Konten dari Pengguna

Pendidikan Mitigasi Karhutla

Arvian Yuli Artha

Arvian Yuli Artha

S-1 IKIP PGRI Semarang (2003), S-2 Universitas Palangkaraya(2022), PNS BPBD Kabupaten Seruyan, Sekretaris Umum PGRI Kabupaten Seruyan, Anggota Bidang Pendidikan ICMI ORDA Seruyan, Pendiri Komunitas Peduli Literasi (KOMPLIT).

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arvian Yuli Artha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu kekayaan alam yang dimiliki Indonesia adalah flora. Flora Indonesia yang berupa hutan, telah menjadikan Indonesia sebagai penyumbang oksigen. Namun predikat penyumbang oksigen akan dirasa menurun, jika hutan sudah dirusak atau dialih fungsikan oleh manusia itu sendiri yang sudah tidak memiliki rasa tanggung jawab untuk melestarikannya. Disamping hutan menjadi produksi oksigen, juga sebagai tempat hidup bagi makhluk hidup lainnya. Dimana kesemuanya dapat menjadi satu ekosistem yang saling bersimbiosis. Menjaga kelestarian hutan, merupakan tanggung jawab bersama. Karena apabila hutannya terjaga dan lestari maka membawa dampak positif adanya kesejahteraan bagi masyarakat. Sebagaimana pernyataan yang disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI TA Khalid bahwa kelestarian hutan akan membawa kesejahteraan bagi hidup banyak orang. "Bahwa masyarakat sejahtera hutan terjaga, kalau masyarakat tidak sejahtera jangan mimpi hutan itu terjaga."

Foto : Kebakaran hutan
zoom-in-whitePerbesar
Foto : Kebakaran hutan

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2021 tutupan hutan di Indonesia seluas 101,22 juta hektare (ha). Tutupan hutan tersebut mencapai 52,80% dari total luas daratan Indonesia yang mencapai 191,69 juta hektare (ha). Dimana tutupan hutan paling luas berada di wilayah Papua sekitar 32,88 juta ha pada tahun 2021. Angka tersebut 77,91% dari total luas daratan pulaunya. Berikut tujuh wilayah yang memiliki tutupan hutan yang masih luas dari luas daratan pulaunya pada tahun 2021.

Sumber : Badan Pusat Statistik. Foto: Databoks

Hektaran hutan yang dimiliki bangsa ini ternyata sebagian telah dialih fungsikan yang perlakuan pembukaannya dengan cara ditebang dan dibakar. Pembukaan hutan dengan cara membakar ternyata telah memberikan dampak negatif bagi kehidupan seluruh makhluk hidup di bumi ini. Bahkan dampak negatif tersebut juga meluas dalam berbagai bidang, baik dari bidang transportasi sampai dengan bidang pendidikan. Sehingga disinyalir Indonesia telah menjadi penyumbang asap ke negara-negara tetangga.

Foto Penanganan Pemadaman Karhutla BPBD Kabupaten Seruyan Provinsi Kalimantan Tengah

Pendidikan Mitigasi Karhutla

Memang pembukaan hutan dengan cara membakar ditinjau dari biaya pembukaannya sangat murah, namun dampak yang dirasakan bagi kehidupan sangatlah besar. Dampak langsung yang dirasakan akibat dari kabut asap pada kehidupan adanya gangguan saluran pernapasan, terganggunya jarak pandang pada moda transportasi darat, laut maupun udara sampai dengan rusaknya ekosistem yang ada didalamnya.

Foto CNN Indonesia Kabut asap tebal mengganggu pelajar sekolah

Kabut asap dampak dari adanya Karhutla

Untuk mengurangi dampak negatif adanya bencana kabut asap yang disebabkan pembukaan hutan dengan cara membakar, maka diperlukan tindakan-tindakan yang dimulai pendekatan secara persuasif sampai dengan pendekatan pemberian reward maupun punishment. Sejauh ini pun upaya untuk mengurangi dampak akibat dari kabut asap sudah dilakukan seperti kampanye papan himbauan adanya larangan membakar hutan dan lahan, melakukan patroli sekaligus pemberian penyuluhan ke masyarakat dan perusahaan. Namun upaya tersebut masih belum menyadarkan para pelaku yang tidak bertanggung jawab dalam melakukan pembukaan hutan dan lahan dengan cara membakar. Bahkan tiap tahun bencana kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di saat kemarau.

Penanganan Pemadaman Firespot water bombing dari udara
Pos Komando Satuan Tugas Terpadu Karhutla

Untuk mengubah mindset generasi old rasanya gampang-gampang susah karena tidak semua generasi old memahami dampak terburuk dari akibat pembukaan lahan dengan cara membakar. Hal ini dipengaruhi dari latar belakang pendidikan generasi old. Kemudian bagaimana caranya? menurut hemat saya, untuk sementara mengubah mindset generasi old kita tinggalkan dulu, namun kita perlu adanya cut generation (memotong generasi), artinya kita perlu melakukan pendekatan dan edukasi terhadap generasi Z. Generasi Z inilah perlu diberikan pemahaman dan edukasi tentang dampak terburuk dari yang namanya karhutla. Generasi Z inipun juga perlu kita beri pelatihan dan bimbingan melalui lembaga sekolah bagaimana cara mengelola lingkungan yang ramah lingkungan tanpa polusi. Apakah cara mengelola lingkungan itu perlu dimasukkan dalam kurikulum? saya rasa tidak perlu, karena memberikan pelatihan dan bimbingan pengelolaan lingkungan yang ramah dari polusi bisa diberikan saat generasi Z mengikuti ekstrakurikuler maupun kokurikuler di lembaga sekolah. Bahkan bisa jadi lembaga sekolah memiliki program yang kegiatannya mengajak warga sekolah untuk selalu mencintai lingkungan.

Bahkan saat ini ada beberapa sekolah yang sudah menjadi duta Adi Wiyata. Dimana program Adiwiyata tersebut perlu dikembangkan, karena program kegiatan Adiwiyata ini sangat mengedukasi warga sekolah untuk selalu memelihara dan mencintai lingkungan. Serta memberikan edukasi bagaimana menciptakan lingkungan yang nyaman, aman dan sehat bagi warga sekolah. Sehingga dengan begitu generasi Z sudah terbiasa dan dapat diterapkan pada lingkungan masing-masing dengan memanfaatkan pekarangan di sekitar rumahnya untuk bertanam, maupun dalam pembuatan pupuk. Disamping itu generasi Z juga dapat memberikan edukasi terhadap keluarga dekatnya, disaat generasi Z berkumpul dalam suasana santai dengan keluarganya.