Apakah Seorang Penjahat Itu Diciptakan?! Ini Jawaban Sosiologisnya

Mahasiswa S1 pendidikan sosiologi universitas negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Arum Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi pencinta drama kriminal, serial Mindhunter menawarkan ketegangan yang berbeda. Alih-alih menyajikan aksi kejar-kejaran mobil atau baku tembak yang menegangkan, serial ini justru membawa kita masuk ke dalam ruang interogasi yang dingin. Di sana, agen FBI Holden Ford dan Bill Tench mengobrol santai dengan para pembunuh berantai paling kejam dalam sejarah Amerika. Menariknya, fokus utama mereka bukan lagi mencari tahu siapa pelakunya, melainkan membedah mengapa mereka melakukannya.
Melalui perjalanan emosional dan intelektual para karakternya, Mindhunter secara tidak langsung menepis mitos kuno bahwa seorang penjahat terlahir dengan gen jahat. Sebaliknya, serial ini menjadi panggung virtual yang sempurna untuk membuktikan sebuah premis sosiologis bahwa penjahat tidak dilahirkan, melainkan dibentuk dan diciptakan oleh struktur masyarakat di sekitarnya.
Ketika Teori Lama Patah di Ruang Interogasi
Pada abad ke-19, seorang kriminolog bernama Cesare Lombroso sempat mencetuskan teori bahwa bakat penjahat bisa dilihat dari fisik seseorang, seperti bentuk rahang yang maju atau dahi yang pesek. Namun, saat Holden Ford duduk berhadapan dengan Ed Kemper, pembunuh berantai bertubuh raksasa yang sangat sopan dan ber-IQ tinggi, teori biologis semacam itu langsung runtuh. Ed Kemper tidak terlihat seperti monster tradisional karena ia adalah produk dari lingkungan sosial yang rusak.
Dalam sosiologi, fenomena ini sejalan dengan Teori Konstruksi Sosial yang dipopulerkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Teori ini menyatakan bahwa realitas dan perilaku manusia dibentuk melalui interaksi sosial dengan lingkungannya. Karakter para pembunuh di Mindhunter tidak muncul dari ruang hampa. Mereka adalah hasil akhir dari akumulasi trauma, penolakan, dan disfungsi institusi terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga.
Rumah yang Gagal Menjadi Komunitas Pertama
Hampir semua pembunuh yang diwawancarai dalam Mindhunter memiliki kesamaan, yaitu masa kecil yang hancur akibat kekerasan domestik, penolakan orang tua, atau pengabaian emosional. Ed Kemper misalnya, ia mengalami pelecehan psikologis yang luar biasa dari ibunya yang abusif.
Secara sosiologis, keluarga adalah agen sosialisasi primer atau tempat pertama di mana seorang anak belajar tentang nilai, norma, dan empati. Ketika agen primer ini gagal total menjalankan fungsinya, anak akan mengalami kegagalan dalam menginternalisasi nilai-nilai kemanusiaan. Akibatnya, terjadi distorsi moral di mana kekerasan dianggap sebagai respon normal atas rasa sakit yang mereka terima dari dunia luar.
Efek Domino dari Labeling Masyarakat
Aspek sosiologi lain yang digambarkan dengan sangat apik dalam serial ini adalah Teori Labeling atau Labeling Theory dari Howard S. Becker. Teori ini menjelaskan bahwa ketika seseorang terus-menerus diberi cap atau label negatif oleh masyarakat, seperti anak aneh, produk gagal, atau sampah masyarakat, orang tersebut lama-kelamaan akan mengadopsi label itu sebagai identitas utamanya.
Banyak penjahat di Mindhunter awalnya adalah individu yang terisolasi karena dicap berbeda oleh sekolah, tetangga, atau lingkaran pertemanan mereka. Ketika masyarakat menutup pintu bagi mereka untuk berintegrasi secara normal, mereka mencari validasi dengan cara yang menyimpang. Tindakan kriminal ekstrem yang mereka lakukan pada akhirnya adalah bentuk perlawanan, sekaligus pembuktian atas label buruk yang telah disematkan masyarakat kepada mereka sejak kecil.
Menatap Cermin Sosial dari MindHunter
Pada akhirnya, Mindhunter bukan sekadar tontonan tentang bagaimana cara profil psikologis bekerja di kepolisian. Serial ini adalah sebuah cermin sosial yang besar bagi kita semua karena memaksa kita untuk melihat bahwa kejahatan luar biasa sering kali berakar dari pengabaian-pengabaian kecil yang terjadi di sekitar kita.
Memahami bahwa penjahat diciptakan oleh lingkungan bukan berarti kita memaklumi atau memaafkan tindakan keji mereka. Justru sebaliknya, dengan kacamata sosiologi, kita disadarkan bahwa untuk memutus rantai kriminalitas, yang harus diperbaiki bukan cuma sistem hukumannya, melainkan kesehatan struktur sosial kita. Hal ini dimulai dari keharmonisan keluarga, kepekaan lingkungan tetangga, hingga hilangnya stigma negatif di masyarakat. Sebab, masyarakat yang sehat tidak akan memberi ruang bagi lahirnya seorang monster.
