Konten dari Pengguna

Deepfake Learning: Antara Kekhawatiran dan Harapan Pendidikan IPA di Era AI

Ary Gunawan

Ary Gunawan

Guru IPA SMP Muhammadiyah 3 Depok. Penikmat buku dan robotika.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ary Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto bersama Peserta Focus Group Discussion (Dok. Panitia)
zoom-in-whitePerbesar
Foto bersama Peserta Focus Group Discussion (Dok. Panitia)

Jum’at, 29 Agustus 2025, saya berkesempatan mengikuti sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang cukup unik sekaligus menantang berjudul Deepfake Learning dan Transformasi Pendidikan IPA SMP: Pendekatan Fenomenologi Hermeneutik untuk Mitigasi Risiko, Penguatan Ketahanan Digital, dan Integrasi Ajaran Tamansiswa yang diselenggarakan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa di Grand Rohan Jogja. Judulnya panjang, tetapi makna yang saya bawa pulang lebih panjang lagi, yakni tentang bagaimana kita, para pendidik, harus bersiap menghadapi arus deras kecerdasan artifisial dalam dunia pendidikan.

Antara Harapan dan Kekhawatiran

Sejujurnya, sebelum datang saya membayangkan diskusi ini hanya akan berkisar pada bahaya deepfake di media sosial seperti video palsu, foto manipulatif, atau suara sintetis yang bisa menipu. Ternyata, maknanya jauh lebih luas. Dalam pendidikan, deepfake learning justru merujuk pada proses belajar yang “palsu” yaitu seolah-olah siswa belajar, padahal sebenarnya hanya menjadi konsumen hasil rekayasa kecerdasan artifisial.

Contoh konkretnya sederhana: laporan praktikum yang rapi dari ChatGPT, video presentasi yang dipoles generator AI, atau jawaban ujian yang detail dan mendalam tetapi ditulis “tanpa keringat”. Produk itu tampak akademis, tetapi sering kali miskin makna karena siswa tidak benar-benar memahami apa yang mereka buat. Saya jadi bertanya dalam hati: apakah kita sedang mencetak pelajar kreatif, atau sekadar operator mesin pintar?

Catatan dari Sudut Pandang Guru IPA

Sebagai guru IPA, saya merasa dilema ini nyata sekali. Di satu sisi, kecerdasan artifisial mampu memperkaya pembelajaran, terutama menvisualisasi berbagai konsep abstrak, seperti membuat simulasi tata surya, menghasilkan animasi gaya dan gerak, atau menyediakan data eksperimen virtual yang tak mungkin dilakukan di laboratorium sederhana sekolah. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran besar yaitu hilangnya proses berpikir ilmiah yang justru menjadi ruh pendidikan IPA. Bukan tidak mungkin, daya kritis siswa bisa menurun.

IPA bukan sekadar menghafal hukum Newton atau sistem pernapasan. Yang lebih penting adalah mengajarkan bagaimana siswa mengamati fenomena, merumuskan masalah, menyusun hipotesis, lalu menguji dengan eksperimen. Jika semua ini dilewati karena kecerdasan artifisial memberi jawaban instan, maka inti pembelajaran IPA hilang begitu saja.

Penulis berkesempatan menyampaikan pengalaman dan tanggapan (Dok. Panitia)

Fenomenologi Hermeneutik: Membaca Kembali Pengalaman Belajar

Yang menarik dari pelatihan ini adalah pendekatannya: fenomenologi hermeneutik. Pendekatan ini mengajak kita membaca pengalaman belajar secara mendalam, menafsirkan makna di balik fenomena. Jadi, ketika siswa menggunakan kecerdasan artifisial, kita tidak berhenti pada pertanyaan “apakah ini asli atau palsu?”, tetapi lebih jauh: “apa yang dialami siswa ketika berinteraksi dengan AI, dan bagaimana pengalaman itu membentuk pemahaman mereka?”

Bagi saya, inilah kunci mitigasi risiko deepfake learning. Guru tidak cukup hanya melarang atau mendeteksi penggunaan kecerdasan artifisial, tetapi harus menuntun siswa merefleksikan proses belajarnya. AI bisa dipakai, tetapi pengalaman memahami tetap harus dimiliki.

Integrasi Ajaran Tamansiswa: Etika dan Budi Pekerti Digital

Diskusi juga menyinggung pentingnya mengintegrasikan ajaran Ki Hadjar Dewantara, terutama prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Dalam konteks digital, ini berarti guru harus menjadi teladan dalam penggunaan teknologi, membangun semangat belajar bersama siswa, sekaligus memberi kepercayaan agar mereka bertanggung jawab.

Saya merasa, inilah titik temu antara modernitas kecerdasan artifisial dengan kearifan lokal Tamansiswa. Ketahanan digital tidak hanya berarti pandai menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kokoh, jujur, dan berintegritas. Kalau siswa punya budi pekerti digital, risiko deepfake learning bisa ditekan karena mereka sadar nilai kejujuran lebih penting daripada sekadar hasil cepat.

Langkah Mitigasi

Dari pelatihan itu, saya pulang dengan beberapa ide mitigasi sederhana yang bisa saya coba di kelas IPA:

  1. Menekankan proses, bukan hanya produk. Tugas tidak hanya dinilai dari hasil akhir, tetapi juga dari catatan langkah, diskusi, dan refleksi siswa.

  2. Menggunakan AI sebagai co-creator. Misalnya, siswa boleh memakai kecerdasan artifisial untuk mencari kerangka ide, tetapi isi dan interpretasi tetap harus mereka kembangkan sendiri.

  3. Membiasakan verifikasi. Siswa diajak membandingkan hasil kecerdasan artifisial dengan literatur ilmiah, lalu menuliskan perbedaan atau koreksi.

  4. Membangun etika akademik digital. Memberi ruang diskusi tentang apa artinya kejujuran belajar di era AI.

Pelatihan ini membuat saya semakin yakin bahwa deepfake learning adalah tantangan besar, tetapi bukan akhir dari pendidikan. Justru di sinilah peran guru diuji. Guru bukan sekadar sebagai pengajar materi, tetapi sebagai penafsir pengalaman, penjaga integritas, sekaligus penguat karakter siswa.

Kita memang tak bisa menghentikan kecerdasan artifisial, tetapi kita bisa memastikan bahwa kehadirannya tidak menghapus keaslian proses belajar. Seperti kata Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak. Maka tugas kita adalah menuntun, agar dalam derasnya arus teknologi, anak-anak tidak kehilangan arah, melainkan semakin tangguh menghadapi masa depan.

Disclaimer: Tulisan ini merupakan catatan reflektif dari paparan narasumber dan dielaborasi dari berbagai penelusuran informasi, termasuk melalui AI.