Konten dari Pengguna

Obat Methylprednisolone: Kegunaan, Dosis, dan Efek Sampingnya

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 7 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi obat Methylprednisolone. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat Methylprednisolone. Foto: Unsplash

Methylprednisolone termasuk obat yang banyak dicari selama pandemi Covid-19. Obat ini disebut mampu meredakan gejala yang dialami penderita Covid-19, terutama meredakan radang tenggorokan.

Methylprednisolone adalah obat golongan steroid yang bermanfaat untuk membantu mengatasi peradangan di dalam tubuh. Mulai dari radang tenggorokan, sakit gigi, radang sendi, radang usus, asma, lupus, hingga kambuhnya multiple sclerosis

Mengutip situs Mayo Clinic, Methylprednisolone bekerja dengan menekan sistem kekebalan tubuh untuk melepas senyawa kimia yang mengakibatkan peradangan.

Ada berbagai merek obat Methylprednisolone yang umum digunakan, antara lain Prednox, Prednicort, Rhemafar, Vadrol, Metrison, Steloson, Sanexon, Medrol, Metrison, Intidrol, Hexilon, Lodixon, dan Cormetisone.

Meski begitu, ada aturan dan dosis yang harus diperhatikan pasien saat mengonsumsi obat golongan ini.

Dosis dan Aturan Pakai Obat Methylprednisolone

Ilustrasi obat Methylprednisolone. Foto: Unsplash

Methylprednisolone tergolong obat keras. Karena itu, pemakaiannya harus berdasarkan rekomendasi dokter dan sesuai dosis yang ditentukan.

Biasanya, Methylprednisolone berbentuk tablet 4 mg, 8 mg, 16 mg, dan 32 mg. Menurut informasi dari laman Medical News Today, dosis Methylprednisolone untuk setiap orang berbeda-beda, disesuaikan berdasarkan usia dan jenis penyakitnya.

1. Dosis Methylprednisolone untuk Dewasa (Usia 18-64 tahun)

Umumnya, dosis awal yang akan diberikan untuk usia dewasa adalah 4-48 mg per hari dan diminum dalam satu atau dua dosis. Jika tubuh merespons obat dengan baik, dokter mungkin akan menurunkan dosis secara perlahan sampai mencapai dosis efektif serendah mungkin.

Jika seseorang mengonsumsi obat ini untuk jangka waktu yang lama, kemungkinan ia akan disarankan untuk meminumnya setiap hari. Ini dapat mengurangi efek samping yang ditimbulkan.

2. Dosis Methylprednisolone untuk Anak (Usia 0-17 tahun)

Berbeda dengan orang dewasa, anak belum bisa mengonsumsi obat keras. Karena itu, obat Methylprednisolone harus diberikan dengan dosis serendah mungkin dan sesuai kondisi anak tersebut.

3. Dosis Methylprednisolone untuk Lansia (Usia 65 tahun ke atas)

Ginjal orang yang lansia tentu tidak bekerja sebaik dulu. Hal ini dapat menyebabkan tubuh lebih lambat memproses obat dan membuat obat menumpuk di dalam. Akibatnya, risiko terkena efek samping obat juga semakin besar.

Itu sebabnya, untuk lansia pemberian dosis Methylprednisolone jauh lebih rendah ketimbang orang dewasa. Jadwal pemberian dosis pun menjadi satu hal yang patut diperhatikan.

Perlu dicatat, dosis di atas hanyalah informasi umum. Mengingat pengaruh obat terhadap setiap orang berbeda-beda, tetap disarankan untuk mengonsumsinya sesuai dosis yang diresepkan dokter.

Efek Samping Obat Methylprednisolone

Ilustrasi obat Methylprednisolone. Foto: Unsplash

Dokter tentu sudah memperhitungkan risiko efek samping obat Methylprednisolone. Karena itu, Anda tidak akan mengalami efek samping yang serius apabila mengonsumsinya sesuai dosis. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan munculnya beberapa efek samping berikut:

1. Gula Darah Naik

Mengutip WebMD, Methylprednisolone dapat membuat gula darah naik dan memperburuk diabetes. Segera beri tahu dokter jika mengalami sejumlah gejala diabetes seperti meningkatnya rasa haus dan sering buang air kecil.

Penderita diabetes yang mengonsumsi Methylprednisolone disarankan untuk melakukan pemeriksaan gula darah secara teratur dan menginformasikan hasilnya ke dokter.

2. Imunitas Tubuh Menurun

Meski dapat mengobati peradangan, Methylprednisolone rupanya dapat menurunkan imunitas tubuh. Hal ini menyebabkan seseorang lebih mudah terinfeksi penyakit.

