Konten Kurban Artis Percepat Roda Perekonomian

Mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara, Penulis Nonfiksi, dan Mentor Menulis. Ayo kolaborasi melalui Instagram @mas.aryaak dan Gmail aryadimassuprayitno@gmail.com
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aryadimas Suprayitno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Masalah kurban itu bukan masalah mampu atau tidak mampu saja. Namun juga masalah mau dan tidak mau. Karena ada yang mampunya luar biasa, namun belum juga berkurban. (Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc)

Akhir-akhir ini, ibadah kurban dianggap merefleksikan kekayaan seseorang. Semua bermula dari konten YouTube artis terkemuka yang "memamerkan" hewan kurban mereka yang beratnya mencapai kata "ton". Entah apapun niat mereka mengunggah konten tersebut, kita layak berikan standing applause atas kontribusi luar biasanya. Memangnya apa yang mereka lakukan?
Senyum Positif Dalam Situasi Negatif
Tidak sadarkah kita, konten berlomba-lomba pamer berat hewan kurban mengukir senyum bagi dua pelaku utama di tengah hawa negatif pandemi yang entah sampai kapan selesainya.
Senyum Peternak Indonesia
Pelaku pertama yakni peternak domestik. Ekonom Senior Hendri Saparini menyatakan bahwa sebagian besar orang Indonesia membeli hewan ternak kurban dari peternak domestik, bukan melalui impor.
Kalau artis A mengunggah konten kurbannya, maka artis-artis lainnya pun akan berlomba-lomba mengikutinya, bukan? Bisa dibayangkan seberapa besar keuntungan peternak atas pembelian hewan kurban dari artis konglomerat?
Hal ini tentu menjadi angin segar bagi peternak yang mengalami penurunan harga jual selama pandemi. Mau berapa lama mereka menunggu harga jual kembali stabil kemudian menjualnya di pasar seperti biasa saat krisis seperti ini?
Dengan adanya pembelian dari para artis, tentunya mereka mendapat pendapatan yang besar. Belum lagi dari umat Islam yang juga membeli hewan kurban dari mereka. Menurut Tulasmi sebagai Dosen Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia, jumlah rupiah yang berputar dari konsumen ke produsen (peternak) dalam sekali kurban mencapai Rp10 triliun. Selain itu, Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memproyeksikan potensi kurban Indonesia tahun 2020 lalu mencapai Rp20,5 triliun yang bersumber dari 2,3 juta orang yang berkurban. Kalau potensi ini dimaksimalkan lagi, masihkah kita bertanya bagaimana kurban bisa mengukir senyuman peternak Indonesia?
Senyum Masyarakat Indonesia
Pernahkah kamu mendapat daging kurban? Bagaimana perasaanmu? Pastinya senang, bukan? Begitu juga yang dirasakan teman-teman kita yang tidak pernah mencicipi daging sapi ataupun kambing sebelumnya. Tidak perlu penulis cantumkan penelitian spesifik mengenai ini. Bukankah rasa terima kasih mereka telah menjadi bukti empiris yang nyata? Semakin banyak artis berkurban dalam skala besar, bukankah artinya semakin banyak pula manusia yang merasakan manfaatnya? Anggap saja fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan ala masyarakat kelas atas. Bukankah idealnya harta itu tidak berputar di konglomerat melulu, kan?
Tidak hanya kontribusi peternak dan masyarakat kelas atas, Lembaga Amil Zakat (LAZ) seperti Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, dan lainnya juga tidak lelah mendistribusikan daging kurban kepada masyarakat yang hampir tak tersentuh peradaban modern. Hal tersebut membuktikan bahwasanya kurban tidak hanya mengukir kebahagiaan di gubuk kota, tetapi juga menyebar senyuman di pedesaan.
Apakah Kurban akan Selalu Ada?
Sebuah pertanyaan menarik. Sampai kapan kurban menjadi rahmat bagi peternak dan masyarakat? Bagaimana kalau popularitas artis yang berkurban kian menurun? Bagaimana kalau tingkat kesejahteraan masyarakat menurun, apakah kurban akan tetap ada?
Sebuah riset dari peneliti zakat UIN Syarif Hidayatullah Amelia Fauzia (dalam Suryarandika, 2016) menyatakan bahwa ibadah kurban tidak memiliki hubungan langsung dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Artinya, walaupun tingkat kesejahteraan menurun ataupun harga hewan kurban mengalami peningkatan, ibadah kurban akan selalu ada.
Berderma itu malah meningkat misalnya saat Indonesia krisis tahun 1998. Jadi tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di semua tempat, waktu krisis malah orang yang berderma dalam bentuk apapun meningkat. (Prof. Amelia Fauzia, Ph.D)
Berhenti Menghujat, Petik Kebaikan
Sudah cukuplah kita berasumsi artis konglomerat riya memamerkan hewan kurbannya. Apakah mereka dirugikan, tentu tidak. Apakah kita dirugikan, iya tentu dirugikan waktu dan tenaga.
Barangkali, dibalik konten pamer kurban, terselip motivasi semangat bagi masyarakat Indonesia untuk berkurban lebih banyak. Bukankah lebih banyak berkurban berarti lebih banyak daging yang dibagikan?
Barangkali, dibalik konten pamer kurban, terselip doa dari mereka yang mendapat daging kurban. Setiap selesai salat, mengirim doa bagi mereka yang ikhlas melepas harta demi kebahagiaan orang lain.
Kita tidak pernah tahu apa motif seseorang melakukan sesuatu. Kalau kegiatannya baik, lantas atas dasar apa kita bisa menghakiminya buruk? Berhenti menghujat, petik kebaikan dari siapapun selama terdapat bulir-bulir hikmah di dalamnya.
Sumber Referensi
Febrianto, H. (2021). Saatnya Menggerakkan Ekonomi Rakyat Melalui Kurban.
Munadi, M. (2019). Qurban, Potensi Ekonomi dan Pemerataan Kesejahteraan.
Nadia. (2021). Risiko Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Usaha Peternakan Sapi Potong Rakyat di Gunungkidul.
Suryarandika, R. (2016). Fenomena Kurban Tak Terkait Tingkat Kesejahteraan.
Tulasmi. (2018). Ibadah Kurban dan Kemandirian Ekonomi Umat.
