Bukan Sekadar Lomba

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam tempo hitungan hari ke depan (13/08/2025), bangsa Indonesia akan merayakan kemerdekaannya yang ke-80. Kemerdekaan yang diraih dengan darah dan air mata itu tidak mudah datang menyapa bangsa Indonesia.
Kemerdekaan itu harus diusahakan dengan segenap perjuangan, doa, ikhtiar dan berbagai pengorbanan. Setelah merdeka, kini masyarakat Indonesia bebas melakukan apa saja sesuai yang dikehendaki. Kebebasan ini dibuktikan dengan perlombaan untuk mengisi kemerdekaan.
Lomba dalam mengisi kemerdekaan, memang tidak ada yang melarang. Hanya saja jika kita bertanya apakah masih relevan mengisi kemerdekaan dengan lomba. Tentu, jawabannya pro kontra. Lomba, sebaiknya diisi oleh lomba yang dapat membebaskan masyarakat dari berbagai cengkeraman.
Baik dari cengkeraman politik, ekonomi, identitas, agama, fisik maupun budaya. Yang terakhir ini penting diperdalam dalam hubungannya dengan perlombaan yang digelar di berbagai daerah.
Sejatinya lomba bukan hanya sekedar lomba, namun ada nilai yang mendorong masyarakat agar keluar dari jahiliah modern. Lomba panjat pinang misalnya, apakah ini hanya mengulang sejarah yang dulu sudah digelar oleh penjajah Belanda?
Dulu, saat penjajah Belanda habis-habisan mengisap kekayaan alam Indonesia, di tengah santai sambil minum kopi penjajah Belanda melihat permainan panjat pinang. Belanda melihat masyarakat Indonesia berebut ingin naik ke atas dengan cara injak kanan dan kiri.
Saling sikut dan saling dorong satu sama lain. Sementara Belanda melihat itu tersenyum, kadang tertawa. Senyum dan tawa penjajah Belanda ini seolah-olah menjadi hiburan tersendiri di tengah berbagai eksploitasi yang terjadi di wilayah Indonesia.
Sebelum lomba dimulai, terlebih dahulu ada panitia lomba. Panitia lomba ini sebaiknya diisi oleh orang yang paham betul masa depan Indonesia ke depan. Agar lomba yang akan digelar memberikan pencerahan, menggugah, membangun, dan membebaskan masyarakat dari berbagai cengkeraman.
Di sinilah pentingnya panitia lomba diisi oleh orang yang kompeten. Hanya, siapa yang kompeten itu? Yang kompeten itu rasa-rasanya jarang ada orang yang kompeten bisa urun tangan untuk membuat acara bisa berdampak positif.
Orang yang kompeten itu punya kesibukan. Hari kerja ia dipadati oleh tugas-tugas menumpuk. Saat tiba di rumah, ia sudah lelah. Fisik dan jiwanya sudah lelah, sehingga sampai rumah fisik dan jiwanya ingin rehat dari rutinitas yang membelenggu.
Jadi kalau begitu, siapa yang bisa mengawal lomba itu? Jika begitu, bisa jadi panitianya masyarakat biasa. Meskipun demikian adanya, tapi tidak ada salahnya di dalam panitia itu ada anggota yang mencari ide-ide kepada warga di sekitar rumah.
Mencari ide itu, tidak harus datang dari ke rumah ke rumah, bisa dengan cara meminta saran dan masukan dari group WA. Atau membuat google form yang disebarkan kepada warga untuk menjaring ide-ide kreatif.
Tidak lupa juga segenap panitia bisa berkunjung kepada sesepuh lingkungan. Sesepuh tersebut bisa secara usia yang dituakan atau secara ilmu bisa diminta nasehat dan saran terbaiknya.
Jika sudah dijalani dengan cara di atas, maka tinggal dipilih saran terbaik dari warga dan para tokoh yang kompeten. Setelah dipilih baru kemudian mendiskusikan teknik pelaksanaan dan para penanggung jawab acaranya ditentukan.
Acara lomba dikemas secara apik. Efisiensi waktu dan anggaran dihitung dengan cermat. Sementara jenis lomba sudah tercatat sesuai budaya daerahnya. Asalkan lombanya tidak asal lomba, namun memperhitungkan makna dan nilai dibalik lomba.
Setelah siap dengan segudang jenis lomba, baru acara dibuka dengan menyebut nama Allah. baik itu melalui doa atau melalui tilawah al-Qur’an. Karena merdeka, hakikatnya adalah berkat rahmat Allah, bukan sepenuhnya usaha manusia.
Setelah selesai menyebut nama Allah agar lomba selalu diberikan keberkahan, baru kemudian lomba bisa dimulai. Di dalam lomba, tidak boleh ada makanan dan barang-barang yang disia-siakan. Lomba curat-coret muka sebaiknya tidak usah diadakan.
Lomba memakai pakaian dinas perempuan yang dikenakan oleh laki-laki, tidak usah dihadirkan. Lomba main bola dengan mengenakan pakaian perempuan juga tidak boleh diadakan.
Lomba yang diadakan oleh panitia kemerdekaan tidak boleh merusak mental masyarakat. lebih baik lomba itu yang mendorong masyarakat keluar dari kebodohan, rajin bekerja dan rajin beribadah.
Bukan malah berjoget ria, sambil minum bercampur perempuan dan laki-laki saling berhadap-hadapan. Tempat lombanya jangan sampai mengganggu ketertiban umum. Apalah arti merdeka, jika dengan lomba orang lain terganggu dari rasa kedamaiannya.
Damai itu merdeka batinnya. Jiwa merdeka itu tidak boleh membuat orang lain menjadi tidak merdeka, karena terganggu oleh acara lomba. Inilah yang perlu diperhatikan oleh panitia lomba 17 Agustus. Semoga bermanfaat.
