Konten dari Pengguna

Kebidanan Magelang Gandeng Keluarga Demi Remaja Sehat

Arum Lusiana

Arum Lusiana

Dosen Prodi Kebidanan Magelang, Poltekkes Kemenkes Semarang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arum Lusiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tantangan kesehatan remaja di Indonesia semakin kompleks. Remaja berada pada masa transisi penuh dinamika: mereka ingin mandiri, tetapi masih rentan dipengaruhi lingkungan. Arus informasi digital yang sulit dibendung, meningkatnya risiko pergaulan bebas, hingga minimnya komunikasi antara orang tua dan anak membuat persoalan kesehatan reproduksi, pernikahan dini, hingga kesehatan mental kian nyata.

Dalam situasi ini, hadirnya Bina Keluarga Remaja (BKR) di Desa Kalijoso, Magelang, bukan sekadar kegiatan pengabdian masyarakat, melainkan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan keluarga. Program ini diinisiasi oleh Program Studi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang bersama mahasiswa, yang melihat urgensi dukungan nyata bagi keluarga agar lebih siap mendampingi anak remajanya.

Mengapa Peran Keluarga Penting?

Remaja sering kali lebih dekat dengan teman sebaya dibanding orang tua. Namun, penelitian menunjukkan bahwa keluarga tetap menjadi benteng utama dalam mencegah perilaku berisiko. Sayangnya, banyak orang tua masih merasa tabu atau canggung membicarakan topik kesehatan reproduksi, narkoba, atau seksualitas dengan anaknya. Kondisi ini memperlebar jurang komunikasi dan membuat remaja mencari jawaban di luar, yang tidak selalu tepat.

Melalui BKR, keluarga difasilitasi untuk saling berbagi pengalaman, belajar komunikasi yang lebih terbuka, dan mendapatkan informasi ilmiah dari tenaga akademisi. Dengan begitu, orang tua memiliki keterampilan baru untuk membimbing anak, bukan hanya memberi larangan.

Kampus sebagai Motor Perubahan Sosial

Keterlibatan Prodi Kebidanan Magelang menunjukkan bagaimana kampus dapat berperan sebagai agen perubahan. Akademisi dan mahasiswa tidak hanya mentransfer teori, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat. Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi pembelajaran sosial yang sangat berharga—mereka menyaksikan bagaimana teori tentang kesehatan remaja berhadapan dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini juga memperlihatkan model kolaborasi: akademisi memberikan pengetahuan, mahasiswa menggerakkan energi muda, dan keluarga menjadi pelaku utama perubahan. Kombinasi inilah yang membuat program BKR lebih berpeluang bertahan dan memberi dampak jangka panjang.

Dampak Jangka Panjang BKR

Jika berjalan konsisten, BKR tidak hanya membantu satu generasi remaja di Desa Kalijoso. Lebih jauh, ia bisa menjadi model yang direplikasi di desa lain. Bayangkan ketika banyak desa memiliki wadah keluarga yang kuat mendampingi remaja—maka angka pernikahan dini bisa ditekan, risiko kehamilan tidak diinginkan berkurang, dan remaja memiliki kepercayaan diri lebih baik.

Dampak ini bukan sekadar statistik kesehatan, melainkan investasi sosial untuk masa depan bangsa. Remaja yang sehat, cerdas, dan berkarakter akan tumbuh menjadi generasi produktif yang mampu berkontribusi bagi pembangunan.

Pesan Utama

Inisiatif BKR di Desa Kalijoso menyampaikan pesan sederhana namun mendasar: menjaga kesehatan remaja bukan sekadar tanggung jawab tenaga medis atau sekolah. Ia adalah tanggung jawab bersama, terutama keluarga. Dengan dukungan akademisi dan komunitas, keluarga bisa menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi sehat dan berkarakter.