Konten dari Pengguna

Propaganda Kultural Turki: Glorifikasi Utsmani dan Pengaruhnya di Asia Selatan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aryasatya Mirza Nafiys Ahbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar oleh canmiless dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Gambar oleh canmiless dari Pixabay

Setiap negara yang ada di dunia ingin memengaruhi aktor-aktor lain di dunia internasional. Negara yang memiliki pengaruh besar cenderung memiliki kekuatan yang besar di mata internasional. Salah satu contohnya adalah Amerika Serikat, negara ini mendapatkan pengaruh yang begitu besar pasca perang dunia kedua. Amerika Serikat sangat aktif dalam urusan luar negeri dan diplomasi budayanya di dunia hiburan digital. Sehingga, pengaruh yang kuat memerlukan konsistensi dalam membangunnya.

Membangun pengaruh sebenarnya tidak perlu dengan cara militer, tetapi dapat dilakukan dengan diplomasi. Diplomasi yang harus dilakukan bukanlah diplomasi budaya secara umum. Dalam pengertian umum, diplomasi budaya dapat dipahami sebagai upaya untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya dari suatu negara kepada dunia internasioanal (Ramdhan, 2024). Diplomasi budaya yang dimaksud adalah menggabungkan budaya dengan propaganda untuk memengaruhi aktor lain. Propraganda dalam konteks ini dapat dipahami sebagai cara untuk memengaruhi perilaku aktor dan perspektif aktor terhadap negara yang membuat propaganda. Tujuannya adalah membuat aktor-aktor luar menjadi fanatik terhadap negara yang membuat propaganda.

Propaganda yang dapat dilakukan adalah menyelipkannya di film-film yang akan ditayangkan secara internasional. Cara ini sudah dilakukan oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat dari Hollywood. Tayangan-tayangan seperti film sangat mudah ditonton oleh berbagai masyarakat di seluruh dunia. Penggunaan media digital sebagai media propaganda sangat efektif karena algoritma dapat membentuk opini penonton dengan mudah (Fatih dkk., 2024). Kondisi ini menjadi peluang emas bagi sebuah negara untuk menyelipkan propaganda yang dilakukan secara konsisten untuk membangun pengaruh.

Penulis tidak akan membicarakan bagaimana Amerika Serikat membuat propaganda, tetapi akan berfokus pada film sejarah Turki yang menceritakan Utsmani. Turki menjadi salah satu negara yang memiliki industri Film yang cukup besar di dunia. Salah satu genre yang terkenal diantara film-film Turki adalah film sejarah. Film sejarah yang diproduksi banyak sekali menceritakan kejayaan Utsmani di masa lampau. Kondisi ini tidak lepas dari peran pemerintah Turki yang mendukung film-film sejarahnya melalui kanal televisi Turkish Radio and Television Company (TRT).

Kisah-kisah lama yang diromantisasi melalui film sejarah Turki menarik perhatian masyarakat internasional. Ada yang meresponnya dengan baik dan ada yang meresponnya dengan buruk. Meskipun ada yang merespon buruk, tetapi komunitas pecinta film sejarah Turki tersebar di seluruh dunia. Film-film seperti Kurulus Osman, Dirilis Ertugrul, Mehmed Fetihler Sultani, dan Muhtesem Yuzyil menjadi tontonan yang disukai baik masyarakat Turki serta global. Konsumen terbesar dari film sejarah Turki ternyata berasal dari kawasan Asia Selatan. Dari respon positif yang penulis temukan, mereka sangat memuji-muji Utsmani bahkan sampai ingin Utsmani muncul kembali. Kondisi ini membuat fanatisme terhadap Turki Utsmani yang membuat Turki dipandang sebagai negara penerus Utsmani. Masyarakat memandang bahwa Turki harus menjadi Utsmani kembali sebagaimana dahulu kala.

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bagaimana glorifikasi Kekaisaran Utsmani dalam serial sejarah Turki berfungsi sebagai instrumen propaganda kultural, serta identifikasi pengaruh terhadap persepsi masyarakat dan kecenderungan fanatisme penonton, khususnya di Asia Selatan. Penulis sadar ada tantangan yang harus dihadapi, tidak banyak yang meneliti tetang film sejarah Turki. Data-data yang harus didapatkan sangat sulit dicari karena belum banyak yang membuat data dari film sejarah Turki.

Komunikasi internasional memandang propaganda tidak hanya komunikasi yang bersifat kasar dan eksplisit. Propaganda lebih luas dari itu, bentuk propaganda yang sangat halus adalah terselubung melalui media populer seperti film dan serial televisi. Propaganda kontemporer membentuk persepsi, emosi, dan identitas penonton tanpa mereka sadari. Sarana media hiburan sangat efektif karena memiliki jangkauan global dan berbagai lapisan masyarakat.

