Konten dari Pengguna

Mengulik 'Valar Morghulis' dan Perjuangan Perempuan Westeros

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arum Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sansa Stark Dalam Serial Game Of Throne Season 8 (2019). Foto: IMDB
zoom-in-whitePerbesar
Sansa Stark Dalam Serial Game Of Throne Season 8 (2019). Foto: IMDB

Bagi penikmat budaya populer, frasa "Valar Morghulis" dari serial fenomena Game of Thrones (GoT) mungkin terdengar seperti mantra mistis yang kelam. Diucapkan dengan nada dingin dan penuh misteri, kalimat berbahasa High Valyrian ini memuat arti yang sangat langsung "All men must die" (Semua manusia pasti mati).

Di permukaan, ucapan ini adalah salam sekaligus kode rahasia dari Faceless Men, sekte pembunuh bayaran paling ditakuti di benua Essos. Namun, jika dibedah lebih dalam, frasa ini menyimpan akar sejarah, filosofi politik, serta pesan pemberontakan yang amat kuat. Uniknya, di tengah dunia fiksi Westeros yang sarat akan kekerasan dan dominasi pria, Valar Morghulis menjelma menjadi alegori tentang kesetaraan dan bahan bakar bagi perjuangan para perempuan untuk merebut kembali takdir mereka.

Asal-Usul 'Valar Morghulis' Lahir dari Neraka Perbudakan

Untuk memahami Bobot moral dari frasa ini, kita harus mundur ribuan tahun sebelum takhta Iron Thronediperebutkan, tepatnya ke masa kejayaan kekaisaran Valyria (Valyrian Freehold).

Kekaisaran Valyria dibangun di atas dua hal, sihir naga dan perbudakan massal. Di bawah gunung-gunung berapi raksasa yang disebut Fourteen Flames, ratusan ribu budak dari berbagai penjuru dunia dipaksa menggali bijih besi dan emas. Mereka bekerja dalam kondisi ekstrem terpapar panas vulkanik, hirupan gas beracun, dan siksaan tiada henti dari para bangsawan penunggang naga (dragonlords).

Dalam penderitaan tanpa akhir itu, para budak menyadari satu hal: doa mereka kepada dewa-dewa lama tidak pernah dijawab. Dari keputusasaan kolektif inilah muncul sebuah pemahaman baru. Mereka menyadari bahwa di balik bermacam-macam wujud dewa yang dipuja manusia, sebenarnya hanya ada satu dewa sejati, Dewa Kematian (The Many-Faced God).

Bagi para budak Valyria, kematian tidak lagi dipandang sebagai kutukan atau hal yang menakutkan. Kematian adalah satu-satunya bentuk pembebasan mutlak dan karunia (the gift) dari penderitaan duniawi. Dari tempat tergelap inilah frasa Valar Morghulis lahir. Frasa ini menjadi pengingat politik dan spiritual paling radikal yaitu, setiap raja, penyiksa, maupun penunggang naga sekuat apa pun, pada akhirnya hanyalah daging dan darah yang akan mati. Kematian menjadi satu-satunya hal yang menyetarakan penguasa dan budak.

Kelak, pendiri Faceless Men melarikan diri bersama para budak dan mendirikan Braavos. Sebuah kota rahasia yang dibangun atas prinsip kebebasan penuh dan penolakan mutlak terhadap perbudakan.

Daenarys Targaryen Dalam Serial Game Of Throne Season 8 (2019). Foto : IMDb

Westeros, Dunia Patriarki dan Perbudakan Tersembunyi Perempuan

Lantas, bagaimana filosofi dari tambang Valyria ini terhubung dengan benua Westeros di mana cerita utama GoT berlangsung?

Westeros adalah masyarakat feodal yang dikuasai oleh sistem patriarki yang sangat kaku. Di sini, perempuan terlepas dari apakah ia lahir sebagai rakyat jelata atau putri raja, sering kali mengalami bentuk perbudakan sosial. Tubuh, masa depan, dan suara mereka sepenuhnya dikontrol oleh pria: ayah, suami, atau raja mereka. Mereka diperlakukan tak ubahnya komoditas politik untuk mengamankan aliansi dan garis keturunan.

Dinamika ini terlihat jelas pada jejak hidup para karakter utamanya:

  • Sansa Stark: Tumbuh sebagai gadis bangsawan yang dididik untuk menjadi istri idaman. Namun, kepolosannya dihancurkan ketika ia dijadikan sandera politik, disiksa secara fisik dan mental, serta dipaksa menikah berkali-kali demi klaim atas wilayah utara (The North).

  • Cersei Lannister: Lahir sebagai anak pertama dari bangsawan terkaya di Westeros, Cersei memiliki kecerdasan dan ambisi politik yang luar biasa. Namun, sepanjang hidupnya ia terus-menerus disingkirkan hanya karena ia terlahir sebagai wanita. Ayahnya terang-terangan menyebut nilai utamanya hanyalah untuk melahirkan ahli waris bagi kerajaan.

