Konten dari Pengguna

Cyber Dating Abuse: Sisi Gelap Gaya Pacaran di Era Digital

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arya Bagus Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan main dating apps. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan main dating apps. Foto: Shutterstock

Pernah nggak kamu ngerasa curiga berlebihan cuma gara-gara pacar kamu sedang online di aplikasi obrolan tapi pesanmu belum dibalas? Atau mungkin kamu sering diam-diam mengecek siapa saja pengguna baru yang diikuti pacarmu di Instagram. Kebiasaan yang kelihatannya sepele ini sebenarnya adalah bibit dari masalah komunikasi serius di era siber yang sering disebut dengan istilah kekerasan asmara siber (cyber dating abuse).

Di kalangan anak Ilmu Komunikasi, kita sering membedah fenomena ini lewat kacamata Computer-Mediated Communication. Komunikasi yang dijembatani oleh layar HP itu kehilangan banyak sekali petunjuk non-verbal seperti nada suara atau raut wajah.

Ketiadaan konteks langsung ini bikin pesan sangat gampang disalahartikan dan memicu kecemburuan luar biasa. Fitur aplikasi yang menawarkan visibilitas berlebih seperti status "last seen" atau pelacakan lokasi secara seketika justru sering kali memancing kita buat terus-terusan mengawasi pasangan. Ujung-ujungnya, kebiasaan ini berubah jadi perilaku pengawasan digital yang merusak rasa saling percaya di dunia nyata.

Hilangnya Kendali di Balik Layar

Lalu kenapa orang bisa jauh lebih agresif dan posesif kalau sedang pacaran lewat ruang obrolan dibanding saat bertemu langsung? Jawabannya ada di sebuah riset terbaru dari jurnal Frontiers in Psychiatry. Jurnal dengan judul "Greater toxic online disinhibition and lower consistent online self-presentation contribute to the perpetration of cyber dating abuse" ini menemukan fakta yang sangat menarik.

Para peneliti dari University of Liverpool mensurvei 326 partisipan dewasa muda dan menemukan bahwa pelaku kekerasan asmara digital sangat dipengaruhi oleh kondisi disinhibisi online yang beracun (toxic online disinhibition). Lingkungan digital memberikan rasa anonimitas dan jarak fisik yang bikin seseorang merasa kebal dari sanksi sosial. Ketiadaan kontak mata secara langsung ini menurunkan empati manusia secara drastis. Alhasil, seseorang jadi punya keberanian berlebih buat melakukan agresi langsung seperti mengancam pasangan atau memaksa meminta kata sandi media sosial pacarnya.

Jebakan Presentasi Diri Palsu

Satu hal lagi yang bikin masalah pacaran digital makin rumit adalah cara kita membangun identitas di internet. Riset yang sama juga menyoroti konsep presentasi diri online (online self-presentation). Banyak anak muda sekarang terlalu fokus buat selalu menampilkan versi ideal diri mereka di media sosial demi mendapat validasi publik.

Ternyata ada harga mahal dari kebiasaan memakai topeng digital ini. Menurut temuan riset tersebut, orang yang terbiasa menampilkan identitas ideal di internet punya kecenderungan lebih tinggi buat melakukan kekerasan dan kontrol ke pasangannya secara digital.

Mengelola persona yang tidak konsisten secara terus-menerus itu sangat menguras energi mental dan menurunkan kemampuan otak buat meregulasi diri. Ketika kemampuan mengontrol emosi ini anjlok, seseorang jadi lebih impulsif dan gampang melampiaskan amarahnya ke pasangan lewat pelecehan verbal di pesan teks. Data riset ini membuktikan bahwa faktor lingkungan siber ternyata jauh lebih berbahaya dalam memicu kekerasan asmara dibanding sekadar masalah kepuasan hubungan itu sendiri.

Kembali ke Komunikasi Autentik

Kita harus sadar kalau layar HP punya kekuatan nyata buat mengubah cara kita memperlakukan orang yang kita sayang. Hubungan asmara yang sehat bertumpu pada komunikasi langsung yang autentik. Jangan biarkan fitur pelacakan aplikasi mendikte seberapa besar rasa percaya kamu ke pasangan.

Kalau kamu mulai merasa cemas karena harus memantau aktivitas digital pacar setiap saat, ini adalah waktu yang tepat buat ambil jarak sejenak dari media sosial. Bicarakan masalah kalian secara langsung sambil duduk santai tanpa distraksi notifikasi. Menyelesaikan konflik asmara lewat ketikan di ruang obrolan itu sangat rentan memicu miskomunikasi. Mari jadikan teknologi sebagai alat bantu interaksi dan pastikan gawai tersebut tidak mengubah kita menjadi sosok beracun bagi pasangan sendiri.