Waspada Bukan Berarti Curiga pada Semua dan Diam Saja Bukan Jalan Keluar

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Arwinda Yuliani Roito Br Panjaitan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seperti yang kita semua sudah ketahui, mekerasan seksual ada banyak sekali jenisnya. Tidak selalu tentang berhubungan badan secara dipaksa saja. Mulai dari kata kata, gestur tubuh, hingga perlakuan tidak memaksa pun bisa masuk kedalam kategori kekerasan jika kamu anggap biasa saja.
Kadang, ketika mengalami hal tersebut, kita tidak selalu sadar bahwa akan mendapatkan perlakuan yang ternyata tidak sepantasnya. Bisa jadi juga karna pemikiran positif yang selalu kita tanamkan dipikiran kita sendiri, membuat kita terlambat menyadari datangnya bahaya tersebut.
Banyak dari wanita diluar sana, terutama yang masih berusia muda, memiliki pemikiran bawaan bahwa tidak semua orang akan punya niat jahat. Sehingga kadang tidak menyadari bahwa mereka sedang dilecehkan sebenarnya. Atau mungkin, akan.
Tanpa paksaan dan terjadi begitu saja. Tidak harus tentang berhubungan badan kan? Bisa jadi kali ini karna menganggap pelaku adalah sosok ‘ayah’ pada umumnya yang memiliki hati yang baik tanpa niat jahat sedikitpun terhadap ‘putri’ nya. Beberapa percakapan yang seolah mendukung dan memberi semangat, membuat korban tidak merasa sesuatu yang salah sedang terjadi, seperti menurunkan ‘sensor waspada’ yang ada di diri kita secara sadar. Kemudian dengan pemikiran positif dan anggapan aman tersebut, ‘pelukan semangat’ dari orang asing pun terasa bukan masalah.
Dimana letak masalahnya? Kadang, dengan segala bentuk positif thinking yang kita miliki, kita akan merasa seolah tidak terjadi apa apa. Semua mengalir begitu saja, tanpa paksaan sedikitpun.
Tapi apakah itu sesuatu yang bisa dibenarkan? Apalagi jika itu adalah pertama kalinya berkomunikasi secara langsung? Atau bisa jadi itu hanya bimbingan kuliah biasa misalnya? Tidak ada paksaan, tidak ada kekerasan, tapi ada yang janggal, dan perasaan cemas yang menyakitkan.
Dalam hal ini apakah pemikiran positif akan berdampak buruk? Tidak selalu. Tapi waspada dan mencegah kemungkinan berikutnya adalah hal yang lebih bijak.
Pemikiran bahwa diam lebih baik kadang membuat kemungkinan kedua dan berikutnya akan muncul. Bagaimaa jika ‘pelukan semangat’ itu berubah menjadi sesuatu yang lain? Sesuatu yang tanpa disadari akan menjerumuskan kita kedalam hal yang berakibat fatal. Mungkin tidak saat itu juga, mungkin tidak sama sekali, atau malah secepatnya.
Anggaplah semua pembahasan sebelumnya adalah kejadian nyata. Sebagai wanita yang menganggap dirinya korban kemungkinan besar akan bingung. Dia tidak merasa dipaksa, tidak dalam tekanan apapun, tapi dia sadar hal tersebut akan menjadi ‘pembuka’ sesuatu yang lebih besar. Kesalahan fatal. Dan itu menimbulkan rasa takut yang nyata.
Apa langkah yang sebaiknya di tempuh jika mengalami hal serupa?
Pergi.
Jika tidak berani untuk bercerita, takut disalahkan, dan takut akan ada masalah dikemudian hari, coba pikirkan hal ini. Bagaimana jika tetap diam dengan situasi yang ada, kemudian kesempatan seterusnya akan membuat kamu kehilangan sesuatu yang sangat berharga dari dirimu sendiri?
Maka dari itu, menjauhlah, menghindar sekeras mungkin. Tidak perlu pedulikan tanggapan orang lain, terutama yang mungkin akan berpihak pada pelaku, yang akan mewajarkan hal tersebut. Beranikan diri melangkah dari resiko sekecil apapun untuk menyelamatkan dirimu.
Biarkan jika sebagian besar orang akan menganggap kamu berlebihan. Ingat lagi, selain keluargamu dan orang orang yang memang sudah lama kamu kenal dan kamu percaya, tidak ada yang normal selain itu jika melakukan sentuhan fisik tidak formal, selain berjabat tangan misalnya. Terutama jika itu tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pribadi.
Disamping itu, siapa bisa menjamin kalau 'pelukan semangat' yang ditawarkan dan kamu terima spontan tidak akan berkelanjutan kearah sesuatu yang lain? Itu cuma masalah waktu. Siapa juga yang bisa menjamin tidak akan terjadi hal lainnya? Dalam hal ini, bukankah sedikit berprasangka buruk justru akan lebih baik? Itu namanya WASPADA.
Karena pada akhirnya, yang paling paham kekhawatiran mu hanyalah kamu sendiri. peluk raga itu dengan hatimu, sisanya tidak perlu terlalu kamu pikirkan.
Namun terimakasih. keluarga, pasangan, sahabat, dan siapapun yang tidak menganggap ini berlebihan. Terimakasih atas semua dukungan dan saran. Terimakasih juga pada diri sendiri, sudah berani mengambil keputusan.