Film dan serial tidak hanya dipandang sebagai hiburan bagi masyarakat saja, tetapi menjadi alat komunikasi yang membawa nilai, ideologi, dan narasi tertentu. Propaganda melalui media huburan memang terlihat sangat halus seperti tanpa ada maksud tertentu, tetapi jika kita analisis akan ada dampak yang sebenarnya merupakan tujuan dari propaganda. Tujuan dari propaganda adalah memengaruhi persepsi aktor lain terhadap aktor yang membuat propaganda.

Salah satu negara yang gencar melakukan produksi film dan serial sejarah adalah Turki. Beberapa serial yang diproduksi ternyata mendapat dukungan melalui kanal televisi milik pemerintah Turki yaitu TRT. Serial sejarah seperti Diriliş: Ertuğrul, Kuruluş: Osman, Mehmed: Fetihler Sultanı, dan Muhteşem Yüzyıl menunjukkan adanya pola komunikasi yang konsisten untuk membangun narasi sejarah Turki. Serial yang diproduksi Turki cenderung menampilkan kejayaan dan kehebatan Kekaisaran Utsmani dengan pendekatan cerita yang heroik dan emosional.

Propaganda dalam serial sejarah Turki dapat dianalisis dari framing sejarah. Masa lalu Utsmani digambarkan sebagai negara yang besar dengan mengedepankan moral dan keadilan. Tokoh yang ada di serial sejarah (Sultan) juga digambarkan sebagai pemimpin yang adil, religius, dan karismatik. Meskipun memang harus kita akui beberapa sultan Utsmani adalah sosok yang hebat seperti Mehmed II dan Suleyman I. Musuh utama yang ada di serial sejarah sering diposisikan sebagai pihak yang jahat dan tidak adil. Pola tersebut menunjukkan bahwa propaganda bukan berarti mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada, tetapi memberi penekanan terhadap aspek tertentu yang merupakan realitas di masa lampau.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep dari Joseph Nye mengenai soft power, yaitu kemampuan memengaruhi negara lain melalui daya tarik budaya tanpa paksaan, sehingga ia dapat dipahami sebagai daya tarik (Trisni & Putri, 2023). Serial sejarah Turki menjadi salah satu cara yang efektif karena mampu menjangkau audiens internasional. Jangkauan ini bisa kita lihat dari serial Muhtesem Yuzyil yang memiliki penonton sekitar 500 juta di lebih 70 negara (Komisi Penyiaran Indonesia, 2019). Episode pertama Dirilis Ertugrul (versi bahasa Urdu) bahkan mencapai 178 juta penonton di YouTube pada tanggal 27 April 2026. Hampir semua episode dari serial sejarah Turki menyentuh lebih dari 1 juta penonton. Itu bisa terjadi karena serial seperti Kurulus Osman (sebagai contoh) telah disiarkan di 110 negara, maka tidak heran jika sangat banyak peminatnya (Deutsche Welle Indonesia, 2024). Hal ini menunjukkan bahwa distribusi digital meluas hingga masyarakat non-Turki, terutama di Asia Selatan.

Dampak yang dapat kita lihat adalah pengaruhnya terhadap masyarakat global, terutama Asia Selatan. Berdasarkan pengamatan penulis, ada kecenderungan munculnya rasa kagum yang tinggi terhadap Kekaisaran Utsmani setelah menonton serial tersebut. Fenomena ini menyebabkan munculnya romantisasi Utsmani dan keinginan untuk melihat kebangkitan Utsmani. Inilah yang menunjukkan bahwa media memiliki kemampuan untuk membentuk persepsi historis. Artinya, opini publik global dapat dipengaruhi oleh narasi yang dibuat oleh media hiburan.

Salah satu fenomena yang perlu kita perhatikan adalah munculnya akun-akun instagram yang secara konsisten memproduksi konten berupa video edit dan potongan adegan tentang Utsmani. Penulis menemukan fakta bahwa 15 dari 21 akun meromantisasi konten Utsmani berasal dari Asia Selatan, yaitu Pakistan, India, dan Bangladesh. Konten-konten yang diproduksi biasanya mengambil cuplikan serial sejarah atau konten video tentang perkembangan peta Utsmani dari masa ke masa. Konten yang diproduksi juga menyampaikan pesan ideologis seperti kejayaan Islam, kepemimpinan yang adil, dan semangat perjuangan melawan musuh-musuh Islam.

Secara tidak langsung, ada pergeseran dari audiens yang awalnya sebagai konsumen jadi menjadi produsen karena menyebarkan konten Utsmani. Fenomena ini dapat dipahami sebagai internalisasi narasi, audiens tidak hanya memahami cerita serial, tetapi juga ikut mengidentifikasi diri dengan nilai dan simbol yang ada. Kondisi ini terlihat dari munculnya konten dengan interpretasi baru yang membuat citra Utsmani semakin positif. Tentunya ini berdampak baik terhadap Turki selaku negara penerus Utsmani karena mendapatkan dukungan secara tidak langsung dan mendapatkan keuntungan dari kesuksesan serial sejarah tersebut.

