Konten dari Pengguna

Membaca Pola Baru Kegiatan Membaca Buku Remaja

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arya Wijaya Pramodha Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi remaja membaca buku. Foto: zEdward_Indy/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi remaja membaca buku. Foto: zEdward_Indy/Shutterstock

Kepemilikan buku bukanlah ukuran yang tepat lagi untuk menilai minat baca remaja. Anggapan bahwa generasi digital kehilangan ketertarikan pada buku, yang belakangan ramai jadi keluhan orang tua dan guru, sebenarnya keliru. Minat baca tidak menurun. Fungsi buku itu sendiri yang berubah, dari objek bacaan tunggal jadi objek sosial yang berputar lewat berbagai lapisan media digital.

Bukti perubahan ini mudah sejatinya dilihat di kamar anak muda sekarang. Buku-buku yang dipinjam atau dibeli menumpuk di meja, sebagian tertata rapi buat difoto saja sebagai bahan upload media sosial, sebagian lagi dibiarkan begitu saja setelah dibeli. Tidak sedikit yang tidak pernah selesai dibaca sampai halaman terakhir. Bukan soal malas. Alasan remaja membeli buku hari ini lebih sering datang dari luar kebutuhan membaca yang mendesak. Sampul dan visual yang menarik, pengaruh viralitas bahasan pada media sosial seperti Instagram dan TikTok, sampai rekomendasi teman dekat, semua itu cukup jadi alasan sebuah buku dibeli, entah nanti benar dibaca atau berakhir jadi properti foto semata.

Fungsi buku ikut bergeser mengikuti pola ini. Dari sumber pengetahuan, buku menjadi bagian dari identitas sosial penggunanya, sesuatu yang dipamerkan, dibicarakan, dan dijadikan penanda selera dalam lingkaran pertemanan tertentu.

Membaca Sebelum Membaca

Aktivitas membaca sekarang kerap dimulai jauh sebelum sampul buku dibuka. Remaja membaca ulasan di media sosial, menonton ringkasan lewat video pendek, mengumpulkan potongan kutipan yang berseliweran di linimasa, lalu memutuskan lewat reaksi orang lain terhadap buku itu. Ini bentuk literasi tersendiri, cuma bentuknya beda dari literasi lama yang selama ini dipahami sebagai kemampuan membaca teks secara runut dan sendirian.

Henry Jenkins pernah membahas gejala serupa lewat gagasan budaya partisipatif (partisipatory culture) kondisi ketika konsumsi media tidak lagi satu arah, tapi melibatkan interaksi aktif, diskusi, sampai produksi ulang konten oleh penggunanya sendiri. Membaca buku, dalam kerangka ini, tidak lagi murni urusan pribadi. Membaca menjadi ikut masuk ke sirkulasi sosial yang jauh lebih ramai, penuh komentar, unggahan, rekomendasi berantai yang terus memperbarui posisi sebuah judul di mata publik.

Algoritma dan lingkaran pertemanan punya kuasa besar menentukan buku mana yang pantas dibeli. Satu unggahan dari kreator konten dengan pengikut luas cukup membuat sebuah judul mendadak diburu ramai orang dalam hitungan hari. Buku itu jadi bahan obrolan, muncul berkali-kali di berbagai akun, dipajang sebagai bukti sudah punya. Tapi punya buku dan paham isinya dua hal yang jauh berbeda. Yang satu tidak menjamin yang lain.

Buku sebagai Penanda Identitas

Pergeseran paling terasa ada pada fungsi buku sebagai penanda identitas. Foto tumpukan buku baru, rak yang sengaja ditata untuk konten, unggahan panjang soal bacaan terbaru, semua jadi cara remaja menunjukkan diri, menegaskan komunitas yang diikuti, memamerkan selera yang dibanggakan. Makna sebuah buku bukan lagi cuma soal isinya. Cara buku itu dibicarakan dan ditampilkan di ruang digital ikut menentukan maknanya.

Ada konsekuensi yang layak dicermati dari kondisi ini. Ringkasan singkat dan kutipan viral sering dianggap sudah cukup mewakili isi sebuah buku secara keseluruhan.

Padahal membaca sungguhan butuh waktu, konsentrasi, kesabaran, hal yang sulit bersaing dengan konsumsi informasi instan yang jauh lebih cepat dan enteng dicerna. Tantangan sesungguhnya bukan pada minat baca yang hilang, melainkan pada kedalaman membaca yang perlahan terkikis oleh kecepatan arus informasi.

Bukan Sekadar Suka atau Tidak Suka

Menyederhanakan persoalan ini jadi kategori suka atau tidak suka membaca adalah kekeliruan yang mendasar dalam membaca realitas remaja hari ini. Hubungan mereka sebagai anak muda dengan buku sudah bercampur dengan urusan sosial, identitas, dan tren digital, begitu rapat sampai tidak mungkin lagi disederhanakan jadi satu jawaban tunggal. Di titik ini perlu ada perubahan cara pandang dalam menilai literasi remaja, dari sekadar menghitung jumlah halaman yang dibaca jadi memahami seluruh proses sosial yang melingkupi keputusan mereka memilih dan mengkonsumsi bacaan.

Perpustakaan, sekolah, dan keluarga perlu menyesuaikan pendekatan mereka mengikuti perubahan ini. Menambah koleksi buku atau menetapkan target jumlah halaman tertentu sudah tidak memadai lagi sebagai strategi menaikkan minat baca. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah pemahaman mendalam soal cara remaja menemukan, memilih, dan membicarakan bacaan mereka di dunia digital, lalu memanfaatkan jalur itu jadi pintu masuk menuju pengalaman membaca yang lebih substansial, bukan sekadar ruang promosi semata.

Buku belum kehilangan tempatnya dalam kehidupan remaja. Posisinya cuma berpindah, dari sekadar benda di meja belajar jadi bagian dari percakapan, representasi diri, dan sirkulasi sosial di ruang digital. Pekerjaan rumah yang tersisa bagi semua pihak yang peduli pada literasi adalah memastikan bahwa di balik seluruh tren dan representasi digital tersebut, tetap ada ruang cukup bagi remaja untuk merenung, memaknai, dan benar-benar memahami isi bacaan yang mereka pilih.