Beberapa gejala yang muncul biasanya yaitu sakit tenggorokan yang tidak kunjung hilang, demam, menggigil, batuk, dan bercak putih di mulut.

3. Alergi

Reaksi alergi yang serius terhadap obat Methylprednisolone sebenarnya jarang terjadi. Namun, segera cek ke dokter jika mengalami ruam, gatal/bengkak terutama pada wajah, lidah, atau tenggorokan, pusing parah, dan kesulitan bernapas.

Efek samping Methylprednisolone lainnya yang mungkin muncul antara lain:

  • Mual dan muntah

  • Mulas

  • Sakit kepala

  • Sulit tidur

  • Perubahan nafsu makan

  • Mudah berkeringat

  • Jerawat

  • Kenaikan berat badan yang tidak wajar

  • Perubahan periode menstruasi

  • Nyeri tulang/sendi

  • Mudah memar/berdarah

  • Perubahan mental atau suasana hati

  • Wajah bengkak

  • Penyembuhan luka lambat

  • Detak jantung cepat/lambat/tidak teratur

  • Gangguan penglihatan

  • Pertumbuhan rambut/kulit tidak normal

Apakah Methylprednisolone Bisa Jadi Obat Radang Tenggorokan?

Ilustrasi seseorang yang mengalami radang tenggorokan. Foto: Pexels

Methylprednisolone adalah obat jenis kortikosteroid yang digunakan untuk mengurangi peradangan dan gejala yang ditimbulkan. Obat ini sering diresepkan untuk berbagai kondisi, termasuk penyakit radang, alergi, dan masalah autoimun.

Secara umum, obat Methylprednisolone hanya digunakan untuk meredakan rasa sakit dan peradangan. Jadi, pada kondisi radang tenggorokan, obat Methylprednisolone berguna untuk meredakan gejalanya.

Namun, perlu diketahui bahwa penggunaan Methylprednisolone untuk mengobati radang tenggorokan tergantung pada penyebab radang tenggorokan itu sendiri.

Radang tenggorokan dapat disebabkan oleh infeksi virus, infeksi bakteri, alergi, atau iritasi. Jika radang tenggorokan disebabkan oleh infeksi virus, seperti flu dan pilek, penggunaan Methylprednisolone tidak dapat bekerja efektif.

Hal ini karena Methylprednisolone adalah obat antiinflamasi yang berguna untuk menambah hormon steroid dalam tubuh apabila diperlukan. Obat ini tidak dapat mengatasi infeksi virus yang mendasarinya.

Dalam kasus infeksi virus, Methylprednisolone umumnya tidak diresepkan sebagai obat pereda nyeri. Dokter biasanya meresepkan penggunaan obat pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen untuk meredakan gejala radang tenggorokan akibat infeksi virus.

Namun, dalam kasus radang tenggorokan yang disebabkan oleh alergi atau masalah autoimun, Methylprednisolone dapat dipakai sebagai bagian dari pengobatan untuk mengurangi nyeri dan peradangan.

Menurut National Institutes of Health, Methylprednisolone bekerja dengan cara menghambat produksi zat yang menimbulkan peradangan dalam tubuh. Efeknya, obat ini dapat mengurangi nyeri, reaksi alergi, dan pembengkakan.

Perlu diperhatikan, obat Methylprednisolone merupakan golongan obat keras, sehingga penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter. Selain itu, dosis dan durasi penggunaan harus disesuaikan dengan kondisi individu.

Aturan Pakai Methylprednisolone untuk Nyeri Radang Tenggorokan

Ilustrasi konsumsi obat Methylprednisolone harus sesuai anjuran dokter. Foto: Pexels

Methylprednisolone biasanya diresepkan dokter dalam bentuk tablet yang ditelan lewat mulut. Obat ini sebaiknya dikonsumsi sesudah makan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.

Menurut MedlinePlus, dosis Methylprednisolone untuk radang tenggorokan bisa berbeda untuk setiap pasien tergantung dari penyebab yang mendasarinya. Dokter akan menentukan dosis sesuai dengan kondisi pasien.

Sebagai golongan obat keras, penggunaan Methylprednisolone harus sesuai petunjuk dokter. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi obat ini, yaitu:

  • Konsumsi Methylprednisolone harus sesuai dengan anjuran dokter dan informasi yang tertera pada kemasan obat. Penggunaannya tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.

  • Methylprednisolone tidak boleh digunakan pada pasien yang alergi terhadap kandungan obat.

  • Methylprednisolone dapat dikonsumsi sesudah makan untuk menghindari masalah pencernaan.

