Mencari Peluang Bisnis Dari UMKM Jahit

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Jurusan Ilmu Komunikasi
Konten dari Pengguna
22 November 2022 15:26
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Arum Indah Nurani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bu Nur ketika sedang menjahit baju milik pelanggan (sumber : foto sendiri)
zoom-in-whitePerbesar
Bu Nur ketika sedang menjahit baju milik pelanggan (sumber : foto sendiri)
ADVERTISEMENT
Pakaian termasuk ke dalam kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi, oleh karena itu tidak sedikit dari masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai tukang jahit. Ada juga beragam produk jahit-menjahit di antara lain ada jahit baju, jahit tas, jahit sepatu, dan masih banyak lagi. Di antara banyak usaha menengah kecil yang tersebar di Indonesia usaha jahit rumahan ini adalah usaha yang sering dicari oleh kebanyakan orang. Bukan tanpa alasan pekerjaan seperti ini banyak dicari orang, karena kebutuhan pokok berpakaianlah yang harus terpenuhi. Ada banyak macam-macam penjahit di Indonesia seperti, penjahit keliling yang biasanya menggunakan sepeda untuk mencari pelanggan, kemudian ada penjahit yang membuka toko sendiri atau tetap di tempat dan tidak berpindah yang memudahkan pelanggan karena tidak perlu mencarinya secara keliling, ada juga penjahit khusus yang biasa bekerja sama dengan desainer untuk merancang pakaian atau gaun khusus.
ADVERTISEMENT
Seperti narasumber yang saya kenal ini sudah menjalani profesinya sebagai tukang jahit selama 19 tahun lamanya dan bertempat tinggal di Tanggul Angin Asri, Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Memulai usaha sejak tahun 2003, pemiliknya yang bernama Bu Nur menceritakan bahwa dirinya sudah tertarik pada bidang jahit dan mempunyai bakat menjahit sejak dari kecil. Oleh karena itu, ditahun yang sama beliau memutuskan mengambil kursus jahit untuk lebih mengasah keterampilannya di bidang ini.
Memutuskan untuk memilih membuka UMKM jahit di rumah bukanlah tanpa alasan, dipilihnya rumah karena merasa lebih nyaman untuk mengerjakannya, di samping itu bisa melakukan pekerjaan rumah yang lain. Kalau jahit di luar atau berkeliling menurut beliau susah apalagi belum membawa mesin jahit beserta peralatannya, belum lagi jika cuaca sedang turun hujan pasti kewalahan karena alat-alatnya akan basah terkena air hujan.
ADVERTISEMENT
Untuk penghasilan per harinya sekitar Rp 50 ribu s/d Rp 100 ribu itu pun tidak tentu. Ini artinya dengan omzet penghasilan yang tidak menentu, mau tidak mau Bu Nur harus bisa mengelola keuangannya untuk kehidupan sehari-hari. Kadang jika usaha jahitnya sepi hanya mendapat penghasilan yang sedikit tetapi beliau tetap bersyukur dengan apa yang diperolehnya. Tetapi jika sedang ramai bisa mencapai Rp 1 juta s/d Rp 1,5 juta perbulan. Biasanya pelanggan akan ramai berkunjung untuk menjahitkan seragam sekolah yang baru ketika menjelang pergantian tahun ajaran untuk jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA/SMK.
Namun, semenjak adanya virus Covid-19 yang masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020 yang lalu dan ditetapkannya Covid-19 sebagai bencana nasional membuat banyak masyarakat, para pedagang, instansi, sektor ekonomi hingga pendidikan terkena imbasnya dan mengalami kerugian, hal tersebut juga sangat berdampak bagi UMKM jahit rumahan milik Bu Nur. Menurut keterangan beliau, pada saat awal terjadinya pandemi pemasukan dari hasil jahitnya sangatlah berkurang drastis, pernah juga dalam sehari tidak mendapat penghasilan sama sekali karena sepi, tidak ada orang yang menjahitkan baju dan tidak ada yang memakai jasanya. Bahkan, biasanya pada tahun ajaran baru banyak anak sekolah yang berganti seragam dan sering menjahitkannya pada Bu Nur kini sepi karena sekolah pun terkena dampaknya yang mengharuskan anak-anak belajar dari rumah.
ADVERTISEMENT
Dua tahun sudah berlalu dan sempat terpuruk karena pandemi, kini usaha jahit miliknya kembali bangkit dan ramai pelanggan seperti sedia kala. Itulah sepenggal kisah perjuangan mencari peluang bisnis dari seorang yang berprofesi sebagai tukang jahit rumahan. Yang namanya orang membuka suatu usaha tidaklah mungkin tidak mempunyai hambatan, karena hambatan itu pasti ada. Sama halnya yang dialami Bu Nur, terkadang banyak orang yang membutuhkan jasanya, terkadang juga bahkan sepi dan tidak laku. Intinya adalah jika kalian sedang membuka suatu usaha, janganlah menyerah pada keadaan dan tetap semangat dalam menjalani suatu pekerjaan tersebut, serta jangan lupa selalu bersyukur.
Sumber : Wawancara langsung dengan narasumber (Bu Nur)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020