Konten dari Pengguna

Media Sosial Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Juga Peluang bagi UMKM untuk Berkembang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aryanti Sekar Kinanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/id/illustrations/youtube-playbutton-video-mengedit-4740743/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/illustrations/youtube-playbutton-video-mengedit-4740743/

Beberapa waktu lalu, saya menemukan akun penjual kue rumahan di beranda media sosial. Videonya sederhana: tangan mengaduk adonan, memasukkan kue ke oven, lalu mengemasnya satu per satu. Penontonnya tidak banyak, hanya puluhan orang. Karena penasaran, saya bertanya soal harga dan cara pesan di kolom komentar. Dalam hitungan menit, pertanyaan saya dijawab dengan ramah dan jelas. Akhirnya saya memesan untuk acara keluarga, dan sampai sekarang saya masih berlangganan.

Dari pengalaman itu, menurut saya, UMKM tidak perlu viral untuk berkembang. Yang lebih menentukan adalah seberapa jujur mereka memberi informasi dan seberapa baik mereka berinteraksi dengan pelanggan. Pendapat ini akan saya jelaskan, lalu saya uji dengan hasil penelitian.

Media Sosial Sudah Jadi Bagian dari Cara Berjualan

Dulu, usaha kecil mengandalkan toko fisik, brosur, atau rekomendasi dari mulut ke mulut. Menurut saya, cara itu masih berguna, tetapi sekarang ada pilihan dengan jangkauan yang jauh lebih luas, dan kesempatannya tidak hanya dimiliki perusahaan besar.

Menurut data Kemenkop UKM, dari sekitar 64 juta pelaku UMKM di Indonesia, sekitar 38 persen atau 25,2 juta sudah masuk ke ekosistem digital hingga akhir 2023. Menurut survei APJII, pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar 221,5 juta orang atau 79,5 persen dari populasi pada 2024. Dari dua data ini, menurut saya, calon pelanggan hampir pasti sudah ada di platform yang sama dengan para pelaku usaha, tetapi masih puluhan juta UMKM yang belum memanfaatkannya.

Landasan Penelitian: Apa yang Ditemukan Para Peneliti?

Data di atas hanya menunjukkan berapa banyak usaha yang sudah hadir di dunia digital. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah media sosial benar-benar berdampak pada usaha. Untuk itu saya melihat dua penelitian.

Menurut penelitian Siahaan, Siboro, dan Saragi (2024) terhadap 40 pemilik UMKM di Medan yang berjualan lewat media sosial dan e-commerce, strategi media sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas usaha. Pengaruh itu makin kuat ketika UMKM juga memakai e-commerce. Menurut makalah yang sama, tingkat interaksi dengan konten perlu diperhatikan lebih dari sekadar pertambahan jumlah pengikut.

Menurut penelitian Sapthiarsyah dan Junita (2024) terhadap pemilik UMKM kuliner di Pekanbaru, dengan 125 tanggapan valid, penggunaan media sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja UMKM. Pengaruhnya tampak lebih besar daripada pemasaran digital lainnya dalam model mereka. Menurut para peneliti, media sosial membantu efisiensi pemasaran, mempererat hubungan dengan pelanggan, dan menekan biaya operasional.

Menurut saya, kedua penelitian ini mengarah ke hal yang sama: yang berpengaruh bukan sekadar hadir di media sosial, melainkan bagaimana usaha memanfaatkannya, terutama dalam berinteraksi dengan pelanggan. Ini sejalan dengan pengalaman saya sebagai pembeli kue tadi, dan menguatkan pendapat saya bahwa viral bukan syarat berkembang.

Meski begitu, menurut saya kedua penelitian ini perlu dibaca hati-hati. Keduanya memakai kuesioner dengan sampel terbatas di satu kota, sehingga hasilnya menunjukkan adanya hubungan, bukan membuktikan bahwa media sosial pasti membuat semua usaha untung.

Kenapa Menurut Saya Media Sosial Cocok untuk UMKM

Menurut saya, keuntungan terbesarnya adalah kemudahan menyampaikan informasi. Pemilik usaha bisa mengunggah foto produk, membuat video singkat, atau membagikan proses produksi. Penjual kue tadi cukup memperlihatkan prosesnya, dan saya langsung punya gambaran tentang apa yang akan saya beli.

