Ketika Sayur Butuh “Propaganda”

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Arwinda Yuliani Roito Br Panjaitan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jujur saja, siapa yang pernah merasa sangat bersemangat ketika disuruh makan sayur? Bagi banyak orang, terutama sejak kecil, sayur sering diasosiasikan dengan sesuatu yang “harus dimakan” daripada sesuatu yang benar-benar diinginkan. Piring berisi bayam atau brokoli mungkin penting bagi kesehatan, tetapi jarang dianggap menarik. Karena itulah berbagai kampanye kesehatan sering mencoba cara yang lebih kreatif agar pesan sederhana (makan sayur) bisa diterima dengan lebih mudah.
Di balik kampanye tersebut sebenarnya ada strategi komunikasi yang cukup menarik. Tanpa disadari, banyak program kesehatan menggunakan teknik persuasi yang mirip dengan propaganda. Bukan propaganda dalam arti manipulasi negatif, tetapi propaganda sebagai cara menyampaikan pesan secara efektif agar masyarakat mau mengubah kebiasaan.
Salah satu teknik yang sering digunakan adalah glittering generalities, yaitu penggunaan kata-kata besar yang bernilai positif. Dalam banyak kampanye kesehatan, sayur tidak hanya dipromosikan sebagai makanan biasa, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih baik. Kita sering melihat slogan seperti “hidup sehat”, “generasi kuat”, atau “masa depan lebih sehat”. Kata-kata ini terasa positif dan mudah diingat, meskipun tidak selalu menjelaskan detail manfaatnya secara panjang.
Teknik lain yang juga sering muncul adalah testimonial. Kampanye makan sayur sering menghadirkan figur publik seperti atlet, dokter, atau influencer yang menunjukkan bahwa mereka rutin mengonsumsi makanan sehat. Kehadiran figur tersebut memberi kesan bahwa pola makan sehat adalah sesuatu yang normal dan bahkan ideal.
Menariknya, figur publik tidak selalu hadir sebagai ahli gizi. Yang lebih penting adalah citra yang mereka bawa. Atlet, misalnya, sering diasosiasikan dengan kekuatan, disiplin, dan kesehatan. Ketika mereka mengatakan bahwa sayur adalah bagian dari pola makan mereka, citra tersebut secara tidak langsung ikut melekat pada pesan yang disampaikan.
Selain itu, ada pula efek bandwagon, yaitu kesan bahwa semakin banyak orang sudah melakukan hal yang sama. Di media sosial misalnya, tren hidup sehat sering muncul dalam bentuk konten sederhana: foto makanan sehat, video memasak sayur, atau tantangan gaya hidup sehat. Ketika konten semacam ini muncul berulang kali di timeline, terbentuk persepsi bahwa pola makan sehat sedang menjadi kebiasaan yang semakin umum.
Algoritma media sosial kemudian memperkuat efek tersebut. Semakin sering konten tentang gaya hidup sehat dilihat atau dibagikan, semakin sering pula konten serupa muncul. Tanpa disadari, pesan tentang pentingnya makan sayur terus berulang dalam berbagai bentuk mulai dari kampanye kesehatan, konten influencer, hingga diskusi ringan di media sosial.
Menariknya, propaganda dalam konteks ini tidak hadir dalam bentuk yang serius atau formal. Ia muncul dalam bentuk yang jauh lebih santai: resep sederhana, video memasak singkat, atau bahkan tantangan diet sehat. Pesannya tetap sama, tetapi cara penyampaiannya dibuat lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku sering kali tidak terjadi hanya karena informasi. Banyak orang sebenarnya sudah tahu bahwa sayur baik untuk kesehatan. Tantangannya adalah bagaimana membuat kebiasaan tersebut terasa menarik dan mudah diterapkan.
Di sinilah strategi komunikasi memainkan peran penting. Dengan menggabungkan citra positif, figur yang relevan, dan narasi yang sederhana, kampanye makan sayur mencoba membuat pesan kesehatan terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Apakah strategi seperti ini salah? Tidak juga. Dalam banyak kasus, pendekatan semacam ini justru membantu menyampaikan pesan kesehatan dengan cara yang lebih efektif. Jika tujuan akhirnya adalah membuat lebih banyak orang menjalani pola makan sehat, strategi komunikasi yang kreatif bisa menjadi alat yang sangat berguna.
Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan satu hal sederhana: di era komunikasi modern, bahkan pesan tentang sayur pun membutuhkan strategi. Karena di tengah arus informasi yang begitu ramai, pesan yang paling sederhana sekalipun tetap perlu cara yang tepat agar bisa didengar.
