Konten dari Pengguna

WFH: Efektif atau Tidak?

Asaduddin Fatihulhaqq

Asaduddin Fatihulhaqq

Menyukai musik dan film. Saat ini bekerja sebagai Product Designer di kumparan.

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asaduddin Fatihulhaqq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dilakukan survei atau berdasarkan hasil survei. Banyak variabel yang perlu diperhatikan untuk menilai efektif atau tidaknya Work From Home (WFH), di antaranya sifat organisasi (profit, non-profit, semi profit), jenis instansi (pemerintah, swasta, NGO), jenis pekerjaannya, posisi karyawan di tempat kerja, dsb. Untuk jenis pekerjaan yang berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan tidak mengharuskan layanan kontak langsung dengan konsumen/pelanggan (user), WFH adalah pilihan yang tepat. Namun, untuk jenis pekerjaan atau layanan tertentu yang tidak dapat digantikan oleh TIK, maka bekerja di kantor atau di tempat kerja adalah sebuah tuntutan.

Ilustrasi work from home foto Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi work from home foto Pexels

Di awal pandemi COVID-19, WFH mungkin dianggap ‘aneh’ dan ‘tidak mengenakkan’. Namun, saat pandemi COVID-19 telah berlangsung dua tahun dan WFH telah menjadi sebuah kebiasaan, bekerja dari rumah justru mengasyikkan dan memberikan peluang untuk lebih produktif. Terjebak dalam kemacetan saat berangkat dan pulang kerja yang menyebabkan kelelahan, dapat menyebabkan produktivitas hanya sebatas jam kerja. Jenis profesi tertentu, dengan adanya kebijakan WFH, bisa jadi ini sangat menguntungkan. Profesi tertentu merasa diuntungkan karena dapat melakukan beberapa pekerjaan dan kegiatan cukup dari rumah. Tidak harus pindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Ilustrasi kemacetan foto Pexels

Perusahaan swasta yang bergerak di bidang e-commerce, layanan berbasis online, media massa on-line dan sejenisnya, di mana pekerjaan dapat dikerjakan dari rumah, maka WFH dapat menghemat biaya operasional perusahaan. Perusahaan tidak perlu memiliki kantor atau gedung yang besar sebagai tempat kerja karyawannya, karena karyawan dapat bekerja dari rumah. Perusahaan juga dapat menghemat pengeluaran biaya listrik dan air. Dari sisi karyawan, dapat menghemat pengeluaran biaya transportasi dan konsumsi di saat harus bekerja di kantor. Untuk mengontrol produktivitas karyawan, perusahaan dapat memberlakukan beberapa kebijakan, misalnya absen secara elektronik, kerja berbasis hasil, produktivitas dapat diukur secara kuantitatif, dan sebagainya.

Revolusi Industri 4.0, masyarakat 5.0 dan pandemi COVID-19 merupakan situasi yang memperkuat tuntutan dan kebutuhan WFH. Menarik untuk mencermati hasil survei Okta (access-management company) di Inggris, terhadap 6.000 pekerja di seluruh Eropa. Survei menunjukkan, bahwa sekitar 75 persen pegawai tetap menginginkan bekerja dari rumah. Hanya sekitar 17 persen yang menginginkan bekerja dari rumah sepenuhnya. Selebihnya menginginkan bekerja dari rumah paruh waktu.

Anda bagian dari responden yang mana? Efektif tidaknya WFH sangat bergantung dari perusahaan atau instansi dalam membangun sistem yang dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawannya, meski harus bekerja dari rumah.