Ayah Sebagai Kepala Madrasah (1)

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah lebih dari 10 tahun masyarakat Indonesia memperingati hari ayah. Hari ayah jatuh pada tanggal 12 November sejak 2014 silam. Di hari itu adalah sebuah momen untuk mengingat peran besar ayah.
Selain Ibu, salah satu peran besar ayah adalah kepala madrasah dalam keluarga. Keluarga yang harmonis, yaitu keluarga yang berjalan peran dan fungsinya masing-masing. Peran Ibu dan Ayah harus saling bersinergi dalam pendidikan keluarga.
Pepatah arab mengatakan ibu adalah madrasah pertama. Sedangkan ayah adalah kepala madrasah. Ayah dan Ibu punya tujuan yang sama untuk menjadikan keluarga sebagai ruang belajar. Ayah punya kurikulum visioner di tengah keluarga, sementara Sang Ibu bergerak menjabarkan kurikulum itu.
Dalam kurikulum tidak bisa lepas dari sebaran mata pelajaran. Mulai dari bangun sampai tidur lagi, ruang kelas keluarga harus diatur. Anggota keluarga tidak boleh keluar masuk rumah sembarangan tanpa izin.
Jika ada anggota keluarga yang terlambat bangun atau pulang dari luar rumah, sikap yang baik adalah mengingatkan. Buatkan rambu-rambu sedini mungkin agar anggota keluarga menjalankan pendidikan keluarga.
Ibu harus peka terhadap contoh yang sudah diberikan oleh Sang Ayah. Ayah harus lebih memahami dan mengerti terhadap kebutuhan keluarga untuk mendukung pendidikan. Saat subuh tiba, anggota keluarga dibangunkan.
Ibu dibangunkan dan anak-anak pun dibangunkan. Ibu dibangunkan lebih dulu dari pada anak. Sedangkan anak dibangunkan belakangan. Ibu dibangunkan lebih dahulu agar bisa memberikan teladan kepada anak.
Sedangkan ayah harus lebih awal bangun subuh untuk membangunkan anggota keluarga. Jangan berharap pendidikan di keluarga akan berjalan dengan baik, jika tidak ada peran dan teladan dari ayah.
Maka, ayah harus lebih sering menampilkan teladan di tengah keluarga. Namun, tidak ada salahnya sesekali Sang Ibu ikut memberi teladan kepada Suaminya. Saling bersinergi, jika suami terlalu lelah, membangunkan anggota keluarga bisa diambil oleh istri.
Setelah anggota keluarga bangun, tidak lupa membaca doa yang sudah diajarkan oleh agama Islam. Doa itu sebagai pendidikan rasa syukur bahwa manusia sudah dibangunkan kembali oleh Allah. Bagaimana jika tidurnya bablas, pas bangun sudah di alam kubur. Tentu hal ini yang bukan diharapkan oleh anggota keluarga.
Di sanalah letak rasa syukur seorang kepada Tuhan bahwa manusia itu lemah dan tidak punya kekuatan. Untuk membentuk kekuatan baru dalam diri manusia, salah satunya dibentuk dan didorong oleh kekuatan doa.
Doa sudah dipanjatkan, bergegas mengambil air wudu. Wudu anggota keluarga dilihat dan dievaluasi jika ada yang salah. Di sinilah peran ayah, posisi keilmuan sebagai kepala sekolah harus lebih unggul dari pada anggota keluarga.
Namanya juga kepala sekolah di rumah tangga, posisi ayah harus terus belajar dan belajar. Apalagi ayah sudah dibelajarkan oleh Allah melalui peristiwa Covid 19. Di sana peran ayah betul-betul diuji kompetensinya.
Saat pandemi melanda dunia, kompetensi ayah diperlihatkan kepada anggota keluarga. Paling tidak saat mengimami istri dan anaknya, baik ketika salat lima waktu maupun salat sunnah tarawi di bulan Ramadan. Ini artinya kompetensi ayah sebagai kepala madrasah harus punya hafalan al-Qur’an, minimal surat-surat pendek.
Anggota keluarga sudah berwudu. Anak dan ayahnya pergi salat subuh ke masjid. Sementara Ibunya di rumah. Sesekali istri juga boleh salat subuh berjamaah di masjid sambil mengawal pendidikan anak dan melihat teladan ayah di luar rumah.
Selesai salat subuh, tidak lupa kurikulum kedua adalah membaca al-Qur’an. Al-Qur’an adalah instrumen penting agar keluarga menjadi lebih tenang dan damai. Kepala madrasah bisa membuatkan waktu khusus untuk membaca al-Qur’an. Misalnya, ketika selesai salat maghrib dan subuh.
Membaca al-Qur’an setelah salat subuh seharusnya menjadi kegiatan harian keluarga yang tidak boleh ditinggalkan. Karena Al-Qur’an adalah obat untuk memberi terapi kepada keluarga yang ingin lepas dari penyakit.
Penyakit anggota keluarga itu bisa berupa tidak bersyukur, terus menerus mengeluh, tidak menghargai anggota keluarga, keluar rumah tanpa izin, silau melihat kemajuan tetangganya, tidak bisa menjaga kehormatan keluarga dan lain sebagainya. Di tengah-tengah masalah itu, al-Qur’an datang untuk memberi solusi.
Solusi pertama yang dihadirkan oleh al-Qur’an adalah rasa ketenangan. Ketenangan keluarga sangatlah penting digenggam oleh anggota keluarga. Keluarga yang tidak memiliki rasa ketenangan, rawan terpecah belah.
Maka sikap tenang, memberi bekal untuk berpikir jernih atas masalah yang ada di tengah keluarga. Selama tidak tenang, hampir tidak mungkin akan bisa menghadirkan solusi yang baik. Pikiran dan sikap kepala madrasah harus tenang, maka insya Allah anggota keluarga pun akan tenang. Semoga bermanfaat.
