Konten dari Pengguna

Anak Zaman Sekarang Lebih Kenal HP Daripada Congklak, Harus Bagaimana?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arviah Damawiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustri anak bermain permainan tradisional engklek, congklak, dan lompat tali di halaman sekolah (Dok. Pribadi / Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustri anak bermain permainan tradisional engklek, congklak, dan lompat tali di halaman sekolah (Dok. Pribadi / Ilustrasi AI)

Di era HP dan game online, anak-anak lebih sering bermain lewat layar dari pada berkumpul di halaman rumah. Perubahan ini memang memudahkan, tapi muncul pertanyaan, apakah permainan tradisional masih relevan?

Padahal permainan seperti lompat tali, congklak, engklek, petak umpet, dan bentengan bukan hanya hiburan. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, kejujuran, dan saling menghargai.

Dulu anak-anak sore-sore sudah ramai di lapangan. Sekarang, tidak sedikit yang lebih memilih gadget untuk main game atau nonton video. Teknologi tidak sepenuhnya negatif, ia membantu belajar. Yang penting adalah keseimbangan.

Kelebihan permainan tradisional adalah interaksi tatap muka. Saat main petak umpet, anak belajar giliran dan aturan. Saat main bentengan, belajar kerja sama tim. Congklak melatih kesabaran dan berhitung, lompat tali melatih fisik dan kebersamaan.

Lalu apa peran sekolah?

Pertama, kenalkan lewat pelajaran IPS. Ceritakan asal-usul dan nilai budayanya.

Kedua, buat hari khusus permainan tradisional, misalnya Jumat Tradisional.

Ketiga, dorong kerja sama antar siswa dalam kelompok.

Keempat, libatkan keluarga untuk cerita dan main bersama.

Kelima, manfaatkan teknologi. Ajak siswa buat video pendek tentang cara main tradisional.

Melestarikan permainan tradisional adalah tanggung jawab bersama. Anak tidak harus dilarang main HP total, tapi dibimbing membagi waktu.