Menurut saya, media sosial juga memungkinkan komunikasi langsung. Pertanyaan soal harga, pilihan produk, dan cara pemesanan bisa dijawab lewat komentar atau pesan pribadi. Menurut penelitian Sapthiarsyah dan Junita, hubungan dengan pelanggan memang termasuk manfaat utama media sosial bagi kinerja UMKM.

Namun, menurut saya, aktif mengunggah saja belum cukup. Konten menarik mungkin membuat orang berhenti menggulir layar, tetapi informasi yang jelas dan pelayanan yang ramah yang membuat mereka berani membeli.

Kenapa Tidak Harus Viral

Banyak orang mengira keberhasilan di media sosial diukur dari jumlah penonton dan pengikut. Saya kurang sepakat. Menurut saya, video bisa ditonton ribuan kali tanpa menghasilkan satu pembeli pun, sedangkan konten dengan penonton sedikit tetap berguna kalau menjangkau orang yang memang membutuhkan produknya, seperti yang terjadi pada saya. Pandangan ini sejalan dengan penelitian di Medan tadi yang menekankan interaksi di atas jumlah pengikut.

Karena itu, menurut saya UMKM sebaiknya memahami dulu siapa calon pembelinya dan informasi apa yang membantu mereka memutuskan. Usaha makanan bisa menonjolkan menu, harga, lokasi, dan cara pesan. Penjual pakaian bisa menunjukkan bahan, ukuran, pilihan warna, dan contoh pemakaian. Tujuan akhirnya bukan perhatian sesaat, tetapi hubungan yang membuat pelanggan kembali.

Tantangannya Nyata

Saya tidak ingin menggambarkan semuanya mudah. Pemilik UMKM harus mengurus bahan baku, produksi, pesanan, sampai keuangan, jadi menurut saya membuat konten rutin bisa menjadi beban tambahan yang melelahkan. Menurut makalah Sapthiarsyah dan Junita, keterbatasan pengetahuan teknologi, anggaran, dan keterampilan digital memang masih menjadi hambatan bagi sebagian pelaku UMKM.

Karena itu, menurut saya konten tidak perlu rumit. Memperkenalkan produk unggulan, menjawab pertanyaan yang sering muncul, atau menunjukkan proses pengemasan sudah cukup sebagai awal.

Satu hal lagi yang menurut saya sering terlupa adalah kemampuan memenuhi pesanan. Kalau promosi berhasil, stok, kualitas, dan pelayanan harus tetap terjaga. Percuma ramai pesanan kalau pelanggan akhirnya kecewa karena barang terlambat atau tidak sesuai informasi.

Kalau Saya Jadi Pemilik Usaha Baru

Menurut saya, langkah pertama bukan strategi yang rumit, tetapi menentukan tujuan: memperkenalkan produk, menjangkau pelanggan baru, atau menambah pesanan? Lalu saya akan memilih platform yang sesuai dengan produk dan kebiasaan calon pelanggan, dan membuat jadwal unggahan sederhana supaya konsisten.

Saya juga akan rutin mengevaluasi: konten mana yang direspons, pertanyaan apa yang sering muncul, dan apakah promosi menambah pesanan. Yang terpenting, menurut saya, informasi harus jujur. Foto tidak boleh menyesatkan, harga harus jelas, dan klaim manfaat harus bisa dipertanggungjawabkan. Kepercayaan butuh waktu untuk dibangun, tetapi bisa hilang seketika kalau informasinya tidak sesuai kenyataan.

Penutup

Pada akhirnya, menurut saya, yang terpenting bukan seberapa sering sebuah usaha muncul di beranda orang lain, melainkan seberapa baik usaha itu memenuhi kebutuhan pelanggannya. Media sosial bukan jalan pintas. Kualitas produk, harga, pelayanan, dan pengelolaan usaha tetap menentukan.

Menurut saya, bagi UMKM yang sedang tumbuh, mulai dari langkah kecil justru paling realistis. Tidak harus viral, tidak harus punya ribuan pengikut. Selama produknya dikenal oleh orang yang tepat, informasinya jujur, dan pelayanannya terus diperbaiki, media sosial bisa menjadi sarana yang mendukung usaha berkembang bertahap.