  • Jika Anda melewatkan satu dosis, jangan menggandakan dosis pada waktu berikutnya. Minum dosis yang terlewat segera setelah Anda ingat, kecuali jika sudah mendekati waktu dosis berikutnya.

  • Methylprednisolone umumnya tidak dianjurkan untuk digunakan dalam jangka waktu panjang karena dapat menyebabkan efek samping yang serius, seperti gangguan kelenjar adrenal.

  • Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba. Berhenti menggunakan Methylprednisolone secara tiba-tiba dapat menyebabkan efek samping tertentu.

Selain itu, jangan mengonsumsi obat Methylprednisolone apabila memiliki kondisi berikut:

  • Hipersensitif terhadap kandungan obat.

  • Pasien yang memiliki luka pada dinding lambung atau usus 12 jari.

  • Pasien yang memiliki penyakit infeksi jamur, infeksi bakteri, atau infeksi virus seperti herpes karena berisiko meningkatkan infeksi.

  • Pasien yang menderita penyakit tukak lambung, katarak, gagal jantung, dan penyakit liver.

  • Pasien yang menderita gangguan mental, seperti depresi.

  • Pasien yang menderita tuberkulosis, diabetes melitus, dan penderita osteoporosis berat.

  • Pasien yang menderita gangguan ginjal dan fungsi hati yang berat.

  • Ibu hamil dan menyusui.

Patuhi penggunaan obat sesuai anjuran dokter. Sebab, penyalahgunaan obat ini dapat mengakibatkan komplikasi serius, seperti anafilaksis (syok akibat reaksi alergi yang berat), peningkatan infeksi, dan hipertensi intrakranial idiopatik.

Cara Menggunakan Methylprednisolone untuk Nyeri Radang Tenggorokan

Ilustrasi penggunaan obat Methylprednisolone harus sesuai anjuran dosis. Foto: Pexels

Untuk mengatasi nyeri radang tenggorokan, berikut adalah cara penggunaan Methylprednisolone yang perlu diperhatikan:

  • Patuhi dosis yang diresepkan oleh dokter. Jangan mengubah dosis atau menghentikan penggunaan obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

  • Minumlah obat Methylprednisolone dengan menggunakan air. Anda dapat meminumnya dengan atau tanpa makanan, tergantung instruksi dokter. Obat ini disarankan untuk diminum setelah makan untuk mengurangi risiko sakit perut.

  • Biasanya, obat ini paling baik diminum di pagi hari saat sarapan. Namun, pastikan untuk mengikuti petunjuk dosis yang telah diberikan oleh dokter.

  • Jika Anda lupa mengonsumsi satu dosis obat, minum dosis yang terlewat sesegera mungkin setelah Anda ingat. Namun, jika sudah mendekati waktu dosis berikutnya, lewati dosis yang terlewat dan kembali ke jadwal dosis yang biasa.

Selalu sampaikan kepada dokter tentang semua obat atau suplemen yang dikonsumsi serta masalah kesehatan yang Anda miliki sebelum menggunakan Methylprednisolone. Hal tersebut penting untuk memastikan bahwa obat ini aman dikonsumsi dengan kondisi Anda.

Apa Saja Merek Obat Methylprednisolone yang Tersedia di Indonesia?

Ilustrasi obat-obatan dari berbagai merek. Foto: Pexels

Sebagai golongan obat keras, Methylprednisolone tersedia di apotek dengan resep dokter. Berikut adalah merek obat Methylprednisolone yang tersedia di Indonesia.

  • Xilon

  • Yalon

  • Cormetison

  • Hexilon

  • Lameson

  • Medrol

  • Toras

  • Medrol

  • Tropidrol

  • Medixon

  • Rhemafar

  • Sanexon

Baca Juga: Rhemafar: Manfaat, Dosis, Aturan Pakai, dan Efek Samping

(ADS & SFR)

Frequently Asked Question Section

Apa efek samping dari obat Methylprednisolone?

chevron-down

Methylprednisolone dapat memicu sejumlah efek samping, seperti gula darah naik, imunitas tubuh menurun, dan alergi.

Methylprednisolone apakah bisa untuk sakit gigi?

chevron-down

Methylprednisolone dapat mengobati sakit gigi yang disebabkan oleh peradangan.

Bagaimana cara kerja obat Methylprednisolone?

chevron-down

Methylprednisolone bekerja dengan cara menghambat produksi zat yang menimbulkan peradangan dalam tubuh. Efeknya, obat ini dapat mengurangi nyeri, reaksi alergi, dan pembengkakan.