Obsesitas Informasi, Overinformasi, dan Hilangnya Makna Tekstual

Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Arya Wijaya Pramodha Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap hari, kita sebagai bagian dari masyarakat selalu mengalami banjir informasi yang tak pernah surut, manusia modern justru menghadapi kelangkaan yang paling mendasar: makna. Setiap detik, layar gawai menghadirkan dunia dalam fragmen-fragmen cepat, namun tanpa memberi jeda bagi rasio untuk mengolahnya. Apa yang semula dipandang sebagai kemenangan peradaban kini perlahan berubah menjadi paradoks eksistensial. Kita semakin tahu banyak hal, tetapi semakin kehilangan kemampuan untuk memahami.

Dalam kerangka historis, kita mewarisi keyakinan Pencerahan bahwa informasi adalah instrumen emansipasi, scientia potentia est. Namun, asumsi ini kini perlu dikalibrasi ulang. Informasi tidak lagi semata berfungsi sebagai alat pembebasan, melainkan telah mengalami mutasi menjadi entitas yang berpotensi meracuni kejernihan berpikir. Akses tanpa batas tidak otomatis memperluas kesadaran, melainkan dapat memenjarakan individu dalam bilik gema yang repetitif. Oleh karena itu, menjadi waras di era ini tidak lagi berarti mengetahui sebanyak mungkin, tetapi memiliki kapasitas selektif untuk menentukan apa yang layak diabaikan.
Keriuhan dalam Struktur Digital dan Sosial
Dalam konteks ini, pemikiran Byung Chul Han dalam Infocracy menjadi relevan. Kekuasaan kontemporer tidak lagi beroperasi melalui represi, melainkan melalui seduksi informasi dan distraksi algoritmik. Banjir data secara perlahan mengikis rasionalitas kritis dan menggantikannya dengan respons afektif yang impulsif. Subjek modern tidak dipaksa tunduk, melainkan secara sukarela menyerahkan atensinya, sehingga kelelahan mental menjadi kondisi struktural.
Berangkat dari situasi tersebut, terlihat adanya pergeseran mendasar dalam arsitektur komunikasi digital. Produksi wacana tidak lagi digerakkan oleh pencarian kebenaran, tetapi oleh logika keterlibatan algoritmik. Validitas menjadi sekunder, sementara perhatian menjadi komoditas utama. Dalam kondisi ini, komunikasi sosial bergeser dari dialektika rasional menuju eksploitasi mekanisme neurobiologis yang mempertahankan keterikatan pada layar.
Fenomena ini dapat dirumuskan sebagai tirani keriuhan. Obesitas informasi tidak hadir sebagai akumulasi pengetahuan, tetapi sebagai interupsi konstan yang menggerus ruang reflektif. Individu mengalami ilusi keterhubungan, padahal secara eksistensial semakin teralienasi dari dirinya sendiri. Kita menumpuk data tanpa sempat mengolah makna, sehingga kelebihan informasi justru menghasilkan kekurangan kebijaksanaan.
Lebih jauh, kondisi ini berkelindan dengan struktur sosial yang terfragmentasi. Personalisasi algoritmik menciptakan diet informasi yang berbeda bagi setiap individu, sehingga fondasi realitas bersama semakin rapuh. Dalam situasi ini, ruang publik rasional mengalami erosi, dan masyarakat menjadi lebih rentan terhadap polarisasi. Emosi kolektif dapat diproduksi secara instan tanpa melalui proses deliberasi yang memadai.
Krisis Wacana, Ilusi Solusi, dan Komodifikasi Kewarasan
Implikasi dari kondisi tersebut tampak jelas dalam degradasi kualitas wacana publik. Diskursus bergeser menjadi tontonan dangkal yang mengutamakan kecepatan dan sensasi. Argumen kompleks yang membutuhkan pembacaan mendalam tersisih oleh format singkat yang instan. Dalam ekosistem ini, kebenaran yang kompleks sering kalah oleh narasi sederhana yang emosional, sehingga kedalaman berpikir dikorbankan demi visibilitas.
Namun demikian, respons dominan terhadap krisis ini kerap terjebak pada simplifikasi. Literasi digital dan cek fakta sering diposisikan sebagai solusi utama, padahal akar persoalannya lebih mendasar. Masalahnya bukan hanya kualitas informasi, tetapi juga kuantitas dan kecepatannya. Bahkan informasi yang benar sekalipun dapat merusak kapasitas reflektif jika dikonsumsi secara berlebihan. Dengan kata lain, yang dihadapi bukan sekadar misinformasi, melainkan overinformasi.
Ironisnya, upaya untuk keluar dari kebisingan ini justru ikut terjerat logika pasar. Praktik seperti mindfulness, detoks digital, hingga retret keheningan dikomodifikasi menjadi produk eksklusif. Kewarasan tidak lagi menjadi kondisi universal, tetapi berubah menjadi privilese yang dapat dibeli. Bahkan resistensi terhadap sistem pada akhirnya diserap dan dijual kembali oleh sistem itu sendiri.
Pada akhirnya, kita menghadapi paradoks mendasar. Semakin terkoneksi dengan arus informasi, semakin terputus dari kedalaman makna. Menjadi waras di era hiperkoneksi adalah tindakan yang semakin radikal, yaitu berani tidak selalu terhubung dan bersedia melewatkan sebagian informasi. Jika kecenderungan ini terus berlanjut, ancaman terbesar bagi manusia bukanlah ketidaktahuan, tetapi ketidakmampuan memberi makna di tengah limpahan pengetahuan.