  • Brienne of Tarth: Seorang wanita yang memilih jalan hidup sebagai ksatria. Karena menolak peran tradisional perempuan yang harus tampil anggun di istana, Brienne menjadi sasaran ejekan, penghinaan, dan penolakan sosial dari para pria di sekitarnya.

Merekam Kendali, Ketika Perempuan Westeros Memeluk 'Valar Morghulis'

Di tengah struktur sosial yang memenjarakan tersebut, Valar Morghulis bekerja sebagai pemantik kesadaran bagi para perempuan Westeros untuk bangkit dan merebut kembali hak atas diri mereka sendiri.

1. Arya Stark dan Penghancuran Rasa Takut

Arya Stark adalah representasi paling nyata dari filosofi ini. Setelah menyaksikan ayahnya dipenggal dan keluarganya dibantai, Arya kehilangan segalanya. Ketika ia menerima koin besi misterius dan mantra Valar Morghulis dari pembunuh bayaran Jaqen H'ghar, Arya melangkah ke Braavos untuk berguru di House of Black and White.

Di sana, Arya belajar melepaskan identitas lamanya yang terikat oleh aturan sosial bangsawan. Poin terpenting dalam pelatihannya bukan cuma keterampilan bertarung, melainkan pemahaman bahwa para penguasa zalim yang menghancurkan keluarganya bukanlah sosok sakti yang tak tersentuh. Kesadaran bahwa All men must die menghapus rasa takut Arya. Kematian yang selama ini dijadikan alat intimidasi oleh pria-pria berkuasa, berbalik menjadi senjata di tangan Arya untuk menuntut keadilan.

2. Daenerys Targaryen dan Demolisi Rantai Penindasan

Meski tumbuh di benua Essos, Daenerys mengawali hidupnya sebagai korban patriarki ia dijual oleh kakak kandungnya sendiri kepada pemimpin suku barbar demi menukar tentara. Namun, dari titik terendah itu, Daenerys bangkit dan bertransformasi menjadi Breaker of Chains (Pembebas Rantai).

Daenerys menyerap esensi dari Valar Morghulis, bahwa tidak ada manusia yang berhak bertindak sebagai dewa atas manusia lainnya. Kesadaran ini mendasari keputusannya untuk menghancurkan kota-kota perbudakan seperti Astapor, Yunkai, dan Meereen, serta memberi kebebasan bagi ribuan orang yang tertindas.

3. Sansa dan Cersei, Bertahan Hidup di Atas Puing Patriarki

Bagi Sansa Stark, proses belajar terjadi melalui trauma. Dari figur yang pasif, Sansa bertransformasi menjadi pengatur strategi yang dingin. Ia menyadari bahwa di Westeros, jika seorang perempuan tidak mengambil kekuasaan untuk dirinya sendiri, ia akan selamanya dijadikan alat. Di sisi lain, Cersei Lannister menggunakan pemahaman akan mortalitas untuk menduduki takhta tertinggi Iron Throne, menolak untuk kembali menjadi bidak dalam permainan pria.

Pelajaran untuk Perjuangan di Dunia Nyata

Meskipun Game of Thrones berada di alam fiksi yang dipenuhi naga dan sihir, subteks yang dibawa oleh Valar Morghulis sangat relevan dengan realitas perjuangan gender hari ini.

Dalam tradisi ceritanya, ucapan Valar Morghulis selalu direspon dengan kalimat lawan yaitu "Valar Dohaeris", yang berarti "All men must serve" (Semua manusia harus melayani).

Jika digabungkan, kedua frasa ini menyampaikan pesan filosofis yang amat dalam bagi perempuan masa kini:

  1. Kesetaraan Radikal: Di hadapan waktu, mortalitas, dan hukum alam, tidak ada hierarki gender, kelas sosial, atau jabatan yang membuat seseorang lebih tinggi dari yang lain. Sistem penindasan sekuat apa pun kelihatannya dibuat oleh manusia dan bisa diruntuhkan oleh manusia.

  2. Kedaulatan atas Diri: Valar Dohaeris (semua harus melayani) bukan berarti kita harus menjadi hamba dari sistem sosial yang diskriminatif, ekspektasi masyarakat yang mengekang, atau standar ganda yang merugikan. Sebaliknya, kita melayani tujuan hidup, prinsip, dan kedaulatan yang kita tentukan sendiri.

Pada akhirnya, Valar Morghulis bukan lagi sekadar slogan tentang keputusasaan menghadapi kematian. Frasa ini adalah panggilan untuk bersikap berani. Jika waktu dan kesempatan hidup ini terbatas, maka tidak ada alasan bagi perempuan untuk hidup dalam bayang-bayang ketakutan atau membiarkan orang lain memegang kendali atas takdirnya.