Konten dari Pengguna

Propaganda Halus di Balik Popularitas Drama China

Arwinda Yuliani Roito Br Panjaitan

Arwinda Yuliani Roito Br Panjaitan

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arwinda Yuliani Roito Br Panjaitan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: freepic.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber: freepic.com

Sebelumnya, siapa yang menyangka sebuah drama romantis bisa menjadi bagian dari propaganda sebuah negara? Bagi banyak penonton, drama China hanya sekadar hiburan: cerita cinta yang manis, konflik keluarga, atau kisah kerajaan dengan kostum yang indah. Namun ketika drama-drama ini semakin sering muncul di platform streaming dan ramai dibicarakan di media sosial, muncul pertanyaan yang cukup menarik. Apakah semua ini hanya hiburan, atau ada sesuatu yang bekerja di baliknya?

Beberapa tahun terakhir, popularitas drama China memang meningkat cukup signifikan. Banyak judul baru muncul dengan produksi yang semakin besar dan visual yang semakin menarik. Penonton dari berbagai negara bisa menontonnya dengan mudah melalui platform streaming, lengkap dengan subtitle dalam banyak bahasa. Timeline media sosial pun sering dipenuhi potongan adegan, rekomendasi drama, hingga diskusi tentang karakter favorit.

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya soal industri hiburan. Dalam kajian komunikasi dan hubungan internasional, budaya populer sering kali menjadi bagian dari propaganda yang sangat halus. Bukan propaganda yang berisi slogan politik atau pesan ideologis secara langsung, tetapi propaganda yang bekerja melalui citra dan cerita.

Salah satu teknik yang sering muncul dalam konteks ini adalah transfer. Teknik propaganda ini bekerja dengan cara memindahkan citra positif dari satu hal ke hal lain. Dalam banyak drama China, penonton sering melihat gambaran kota yang modern, kampus yang maju, atau kehidupan sosial yang terlihat dinamis. Tanpa terasa, gambaran tersebut ikut membentuk persepsi tentang negara yang ditampilkan.

Penonton mungkin datang hanya untuk menikmati cerita romantis atau drama kehidupan sehari-hari. Namun pada saat yang sama mereka juga melihat potongan-potongan budaya—mulai dari makanan, bahasa, hingga gaya hidup yang ditampilkan dalam cerita. Perlahan, hal-hal tersebut menciptakan rasa familiar.

Media sosial kemudian memperkuat proses ini. Ketika satu drama menjadi populer, potongan adegannya mulai beredar di berbagai platform. Banyak orang membuat konten reaksi, rekomendasi, atau membahas karakter favorit mereka. Di titik ini, muncul efek bandwagon—kesan bahwa semua orang sedang menonton drama yang sama.

Efek ikut-ikutan ini membuat semakin banyak orang penasaran untuk menonton. Tidak ingin tertinggal dari percakapan yang sedang ramai, banyak penonton akhirnya mencoba menonton drama tersebut. Popularitasnya pun semakin meluas.

Menariknya, propaganda dalam bentuk hiburan seperti ini sering kali terasa sangat natural. Tidak ada pesan yang terasa dipaksakan. Penonton hanya mengikuti cerita yang menarik dan karakter yang mudah disukai. Namun melalui cerita tersebut, citra tentang sebuah negara bisa terbentuk secara perlahan.

Apakah ini berarti semua drama dibuat sebagai alat propaganda? Tidak juga. Industri hiburan tentu memiliki tujuan utama untuk menghibur dan menarik penonton. Namun banyak negara menyadari bahwa budaya populer memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk persepsi global.

Ketika drama dari suatu negara populer di berbagai belahan dunia, negara tersebut secara tidak langsung mendapatkan perhatian yang lebih luas. Orang mulai mengenal bahasanya, makanannya, bahkan tempat-tempat yang muncul dalam cerita. Dalam konteks ini, hiburan bisa berubah menjadi bagian dari soft power atau cara memengaruhi orang lain melalui daya tarik budaya.

Pada akhirnya, fenomena drama China menunjukkan bahwa propaganda tidak selalu hadir dengan wajah yang serius. Ia bisa datang dalam bentuk cerita yang menyenangkan, karakter yang membuat penonton jatuh hati, dan alur yang membuat orang ingin menonton episode berikutnya.

Dan mungkin di situlah letak kekuatannya. Karena propaganda yang paling efektif sering kali bukan yang terasa paling keras, tetapi yang paling terasa natural.