Dari Tolak Bala Jadi Magnet Wisata: Menyaksikan Robo-Robo di Sungai Kakap

Mahasiswi S1 Pariwisata (UGM) - SMA N 1 Pontianak
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Arwina Nurul Lailiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi sebagian masyarakat Kalimantan Barat, Rabu terakhir di bulan Safar bukanlah hari biasa. Ada satu tradisi yang selalu hadir dan diwariskan dari generasi ke generasi: Robo-Robo.
Tradisi ini dikenal sebagai ritual tolak bala yang diisi dengan doa bersama untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari musibah. Robo-Robo juga tidak lepas dari sejarah kedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah pada 1737. Dalam perkembangannya, tradisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu dan Bugis di Kalimantan Barat, termasuk masyarakat pesisir di Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
Namun, siapa sangka tradisi yang awalnya lekat dengan nilai spiritual tersebut kini perlahan memiliki wajah baru?
Robo-Robo Sungai Kakap: Dari Tradisi hingga Wisata Budaya
Pada Rabu, 12 Agustus 2026, saya berkesempatan datang langsung ke kawasan Pasar Sungai Kakap untuk melihat perayaan Robo-Robo. Dari pagi, kawasan ini sudah dipenuhi masyarakat yang datang untuk mengikuti sekaligus menyaksikan rangkaian kegiatan.
Yang saya lihat bukan hanya sebuah ritual tahunan.
Saya melihat sebuah tradisi yang sedang berkembang.
Dari Doa Bersama hingga Pesta Budaya
Suasana semakin ramai ketika rombongan Bupati Kubu Raya, Sujiwo, tiba di lokasi. Kedatangannya disambut dengan berbagai pertunjukan, mulai dari hadrah, drumben, barongsai, hingga palang pintu yang ditampilkan Perguruan Pukul Tujuh Silat Kampung.
Berbagai pertunjukan tari juga ikut menghidupkan suasana.
Di tengah keramaian tersebut, saya melihat masyarakat dari berbagai latar belakang ikut menikmati rangkaian acara. Ada yang datang untuk mengikuti tradisi, ada yang menikmati pertunjukan, dan ada pula yang sekadar ingin merasakan suasana Robo-Robo secara langsung.
Hal ini menjadi salah satu hal yang menurut saya menarik.
Robo-Robo tidak lagi hanya menjadi perayaan yang identik dengan kelompok masyarakat tertentu. Di Sungai Kakap, tradisi ini berkembang menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat.
Bahkan, Anggota Komisi V DPR RI Syarif Abdullah Alkadrie menilai Robo-Robo kini menjadi ruang sinergi berbagai budaya dan etnis di Sungai Kakap.
Ketika Tradisi Mulai Dikemas Lebih Modern
Ada perubahan yang cukup terasa dalam penyelenggaraan Robo-Robo tahun ini.
Pemerintah Kabupaten Kubu Raya melakukan penataan kawasan agar kegiatan berlangsung lebih tertib, nyaman, dan aman. Pelaku UMKM juga mendapatkan tenda secara gratis, sementara lapak kuliner dan lelong ditata agar kawasan festival terlihat lebih rapi.
Bagi saya, perubahan ini menarik karena memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi bisa beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Robo-Robo tetap membawa identitas budayanya, tetapi cara penyelenggaraannya mulai diarahkan agar dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas.
Bukan hanya masyarakat lokal.
Tetapi juga pengunjung dari luar daerah.
Saprahan, Kuliner, dan Ruang Kebersamaan
Salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Robo-Robo adalah kebersamaan.
Tradisi ini juga lekat dengan makan saprahan, yaitu makan bersama yang menjadi simbol kebersamaan masyarakat. Dalam perayaan Robo-Robo, nilai tersebut terasa semakin kuat karena masyarakat berkumpul dan berinteraksi dalam satu ruang.
Selain prosesi budaya, keberadaan lapak kuliner dan UMKM membuat perayaan terasa semakin hidup.
Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat tradisi, tetapi juga dapat menikmati berbagai makanan dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Di titik ini, Robo-Robo mulai menunjukkan potensinya sebagai sebuah pengalaman wisata budaya.
Wisatawan tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi juga dapat merasakan suasana, mencicipi kuliner, berinteraksi dengan masyarakat, dan mengenal tradisi yang hidup di dalamnya.
Bukan Sekadar Tradisi Tahunan
Pemerintah Kabupaten Kubu Raya sendiri telah menetapkan Robo-Robo di Kecamatan Sungai Kakap sebagai kalender tahunan. Penyelenggaraan yang semakin tertata diharapkan dapat menarik lebih banyak masyarakat dari berbagai daerah.
Menurut saya, di sinilah tantangannya.
Ketika sebuah tradisi mulai dikembangkan menjadi daya tarik wisata, kemeriahan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Nilai budaya dan makna yang ada di balik tradisi juga harus tetap dipertahankan.
Jangan sampai Robo-Robo hanya dikenal karena pertunjukan dan keramaiannya, tetapi masyarakat justru lupa mengapa tradisi tersebut terus dilakukan.
Sebab, kekuatan Robo-Robo bukan hanya pada apa yang terlihat.
Ada sejarah, doa, kebersamaan, dan identitas masyarakat yang membuatnya tetap hidup hingga sekarang.
Melihat Robo-Robo dari Dekat
Sebagai generasi muda, datang langsung ke perayaan Robo-Robo memberikan pengalaman yang berbeda bagi saya.
Selama ini, tradisi sering kali hanya kita kenal melalui cerita, foto, atau media sosial. Namun ketika berada langsung di tengah masyarakat, saya bisa melihat bahwa budaya bukan sesuatu yang hanya tersimpan di masa lalu.
Budaya terus bergerak.
Ia bisa beradaptasi, dikemas lebih menarik, dan bahkan menjadi bagian dari perkembangan pariwisata daerah tanpa harus kehilangan identitasnya.
Robo-Robo Sungai Kakap menjadi salah satu contohnya.
Dari tradisi tolak bala, ia berkembang menjadi ruang kebersamaan masyarakat sekaligus memiliki potensi sebagai daya tarik wisata budaya Kubu Raya.
Bagi saya, menjaga Robo-Robo bukan berarti harus membuatnya tetap sama seperti dahulu.
Yang lebih penting adalah memastikan bahwa ketika tradisi itu berkembang, makna dan masyarakat yang menjadi bagian dari tradisi tersebut tetap menjadi pusatnya.
Karena pada akhirnya, Robo-Robo bukan hanya tentang satu hari perayaan.
Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah tradisi terus hidup di tengah perubahan zaman.