Secara kritis, fenomena ini menyebabkan adanya romantisasi sejarah, cerita sejarah yang begitu kompleks disederhanakan oleh narasi antara “pahlawan” dan “musuh”. Fenomena ini menyebabkan munculnya fanatisme digital, sebagian audiens menunjukkan ketertarikan emosional yang sangat kuat terhadap Utsmani. Kondisi tersebut memunculkan keinginan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai masa lalu. Jika fenomena tersebut tidak diimbangi dengan pengetahuan sejarah yang baik, akan ada kondisi yaitu penggunan hanya terpapar oleh konten yang memperkuat pandangan mereka sendiri.

Berdasarkan analisis pembahasan, inti dari tulisan ini menunjukkan bahwa serial sejarah Turki merupakan salah satu media komunikasi yang efektif dalam membangun pengaruh. Serial sejarah yang mereka produksi tidak berfungsi sebagai hiburan saja, tetapi menjadi instrumen propaganda kultural dan soft power. Melalui narasi yang heroik dan emosional, Turki sukses memaksimalkan industri hiburan digital sebagai sarana untuk membentu citra positif. Jangkauan yang luar serta tingginya antusiasme dari penonton membuktikan bahwa produk budaya dapat menembus lintas batas negara dan memengaruhi persepksi publik global.

Fenomena fanatisme dari konsumen serial sejarah Turki (terutama di Asia Selatan) menunjukkan bahwa propaganda modern telah berkembang lebih parsitipatif. Penonton tidak menjadi penerima yang pasif, tetapi menjadi produsen dan penyebar konten narasi Utsmani melalui media sosial seperti Instagram. Secara kritis ini menyebabkan terbentuknya potensi bias, romantisasi sejarah, dan persepsi yang tidak objektif. Oleh karena itu, serial sejarah Turki merupakan strategi propaganda kultural yang bekerja melalui daya tarik budaya dan emosi dalam membangun pengaruh internasional.

Berdasarkan temuan dari penulis, ada beberapa saran yang dapat dipertimbangkan:

1. Bagi Turki, penggunaan serial sejarah sebagai strategi propaganda perlu menjaga akurasi sejarah. Glorifikasi yang berlebihan dapat memicu kritik internasional dan mengurangi kredibilitas narasi. Pendekatan yang lebih proposional dengan akurasi sejarah akan membuat pengaruh Turki lebih berkelanjutan.

2. Bagi masyarakat internasional, terutama Asia Selatan, sangat penting untuk mengonsumsi secara kritis tanpa terlalu melibatkan emosional. Penonton perlu menyadari bahwa serial sejarah merupakan representasi yang telah dikonstruksi ulang, gambaran sejarah yang ditampilkan tentu tidak sepenuhnya objektif.

3. Bagi negara lain, fenomena ini menunjukkan bahwa media hiburan merupakan sarana yang menjanjikan untuk mendapatkan pengaruh. Negara lain dapat memanfaatkan strategi yang dilakukan Turki dengan merekonstruksi kembali sejarah negaranya menjadi serial sejarah.

Sumber:

Fatih, I. Z. Al, Putera, R. A., & Umar, Z. H. (2024). Peran Algoritma Media Sosial dalam Penyebaran Propaganda Politik Digital Menjelang Pemilu. Jurnal Kajian Stratejik Ketahanan Nasional, 7(1), 2024. https://doi.org/10.7454/jkskn.v7i1.10090

Deutsche Welle Indonesia. (2024). Industri Drama TV Turki Jadi Magnet Pariwisata. DW Indonesia. Diakses pada 28 April 2026. https://www.dw.com/id/industri-drama-tv-turki-ampuh-menggaet-wisatawan-mancanegara/a-69640040

Ramdhan, W. (2024). Bahasa Indonesia sebagai Sarana Diplomasi Budaya di Kancah Internasional. Kajian Administrasi Publik dan ilmu Komunikasi, 1(4), 166–175. https://doi.org/10.62383/kajian.v1i4.157

Komisi Penyiaran Indonesia. (2019). Serial TV Turki Digemari Penonton Di 146 Negara. Komisi Penyiiaran Indonesia. Diakses pada 28 April 2026. https://www.kpi.go.id/index.php/id/umum/40-topik-pilihan-2/35473-serial-tv-turki-digemari-penonton-di-146-negara

Tabii Urdu. (2020). Ertugrul Ghazi Urdu | Episode 1 | Season 1. Diakses pada 28 April 2026. https://www.youtube.com/watch?v=fa89NxhAKis

Trisni, S., & Putri, A. (2023). Diplomasi Publik dan Soft Power: Sama atau Berbeda? Andalas Journal of International Studies (AJIS), 12(1), 1. https://doi.org/10.25077/ajis.12.1.1-12.2023