Ketika Kemarahan Kehilangan Batas, Cyberbullying dalam Budaya Fandom

Mahasiswa Universitas Siber Asia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aryanto Wicaksono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perkembangan media sosial di zaman sekarang sering sekali membuat manusia menjadi mudah untuk menyampaikan pendapat, menunjukkan kemarahan atau emosi, serta berinteraksi dengan orang lain. Hal ini juga beriringan dengan sisi negatif apabila dari emosi tersebut tidak dapat kita kendalikan. Salah satu fenomena yang baru-baru ini terjadi dan cukup menarik perhatian di media sosial adalah meninggalnya seorang penggemar ENHYPEN asal Jepang dan seorang influencer di Jepang bernama Mina Chan.
Mina ditemukan meninggal dunia pada 5 Agustus 2026 dalam usia 26 tahun. Polisi di Seoul masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Karena itu, kematiannya tidak dapat secara sederhana disimpulkan hanya disebabkan oleh cyberbullying, tetapi kasus ini tetap menjadi pengingat serius mengenai dampak perilaku agresif di media sosial.
Mengidolakan seseorang yang sangat kita sukai seharusnya menjadi sesuatu hal yang menyenangkan dan menghilangkan stress kita setelah menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, ketika rasa suka berubah menjadi fanatisme, perbedaan pendapat dengan mudah berubah menjadi kemarahan, hinaan, dan bahkan perundungan. Satu komentar mungkin akan terlihat sangat sepele bagi orang yang menulisnya, akan tetapi apabila itu ditulis oleh 100 orang maka hal tersebut akan menjadi masif. Serta kita tidak pernah tau seberapa berat kondisi orang yang membaca komentar tersebut.
Anger Management di Era Media Sosial
Anger management atau pengelolaan kemarahan bukan berarti seseorang tidak boleh marah. Marah merupakan emosi manusia yang normal. Yang menjadi masalah adalah ketika kemarahan tidak dikelola dan kemudian berubah menjadi tindakan yang menyakiti orang lain.
Di media sosial, kemarahan dapat menyebar dengan sangat cepat. Satu komentar negatif dapat dibalas dengan komentar lain, kemudian diikuti oleh pengguna lain yang ikut menyerang. Akhirnya, muncul semacam “kerumunan digital” yang membuat seseorang menjadi sasaran kemarahan banyak orang. Penelitian terbaru mengenai cyberbullying di media sosial bahkan menunjukkan bahwa komentar agresif dapat meningkatkan kemungkinan munculnya komentar agresif berikutnya, sehingga perilaku negatif dapat menyebar dari satu pengguna ke pengguna lainnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa anger management tidak hanya menjadi kemampuan pribadi, tetapi juga menjadi kebutuhan sosial. Sebelum menulis komentar ketika sedang marah, seseorang seharusnya mampu berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah komentar saya benar-benar menyelesaikan masalah? Apakah saya perlu mengatakan ini? Bagaimana perasaan orang tersebut jika membaca komentar saya?
Human Literacy: Menjadi Manusia Sebelum Menjadi Penggemar
Perkembangan teknologi seharusnya tidak membuat manusia kehilangan nilai kemanusiaannya. Human Literacy mengajarkan pentingnya kemampuan memahami manusia, menghargai perasaan orang lain, memiliki empati, serta mempertimbangkan dampak dari tindakan yang kita lakukan.
Dalam kasus ini, kita dapat melihat adanya pertanyaan penting: apakah kita masih melihat orang lain sebagai manusia ketika berinteraksi melalui layar?
Sering kali media sosial membuat jarak antara pelaku dan korban terasa sangat jauh. Seseorang mungkin berpikir bahwa satu komentar kasar tidak akan memberikan dampak besar. Namun, bagi orang yang menerima komentar tersebut, komentar yang sama dapat menjadi salah satu dari banyak tekanan yang sedang dihadapinya. Kita juga tidak pernah benar-benar mengetahui kondisi psikologis seseorang hanya dari apa yang terlihat di media sosial.
Oleh karena itu, memiliki Human Literacy berarti mampu menempatkan kemanusiaan di atas ego dan emosi pribadi. Ketika marah, kita tidak hanya perlu bertanya apakah kita benar, tetapi juga apakah cara kita menyampaikan kebenaran tersebut masih menghargai manusia lain.
Belajar Mengendalikan Diri di Ruang Digital
Kasus Mina Chan seharusnya tidak hanya menjadi bahan perdebatan antara penggemar ENHYPEN. Lebih dari itu, kasus ini dapat menjadi refleksi bagi pengguna media sosial secara umum. Kita perlu menyadari bahwa budaya digital yang sehat tidak dibangun hanya oleh platform atau aturan komunitas, tetapi juga oleh perilaku penggunanya.
Ada beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan. Pertama, memberikan waktu bagi diri sendiri untuk tenang sebelum membalas sesuatu yang membuat marah. Kedua, membedakan antara kritik terhadap tindakan seseorang dan serangan terhadap pribadi seseorang. Ketiga, tidak ikut menyebarkan komentar atau informasi yang belum jelas kebenarannya. Keempat, berani berhenti mengikuti arus ketika sebuah diskusi sudah berubah menjadi perundungan. Kelima, menunjukkan empati dengan mengingat bahwa orang yang berada di balik akun media sosial adalah manusia biasa yang juga dapat terluka.
Peristiwa yang menimpa Mina Chan menjadi pengingat bahwa media sosial bukanlah ruang tanpa konsekuensi. Perbedaan pendapat, kritik, dan kemarahan merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi semuanya membutuhkan batas. Kita boleh marah, tetapi kita tetap memiliki tanggung jawab untuk mengendalikan bagaimana kemarahan tersebut diekspresikan.
Kasus ini seharusnya tidak berhenti sebagai berita viral. Ia seharusnya menjadi refleksi bahwa satu komentar mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis, tetapi dampaknya terhadap orang lain bisa jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Menjadi penggemar seharusnya memberikan kebahagiaan, bukan menjadi alasan untuk menyakiti orang lain. Pada akhirnya, sebelum menjadi fans, pengguna media sosial, atau bagian dari sebuah komunitas, kita harus mengingat satu hal sederhana: kita semua adalah manusia.
