Mahasiswa UPN Jatim Latih Warga Binaan Guna Kemandirian Pascabebas

Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UPN Veteran Jawa Timur
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhamad Argya Febrian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
SIDOARJO – Upaya meningkatkan keterampilan warga binaan terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pemasyarakatan (Lapas). Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) - Pengabdian Kepada Masyarakat (PM) Asa Karya Lapas Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur menggandeng Lapas Kelas IIA Sidoarjo untuk menyelenggarakan sosialisasi dan pelatihan pembuatan paving block berpori berbahan limbah abu batu dan dasar-dasar manajemen usaha. Program tersebut diharapkan menjadi bekal keterampilan yang berkelanjutan bagi warga binaan dalam mempersiapkan kehidupan pasca bebas sekaligus membuka peluang pengembangan unit produksi di lingkungan Lapas.


Kegiatan yang dilaksanakan pada 30 Juli - 7 Agustus 2026 di Lapas Kelas IIA Sidoarjo diikuti oleh 60 warga binaan. Pelatihan merupakan bagian dari pelaksanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) - Pengabdian Kepada Masyarakat (PM) yang bertujuan menghadirkan inovasi teknologi tepat guna sekaligus meningkatkan kompetensi masyarakat melalui kegiatan pemberdayaan.
Ketua Tim PKM-PM, Taufiq, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya mengenalkan inovasi paving block berpori, tetapi juga membangun semangat kemandirian ekonomi bagi warga binaan. Menurutnya, keterampilan yang diberikan diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
"Kami ingin memberikan keterampilan yang tidak berhenti pada proses pelatihan saja, tetapi dapat menjadi bekal yang benar-benar dimanfaatkan setelah warga binaan menyelesaikan masa pembinaan. Harapannya, kemampuan ini dapat membuka peluang usaha maupun lapangan pekerjaan baru sehingga mereka memiliki kesiapan untuk kembali berdaya di masyarakat," ujarnya.
Selain memberikan materi mengenai proses produksi paving block berpori, tim juga memperkenalkan dasar - dasar manajemen usaha. Dengan memahami tata cara produksi paving block berpori dan dasar manajemen usaha diharapkan dapat menghasilkan keterampilan bagi warga binaan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Selama pelatihan, peserta memperoleh pendampingan mulai dari pengenalan bahan, proses pencampuran, pencetakan, hingga perawatan produk. Tim PKM-PM juga menyusun buku pedoman sebagai panduan praktik sehingga keterampilan yang telah diberikan dapat terus diterapkan secara mandiri oleh warga binaan maupun petugas Lapas.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Sidoarjo, Harditiyo Hangga, mengapresiasi kolaborasi yang terjalin dengan perguruan tinggi dalam menghadirkan program pembinaan yang aplikatif. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi langkah positif untuk memperluas kesempatan warga binaan memperoleh keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan kewirausahaan.
"Kami menyambut baik kerjasama ini karena memberikan alternatif keterampilan yang bermanfaat bagi warga binaan. Harapannya, ilmu yang diperoleh dapat terus dikembangkan sehingga memiliki nilai ekonomi dan menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat," ungkapnya.
Tidak hanya berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tim PKM-PM juga melakukan pendampingan lanjutan melalui penyediaan buku pedoman, evaluasi hasil produksi, serta pengujian kualitas paving block di laboratorium. Pendampingan tersebut bertujuan memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar yang ditetapkan sekaligus membuka peluang agar proses produksi dapat terus berlanjut di lingkungan Lapas Kelas IIA Sidoarjo.
Melalui kolaborasi ini, Tim PKM-PM Asa Karya Lapas UPNVJT berharap program pemberdayaan yang dilaksanakan tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis warga binaan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, serta peluang ekonomi yang berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pemasyarakatan diharapkan menjadi contoh bahwa inovasi dan pendidikan dapat menjadi jembatan dalam mendukung proses pembinaan menuju kehidupan yang lebih baik setelah bebas.
