Konten dari Pengguna

Membangun Generasi Tangguh: Edukasi Cyberbullying di Panti Asuhan

Arya Wijaya Pramodha Wardhana

Arya Wijaya Pramodha Wardhana

Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya.

·waktu baca 4 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arya Wijaya Pramodha Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam ombak laju digitalisasi yang kian tak terbendung, kita (sebagai bagian dewasa dari masyarakat digital) kerap terbuai oleh ilusi kemudahan tanpa benar-benar mengukur risikonya. Akses informasi kini bukan lagi privilese sederhana saja, melainkan konsumsi harian yang bahkan dapat digenggam oleh berbagai generasi, khususnya anak-anak. Di satu sisi, kemajuan ini menjanjikan lompatan besar dalam dunia pendidikan. Namun di sisi lain, tanpa fondasi literasi digital yang memadai, ia berubah menjadi ruang liar yang menyimpan ancaman laten. Pertanyaannya menjadi mendesak: siapa yang bertanggung jawab memastikan anak-anak tidak tersesat di dalamnya?

Ilustrasi kegiatan bersama mahasiswa dengan anak-anak panti asuhan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kegiatan bersama mahasiswa dengan anak-anak panti asuhan

Kesadaran akan urgensi inilah yang kemudian melahirkan langkah konkret melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Panti Asuhan Santa Beatrix Juanda . Kegiatan yang berlangsung pada 15 Maret 2026 ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan sebuah intervensi sosial yang dirancang untuk menjawab persoalan nyata di lapangan. Berlokasi di lingkungan panti yang hangat dan sederhana di Sidoarjo, kegiatan ini menjadi representasi bahwa Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak boleh berhenti sebagai jargon, tetapi harus menjelma menjadi praktik yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Lebih jauh lagi, kehadiran sekelompok mahasiswa yang berasal dari Magister Sains Informasi dan Perpustakaan, Universitas Airlangga—Fairus Faqih, Dwi Paskah Marito Br Sihaloho, Mohammad Riqzazulmi, Syaidatul Fiza Maarif, dan Gaudens Dillalino Pambut—menjadi simbol penting dari peran intelektual muda. Mereka tidak sekadar hadir sebagai penyampai materi, tetapi sebagai agen perubahan yang berani turun dari menara gading akademik menuju realitas sosial yang kompleks. Di titik ini, kita perlu bertanya secara reflektif: jika bukan generasi muda terdidik yang bergerak, lalu siapa lagi?

Namun demikian, keberhasilan kegiatan semacam ini tidak hanya ditentukan oleh niat baik, melainkan oleh strategi pendekatan yang tepat. Menyadari bahwa audiens-para pendengar utama adalah anak-anak, tim mahasiswa tidak memilih pendekatan formal yang kaku. Sebaliknya, mereka memulai dengan sesi perkenalan yang santai dan hangat. Langkah ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya krusial: membangun kedekatan emosional adalah pintu masuk bagi efektivitas edukasi. Tanpa itu, materi sebaik apa pun hanya akan menjadi suara yang lewat tanpa makna.

Setelah fondasi kedekatan terbentuk, barulah kegiatan memasuki inti: penyampaian materi mengenai bahaya internet dan cyberbullying. Di sinilah urgensi kegiatan ini mencapai puncaknya. Anak-anak hari ini tidak lagi “akan” menggunakan internet—mereka sudah hidup di dalamnya. Dunia digital telah menjadi ruang belajar, bermain, bahkan bersosialisasi. Namun ironisnya, pemahaman mereka tentang risiko sering kali tertinggal jauh di belakang intensitas penggunaannya.

Lebih problematis lagi, internet kerap dipandang sebagai ruang netral, padahal ia adalah arena yang sarat potensi kekerasan simbolik. Cyberbullying, misalnya, bukan sekadar fenomena digital, tetapi bentuk baru dari relasi kuasa yang dapat melukai secara psikologis. Anak-anak bisa menjadi korban tanpa perlindungan, atau lebih mengkhawatirkan, menjadi pelaku tanpa kesadaran. Dalam konteks ini, edukasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Untuk menjawab tantangan tersebut, metode penyampaian pun dirancang secara interaktif. Pendekatan ini bukan tanpa alasan: generasi alpha tumbuh dalam ekosistem yang menuntut keterlibatan aktif, bukan sekadar penerimaan pasif. Oleh karena itu, materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana, contoh yang relevan, serta interaksi yang mendorong partisipasi. Dengan demikian, pesan tidak hanya didengar, tetapi juga dipahami dan diinternalisasi.

Foto bersama tim mahasiswa bersama anak-anak panti asuhan

Kegiatan pengabdian masyarakat ini pada akhirnya bukan sekadar rutinitas akademik formal, melainkan sebuah refleksi mendalam mengenai hakikat pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia. Tim mahasiswa menyadari bahwa transfer pengetahuan tentang bahaya internet dan cyberbullying harus berjalan selaras dengan pembangunan ikatan emosional yang tulus. Melalui strategi ice breaking dan kuis interaktif, batas antara fasilitator dan peserta luruh, membuktikan bahwa proses belajar yang efektif lahir dari suasana yang menyenangkan dan inklusif. Dimensi empati yang dihadirkan melalui pemberian bingkisan kepada seluruh anak menjadi penanda bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek kognitif, melainkan harus menyentuh ranah rasa dan kepedulian sosial. Sesi foto bersama yang menutup rangkaian acara bukan sekadar formalitas dokumentasi, melainkan simbolisasi dari relasi sosial yang telah terjalin kuat antara mahasiswa dan penghuni panti.

Di tengah kompleksitas digitalisasi yang segala hal dan dimensinua yang kian menantang, inisiatif ini menegaskan bahwa perlindungan terhadap generasi muda adalah tanggung jawab kolektif yang tidak bisa ditunda lagi. Langkah kecil yang dilakukan di Panti Asuhan Santa Beatrix ini adalah investasi sosial yang berharga, demi memastikan anak-anak tumbuh dengan kesadaran digital yang mumpuni sekaligus hati yang penuh kebahagiaan