Rela Bayar Mahal Cuma Buat Detoks Digital

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang. Fokus mengamati fenomena siber dan bagaimana media digital perlahan mengubah cara manusia berinteraksi sehari-hari.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Arya Bagus Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, jagat seni rupa kontemporer diramaikan oleh keputusan menarik dari Citra Sasmita. Seniman terkemuka asal Bali tersebut memilih mengasingkan diri selama sepuluh hari di kawasan pegunungan yang sunyi setelah didera kejenuhan mental akibat jadwal pameran internasional yang padat. Keputusan Citra ini bukan kasus tunggal. Di tengah kesibukan masyarakat perkotaan, ada tren unik yang semakin diminati, yaitu kerelaan merogoh kocek dalam-dalam demi bisa mengasingkan diri dari hiruk-pikuk internet.
Sungguh sebuah paradoks yang menggelitik. Banyak orang rela membayar jutaan rupiah hanya untuk dikurung dan dijauhkan dari ponsel pintarnya di sebuah penginapan khusus. Selamat datang di era komodifikasi kesunyian, tempat di mana waktu tenang tanpa gangguan notifikasi berubah menjadi barang mewah yang diperjualbelikan.
Komersialisasi Kesunyian Lewat Detoks Digital
Mengapa kita harus membayar pihak luar hanya untuk menjauhkan diri dari ponsel sendiri? Jawabannya ada pada kelemahan kontrol diri kita di hadapan algoritma. Sejak tahun 2008, lembaga riset YouGov di Inggris Raya sudah mengenalkan istilah nomophobia, singkatan dari no mobile phone phobia. Ini adalah kondisi cemas yang berlebihan ketika seseorang berada jauh dari ponsel pintar. Ketakutan ketinggalan informasi membuat kita secara impulsif terus-menerus memeriksa layar ponsel.
Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia untuk tahun 2024, rata-rata durasi penggunaan internet harian masyarakat kita mencapai 7 jam 38 menit. Sebanyak 3 jam 11 menit di antaranya habis hanya untuk menggulir linimasa media sosial. Paparan konten singkat yang tiada henti ini melahirkan epidemi kognitif baru berupa kelelahan digital dan kejenuhan emosional. Kita merasakan lelah yang menetap serta pikiran yang terasa tumpul akibat banjir informasi.
Ketika upaya membatasi diri secara mandiri selalu gagal karena godaan gawai yang terlalu kuat, masyarakat kota memilih jalan pintas dengan melakukan alih daya regulasi diri. Kita membayar pengelola tempat retret kebugaran untuk menjadi penegak disiplin eksternal. Di tempat-tempat seperti ini, gawai disita sementara waktu, akses internet ditiadakan, dan fasilitas colokan listrik sengaja dibatasi agar para tamu terpaksa mengistirahatkan sarafnya.
Ironi Penjara Sukarela Berbayar
Kawasan wisata alam di berbagai daerah kini mulai menangkap peluang bisnis dari kebutuhan penenangan diri ini dengan menyediakan paket pengasingan diri dari teknologi. Konsep yang ditawarkan sebenarnya sederhana, yaitu menghadirkan lingkungan yang memaksa kita berhenti terkoneksi dengan dunia maya. Pengelola tempat liburan menerapkan aturan ketat yang melarang penggunaan perangkat elektronik di area publik. Ponsel pintar para tamu sering kali harus dititipkan di meja resepsionis begitu proses kedatangan selesai.
Ada pula tempat peristirahatan yang menerapkan aturan hening secara total. Di tempat semacam ini, seluruh kawasan ditetapkan sebagai zona bebas gawai. Pengunjung diajak menjalani hari tanpa obrolan sosial, tanpa konsumsi kafein, dan kamar tidur pun sengaja dirancang tanpa fasilitas elektronik modern. Tamu diajak mempraktikkan keheningan pikiran untuk memulihkan kejernihan berpikir yang selama ini tergerus oleh kebisingan konten linimasa.
Membeli kembali ketenangan lewat cara seperti ini memperlihatkan betapa mahalnya harga sebuah fokus di era modern. Sesuatu yang puluhan tahun lalu bisa kita dapatkan secara cuma-cuma di beranda rumah, kini harus ditebus dengan tarif sewa kamar penginapan yang tidak murah.
Kembali ke Kedaulatan Diri
Maraknya tren liburan tanpa sinyal ini membuktikan bahwa kita sedang mengalami krisis kedaulatan kognitif. Kita sudah begitu terjajah oleh bunyi notifikasi sampai-sampai harus menyewa lingkungan buatan demi bisa terlepas dari kecanduan layar.
Namun, kita perlu menyadari bahwa mengasingkan diri ke tempat retret terpencil pada hakikatnya hanyalah pelarian sesaat. Penjara sukarela tersebut hanya memberi jeda fisik dari gawai selama beberapa hari saja. Tantangan yang sesungguhnya justru menanti ketika kita kembali ke rutinitas harian. Ketenangan pikiran yang sejati tidak bisa terus-menerus kita beli lewat paket liburan berbayar; ketenangan itu harus kita bangun sendiri dengan menetapkan batasan gawai secara tegas di rumah dan memilih hadir seutuhnya di dunia nyata.
