Belajar dari Bak Mandi

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bak mandi itu tak berdosa, baru satu minggu dibersihkan oleh pembersih, ia sudah terlihat bernoda. Bak mandi menampung air untuk mandi, cukup satu kali mandi dengan tiga orang atau lebih pengguna. Bak mandi, setiap hari selalu diisi air.
Tak satu hari pun, ia kosong. Hanya waktu tertentu saja ia kosong, seperti saat ditinggal mudik tahunan, tugas luar kota atau lainnya. Satu hari diisi air, bak mandi belum terlihat kotor. Dua hari, tiga hari, empat hari, sampe seminggu lamanya, bak mandi baru terlihat bernoda.
Ia begitu loyal menerima kucuran air. Tak pernah berucap darinya, sikap keengganan menerima air. Pagi, siang, sore atau malam, ia selalu siap untuk menerima kucuran air. Ia juga tak pernah mengeluh. Mau musim kemarau atau hujan, ia siap membantu manusia.
Pelajaran Penting
Tak pernah pilah pilih. Mau orang kaya atau miskin. Beragama Islam atau non Islam. Tua atau muda. Ia tak menghiraukan itu, yang penting ia siap menampung air untuk kebutuhan manusia. Prinsipnya semua pihak sama-sama punya hak.
Hak untuk ditolong dan juga hak untuk didengar jeritannya. Disisi lain, ia juga punya hak untuk dirawat dari segala kotoran yang nempel pada dirinya. Bagi manusia, bak mandi sudah banyak membantu dalam kehidupan hari-hari.
Maka timbal baliknya, manusia harus memanusiakan bak. Agar bak selalu dalam koridor bak yang di bak-kan. Artinya bak juga mempunyai hak untuk bernafas sejenak dari rutinitas yang tak boleh tidak. Dalam kehidupan manusia, ada orang yang seperti bak.
Ia tidak bosan-bosannya memberikan manfaat kepada sesama manusia. Tidak kenal lelah. Tidak kenal cibiran. Tidak kenal nyinyiran. Selama ia niatnya ikhlas, kebaikannya terus saja dilakukan tanpa melihat ada orang yang mendukung atau tidak, ia terus maju, melakukan kebaikan untuk kemaslahatan umat manusia, seperti bak yang tak bosan-bosannya membantu kita yang tak kenal musim.
Bahkan lintas musim dan tidak mau tau soal musim. Perhatian kepada tak boleh kalah dengan perhatian kita kepada diri sendiri. Bak yang tak terurus, lama kelamaan akan sakit. Bak yang tadinya bersih dan putih, karena tak terurus, pelan-pelan akan terlihat kumel, dekil dan bernoda.
Begitu juga jiwa manusia, tak jauh dari bak. Jiwa manusia harus diurus dengan baik. Jiwa yang tak terurus dari noda dan dosa, akan seperti bak. Jiwa akan terlihat lusuh, kurang semangat, gelisah, mudah goyah, dan lain-lain.
Jiwa ini harus terus dibersihkan dengan kembali mendekat kepada Tuhan pemberi kebahagian. Kembali sepenuh hati hamba secara berkelanjutan tanpa kenal lelah. Oleh karena itu, ia harus kembali. Kembali dengan beribadah yang benar, sesuai tuntunannya.
Kembali kepada garis orbit, yaitu mengorbit Tuhan dengan benar. Karena ibadah yang benar akan melahirkan kesucian batin dan juga fisik. Ketika mengambil air wudhu yang benar misalnya, fisik kita akan bersih begitu juga batinnya.
Ibaratnya seseorang mandi setiap hari lima kali, maka seharusnya tidak ada lagi kotoran dan noda yang menempel di badannya. Namun, kenapa masih saja ada orang yang ibadahnya jalan terus tapi perilakunya kotor?.
Ibaratnya setiap hari mandi lima kali, tapi fisiknya belum bersih. Maka, berhentilah sejenak. Merenung. Mengevaluasi diri. Dan tarik napas dalam dalamnya, mungkin ada yang salah dalam praktik ibadahnya. Mulai dari: niatnya, motivasi, wudunya, tata cara salatnya, dan lain-lain.
Tidak mungkin ibadah yang benar tidak mempunyai pengaruh. Pengaruh terhadap diri atau lingkungannya. Seperti bak mandi, jika dibersihkan dengan benar, pasti hasilnya akan terlihat terang dan mengkilat.
Sehingga, air yang ada di dalam bak itu, menjadi tenang dan nyaman. Ini artinya, ibadah yang benar akan terpancar dalam diri manusia berupa ketenangan dan kebahagian.Ketenangan dan kebahagian inilah, kemudian akan menjalar ke dalam berbagai aktivitas manusia.
Misal bekerja. Manusia dalam bekerja perlu ketenangan. Dan ketenangan ini yang akan mendorong produktivitas bekerja. Oleh sebab itu, bekerja yang baik harus didampingi oleh sikon yang kondusif. Baik kondusif iklimnya, aturannya, tata laksana kerjanya ataupun kondusif yang lainnya.
Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang dan Ketua DPD FDI Banten
