Mendengarkan Penggerutu di Awal Tahun

Seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan yang aktif menulis cerita pendek di media cetak nasional
Tulisan dari AS Laksana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada hari kedua tahun 2017, setelah orang-orang berhenti mengirimkan pesan tahun baru, saya bertemu di sebuah rumah makan dengan seorang penggerutu. Saya tidak kenal dengannya.
Di rumah makan itu saya ada janji bertemu seorang teman; si penggerutu rupanya kenalan baik teman saya dan ia kebetulan sedang ada di rumah makan itu. Maka, begitulah, takdir mempertemukan kami, di awal tahun, dan saya harus mendengarkan seorang penggerutu.
Secara umum saya suka bercakap-cakap dengan para penggerutu, maksud saya penggerutu yang cerdas.

Saya kurang senang pada penggerutu yang tidak cerdas, sebab penggerutu jenis ini sering sembrono dalam berpikir dan mudah menyimpulkan apa yang tidak sesuai dengan pandangan mereka sebagai tanda-tanda kehancuran—dalam bahasa orang-orang beriman: kiamat sudah dekat. Mereka gemar mengirimkan kegelapan di dalam pikirannya ke tempurung kepala orang-orang lain.
Penggerutu yang cerdas sering memiliki cara menggerutu yang menyenangkan, sebab ia mampu menggerutu dalam kalimat-kalimat bagus. Ia juga sering memiliki pemikiran menarik di balik gerutunya.
Hanya saja, siang itu sebetulnya saya tidak siap mendengarkan celoteh seorang penggerutu, entah saya mengenalnya, apalagi yang tidak. Tentu ia tak tahu bahwa saya tidak siap.

Ia hanya melihat bahwa saya memiliki dua telinga dan, bagi seorang penggerutu, setiap yang memiliki telinga, kecuali wajan, sudah pasti siap mendengarkan gerutuan.
Ia mengawalinya dari ujung sekali: Indonesia ini, katanya, dimulai dari orang-orang yang pintar-pintar dan mumpuni.
Ada Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Soekarno, Haji Agus Salim, Sutan Takdir Alisjahbana, HOS Tjokroaminoto, KH Hasyim Asy’arie, KH Ahmad Dahlan, dan lain-lain yang sibuk berpikir bagaimana memajukan negeri. Berikutnya masih ada pemikir seperti Soedjatmoko.
Selanjutnya merosot, lalu lebih merosot, lalu lebih merosot lagi.

“Sekarang kita sibuk membicarakan perangai Ahmad Dhani dan semacamnya, dan sekelompok orang ingin mengatur bagaimana seharusnya orang-orang lain menjalankan agama mereka, dan mereka menjadikan hoax sebagai alat untuk menggiring domba-domba,” katanya.
“Tidak ada pekerjaan yang lebih sia-sia ketimbang memikirkan semua itu.”
“Ya,” kata saya.
“Negara ini akan hancur,” katanya.
Ia terdengar seperti peramal, atau penceramah agama yang senang memikirkan hari kiamat.
“Kelihatannya anda berpikir bahwa suatu saat beruk pun bisa menjadi politisi?” kata saya.
“Bisa menjadi presiden juga,” katanya.

Tetapi ia mengatakan bahwa keprihatinannya bukan melulu pada urusan politik, melainkan pada banyak urusan yang semuanya merosot. Semangatnya berkobar ketika ia mencontohkan merosotnya bulutangkis.
Ia sebut nama-nama raksasa mulai dari Ferry Soneville, Tan Joe Hok, Rudy Hartono, Tjun Tjun, Johan Wahyudi, Christian, Ade Chandra, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Verawaty, Ivana Lie, Susy Susanti, dan seterusnya dan kita tidak begitu ingat lagi sekarang ini tentang bulutangkis.
Kita tidak ingat bahwa kita pernah menjadi raksasa di cabang olahraga itu dan tidak ada lagi pemain yang menjadi kebanggaan semua orang.

Saya pikir ia membicarakan situasi yang sudah berbeda. Dulu hanya ada satu stasiun televisi dan sedikit media massa. Orang-orang yang berprestasi cepat menyedot perhatian publik.
Sekarang perhatian orang terpecah-pecah. Semua minta didengar, apa saja minta diperhatikan, dan orang-orang cenderung memungut apa yang tersedia di depan mata dan bisa dicemooh.
Hal yang paling cepat menyedot perhatian orang banyak pada saat ini adalah politik dan agama—atau politik berbaju agama, atau agama berlumur politik. Pada dua hal itu, percakapan bisa begitu sengit dan penuh kebencian.
Lalu ia berbelok, seperti pengendara bajaj yang menikung tanpa memberi tanda.

“Perfilman juga begitu,” katanya.
“Kita memulainya dengan mutu yang bagus melalui Usmar Ismail, Djadoek Djajakoesoema, lalu ada Teguh Karya, Sjumandjaja, Slamet Rahardjo, lalu perjalanannya turun terus sampai kita tidak tahu lagi sekarang ini mutu perfilman kita seperti apa,” katanya lagi.
Ia mengerti apa saja. Saya senang sekali bahwa saat ini kita memiliki banyak orang yang mengerti apa saja. Bisa dikatakan, kita memiliki stok berlimpah untuk orang-orang yang serbatahu.
Untuk beberapa hal saya sepakat terhadap pendapatnya, tetapi tidak semua. Saya tidak ingin menanam pikiran segelap itu terhadap negeri kepulauan ini dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Ada yang baik juga, kata saya, dulu hanya orang-orang kaya yang sanggup membeli televisi dan pasang telepon. Sekarang anak-anak TK dan pengangguran pun memiliki telepon selular. Listrik juga menyala terang di rumah-rumah orang miskin.
Pukul empat sore kami berpisah.
“Nanti kontak-kontak, ya,” kata teman saya.
Sialan!

Saya menjadi lupa apa yang hendak saya sampaikan kepada teman saya. Padahal sejak dari rumah saya sudah berencana menyampaikan kepadanya hal-hal yang bisa ia lakukan untuk meningkatkan minat baca.
Ia memiliki posisi cukup penting dalam pemerintahan di daerahnya dan saya pikir bisa membuat kebijakan untuk mendorong warga daerahnya menjadi gemar membaca.
Saya melambai dengan lemas. Saya tetap menyukai para penggerutu yang cerdas, tetapi tidak sembarang waktu saya siap mendengarkan gerutu mereka.
