Membedah Rhaenyra Targaryen dalam Cermin Patriarki dan Tragedi Gender

Mahasiswa S1 pendidikan sosiologi universitas negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Arum Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi pencinta mahakarya fantasi House of the Dragon, nama Rhaenyra Targaryen bukan sekadar sosok putri berambut perak yang menunggangi naga Syrax. Lebih dari itu, Rhaenyra adalah sebuah panggung tragedi. Di bawah kemegahan kastil Red Keep dan kibaran panji naga berkepala tiga, perjalanannya menuju Iron Throne adalah kisah klasik tentang bagaimana sebuah sistem sosial bereaksi ketika seorang perempuan berani mengklaim takhta tertinggi.
Jika kita menanggalkan gaun-gaun mewahnya dan menyisihkan kobaran api naga, Rhaenyra sebenarnya tidak sedang bertarung di dunia fiksi semata. Ia sedang melintasi ranjau-ranjau patriarki yang secara mengejutkan masih sangat akrab dengan realitas perempuan di dunia nyata hari ini.
Glass Ceiling yang Dilapisi Baja dan Bias Legitimasi
Dalam kajian sosiologi gender, kita mengenal istilah glass ceiling sebuah sekat tak kasat mata yang menghalangi perempuan untuk mencapai puncak kekuasaan. Di Westeros, sekat itu bukan lagi terbuat dari kaca, melainkan dilapisi baja dan doktrin tradisi ratusan tahun.
Rhaenyra adalah pewaris sah yang ditunjuk langsung oleh King Viserys I dan telah disumpah oleh seluruh bangsawan Kerajaan. Namun, di mata Small Council dan struktur patriarki Westeros, seluruh kapasitas, kecerdasan, dan hak konstitusional Rhaenyra mendadak gugur hanya karena satu hal, kehadirannya sebagai seorang perempuan.
Sosiolog Max Weber pernah menyebutkan tentang legitimate authority (otoritas yang sah). Tragisnya, dalam sistem yang sarat bias gender, otoritas perempuan sering kali dianggap "cacat bawaan". Aegon II adik laki-lakinya yang tidak kompeten dan enggan memimpin dengan mudah mendapatkan legitimasi hanya karena ia terlahir membawa organ maskulin. Di sini kita melihat betapa struktur sosial kerap lebih memilih kegagalan yang maskulin daripada keberhasilan yang feminim.
The Internalized Patriarchy: Rhaenyra vs Alicent Hightower
Salah satu aspek paling mendalam dari dinamika Rhaenyra adalah hubungannya dengan Alicent Hightower. Keduanya adalah korban dari sistem yang sama, namun meresponsnya dengan cara yang bertentangan.
Alicent mewakili internalized patriarchy (patriarki yang terinternalisasi). Ia mematuhi seluruh aturan main pria, yaitu menjadi istri yang penurut, melahirkan anak laki-laki, dan mengorbankan masa mudanya demi norma sosial. Ketika melihat Rhaenyra mendobrak aturan-aturan itu, Alicent merasa terancam dan mendendam. Ada narasi implisit di dalam serial. "Jika aku harus menderita demi mematuhi aturan ini, mengapa kamu boleh bebas?"
Rhaenyra, di sisi lain, memilih otonomi atas tubuh dan jalan hidupnya. Ia menolak dijadikan sekadar baby machine dan delegasi politik.
Sosiologi gender membedah fenomena ini sebagai cara patriarki bertahan hidup, yaitu dengan mengadu domba sesama perempuan. Patriarki memberi penghargaan pada perempuan yang seolah olah penurut (seperti Alicent) untuk dijadikan senjata dalam menundukkan perempuan yang gemar membangkang (seperti Rhaenyra).
Double Bind, dibalik Mitos Kebijaksanaan dan Stigma Histeria
Sebagai calon pemimipim perempuan pertama, Rhaenyra terjebak dalam dilema klasik yang disebut Double Bind (jebakan ganda):
Ketika ia bersikap tenang, menahan diri, dan mengupayakan diplomasi demi meminimalisasi pertumpahan darah, dewannya menganggapnya ragu-ragu, lemah, dan emosional. Namun, begitu ia menunjukkan taringnya dan bertindak tegas sebagai seorang pimpinan waris Targaryen, narasi publik dengan cepat melabelinya sebagai sosok yang kejam, gila kuasa, atau histeris.
Pria yang bertindak keras dianggap memiliki firm leadership (kepemimpinan yang tegas), sementara perempuan yang melakukan hal persis sama dicap unstable (tidak stabil). Beban ganda ini memaksa Rhaenyra berjalan di atas seutas tali tipis, ia harus membuktikan dirinya cukup kuat untuk memimpin, tetapi tidak boleh terlalu kuat hingga menakuti ego para pria di sekelilingnya.
Otonomi Tubuh dan Senjata Labeling
Satu hal yang paling radikal dari sosok Rhaenyra adalah keberaniannya mengambil kontrol penuh atas tubuh, keinginan, dan takdir reproduksinya. Di tengah masyarakat yang memandang rahim perempuan sebagai komoditas politik, pilihan cinta dan hidup Rhaenyra adalah bentuk perlawanan paling nyata.
Namun, masyarakat selalu punya cara untuk menghukum perempuan yang merdeka. Melalui Teori Labeling (Howard Becker), kita melihat bagaimana sosiologi menjelaskan senjata stigma. Rhaenyra dihujani cap buruk terkait moralitasnya, sementara anak-anaknya diberi label bastards (anak haram) untuk menghancurkan legitimasi politiknya.
Menariknya, pelanggaran moral serupa yang dilakukan oleh para pria di Westeros dianggap sebagai hal biasa, bahkan dimaklumi. Moralitas, pada akhirnya, kerap dijadikan alat kontrol politik yang selektif untuk menjatuhkan perempuan di tampuk kekuasaan.
Menatap Dibalik Cermin Westeros
Pada akhirnya, tragedi Rhaenyra Targaryen bukan cuma tentang siapa yang berhak duduk di atas kursi besi berselimut pedang. Rhaenyra adalah cermin besar yang dipasang di hadapan kita semua. Ia memperlihatkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar oleh seorang perempuan ketika ia berani bermimpi dan menuntut hak yang sama di dalam ruang-ruang kekuasaan.
Runtuhnya kepemimpinan Rhaenyra bukan disebabkan oleh ketiadaan kapasitas dalam dirinya, melainkan oleh dunia di sekitarnya yang memang tidak pernah dirancang untuk membiarkan seorang perempuan menang.
Kisah ini meninggalkan sebuah pertanyaan puitis namun menohok bagi kita di dunia nyata:
Ketika seorang perempuan berdiri di puncak, apakah kita benar-benar siap untuk mendukungnya, atau kita justru sedang diam-diam menyiapkan bahan bakar untuk membakar takhtanya?
