeksi bakteri.

  5. Infeksi tenggorokan bakterial, misalnya, radang tenggorokan akibat bakteri Streptococcus yang tak bisa sembuh tanpa antibiotik.

  6. Tifus dan demam berdarah bakterial. Jenis demam tifoid yang disebabkan oleh Salmonella typhi membutuhkan pengobatan antibiotik.

  7. Tuberkulosis (TBC) atau infeksi bakteri kronis yang membutuhkan pengobatan antibiotik jangka panjang.

Baca Juga: 5 Obat Cacing untuk Anak yang Aman dan Efektif

Jenis-jenis Antibiotik

Ilustrasi obat antibiotik. Foto: Pexels

Terdapat berbagai macam antibiotik yang diklasifikasikan berdasarkan cara kerjanya dan jenis bakteri yang ditarget. Berikut beberapa jenisnya yang paling umum ditemui:

  • Penisilin (misalnya amoksisilin): Sering digunakan untuk infeksi ringan hingga sedang.

  • Tetrasiklin: Untuk jerawat, infeksi pernapasan, atau penyakit menular seksual.

  • Makrolida (misalnya eritromisin, azitromisin): Efektif untuk infeksi saluran pernapasan atas dan kulit.

  • Sefalosporin: Digunakan dalam kasus infeksi yang lebih serius.

  • Fluorokuinolon (misalnya ciprofloxacin): Untuk infeksi saluran kemih dan saluran cerna.

Aturan Penggunaan Antibiotik yang Benar

Ilustrasi obat antibiotik. Foto: Pexels

Penggunaan antibiotik harus selalu berdasarkan resep dan arahan dokter. Berikut beberapa aturan penting yang wajib diperhatikan sebagaimana dituliskan dalam buku Antibiotik: Paham Bagi Orang Awam oleh dr. Ridha Wahyutomo, SpMK.

  1. Jangan menggunakan tanpa resep. Mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran medis bisa berbahaya dan tak semua gejala infeksi butuh antibiotik.

  2. Habiskan sesuai dosis meskipun gejala sudah membaik. Tetap habiskan antibiotik sesuai petunjuk dokter untuk memastikan semua bakteri mati total.

  3. Hindari memberi antibiotik ke orang lain. Setiap orang membutuhkan dosis dan jenis antibiotik berbeda, tergantung infeksinya.

  4. Perhatikan efek samping. Beberapa antibiotik dapat menimbulkan efek samping seperti mual, diare, atau reaksi alergi. Jika muncul reaksi yang parah, segera konsultasikan ke dokter.

(NDA)