Dari Air ke Etika: Makna Wudu' bagi Relasi Sosial yang Harmonis (9 Selesai)

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tulisan yang kedelapan, penulis sudah menjelaskan hikmah tertib dalam berwudu. Sedangkan, pada tulisan yang kesembilan ini penulis insya Allah akan menjelaskan hikmah berdoa setelah berwudu’.
Di dalam agama Islam, hampir setiap aktivitas di dalam kehidupan sehari-hari ada doanya. Mau makan dan setelah makan ada doanya. Mau tidur dan bangun tidur ada doanya. Masuk dan keluar masjid adanya doanya. Masuk dan keluar kamar mandi ada doanya. Hampir semua aktivitas, adanya doanya, termasuk berdoa setelah berwudu.
Maksud dan tujuan dari setiap aktivitas ada doanya itu adalah untuk mengubah aktivitas rutinitas menjadi ibadah. Di dalamnya doa itu adalah permohonan agar dalam menjalankan aktivitas diberikan petunjuk oleh Allah. Apalagi wudu, aktivitas yang menjadi syarat utama sebelum menunaikan shalat bagi semua umat Islam.
Semua umat Islam sudah harus mengetahui doa setelah berwudu’. Doa setelah berwudu sebagaimana kita ketahui bersama, yaitu; membaca syahadat dan membaca doa agar kita dijadikan oleh Allah orang-orang yang suka bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.
Doa itu, sejak kecil hingga kini sudah hafal di luar kepala. Kini, setelah kita dewasa kita bertanya, kenapa doa setelah berwudu’ itu membaca syahadat, doa taubat dan penyucian jiwa? Jika dipikir secara sekilas tidak ada kaitannya dengan berwudu’.
Padahal, jika kita cermati bahwa wudu’ itu merontokkan kotoran batin yang keluar dari anggota wudu yang dibasih, sebagaimana dijelaskan oleh hadist Nabi Muhammadiyah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.
Kotoran-kotoran batin itu keluar dan luntur seiring terbawa jatuhnya air ke tanah. Maka, setelah selesai berwudu ditegaskan kembali oleh agama Islam bahwa manusia itu harus menjaga iman kepada Allah dan Rasulnya melalui dua kalimat syahadat.
Baru saja masyarakat Indonesia sudah memperingati HUT RI yang ke-80, dihitung sejak tahun 1945. Kemerdekaan RI lepas dari penjajahan bangsa Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang.
Sebenarnya dalam konteks agama Islam, semua manusia sudah merdeka sejak ada dalam kandungan ibunya ketika berusia empat bulan. Di saat itu lah manusia memproklamirkan dirinya sebagai hamba Allah, bukan hamba selain Allah.
Ini artinya semua manusia pada waktu usia empat bulan adalah makhluk yang sudah bertuhan. Ketika lahir dan sudah menginjak usia baligh, ia diwajibkan oleh agama Islam untuk melaksanakan salat.
Sebelum salat diwajibkan berwudu dan setelah berwudu dianjurkan untuk berdoa kepada Allah. Doanya membaca dua kalimat syahadat, doa bertaubat dan doa menyucikan diri.
Membaca syahadat setelah berwudu’ adalah bentuk peneguhan dan perawatan dari kemerdekaan yang sudah dikumandangkan oleh setiap manusia. Lima kali dalam sehari semalam kita diingatkan oleh Allah selalu memegang keyakinan.
Peneguhan dan perawatan keyakinan melalui bacaan dua kalimat syahadat, jika dihitung antara bacaan syahadat ketika selesai berwudu dan bacaan syahadat saat salat, maka sudah ribuan hingga ratusan ribu bacaan dua kalimat syahadat.
Dari ribuan hingga ratusan ribu membaca dua kalimat syahadat itu, adakah pengaruhnya kepada diri ini. Apakah diri ini sudah teguh keyakinan ataukah masih terbawa arus sana-sana? Mari kita jawab oleh diri kita masing-masing.
Orang yang hatinya teguh dengan keyakinan penuh kepada Allah, ia akan selalu yakin bahwa setiap kejadian dalam kehidupan sehari-hari adalah atas izinnya. Kejadian itu bisa menimpa diri sendiri, keluarga, kelompok masyarakat dan termasuk kelompok masyarakat yang ada di kantor.
Insan beriman yang memegang teguh keyakinannya dalam bergaul dengan kelompok masyarakat kantor, ia akan membawa keyakinanya dalam bentuk interaksi social yang mencerminkan keimanan.
Imannya tidak hanya di masjid dan ketika sedang mengikuti pengajian saja, tapi imannya dihadirkan ke dalam interaksi social. Iman yang selalu hadir saat berinteraksi, maka interaksinya ada rambu-rambu yang tidak boleh keluar batas.
Aktivitas pembicaraanya dituntun oleh imannya. Saat memandang, ia tidak sembarang memandang. Memandangnya dengan doa dan kasih sayang. Saat bertutur dengan sesama teman, ia menghadirkan tutur yang indah dan penuh makna.
Tutur yang kotor dan hati yang menyimpan bara kemarahan dibuang jauh-jauh melalui penghayatan makna wudu yang mendalam. Kejadian yang menghampiri diri kita dihadapi dengan bijak dan dada lapang.
Dalam pandangan orang beriman, semua kejadian itu mengandung pelajaran hidup. Semua kejadian tidak hampa makna. Semua kejadian ada maksud dan tujuan yang ingin diberikan kepada hamba-Nya, orang beriman.
Masalah yang datang itu disambut dengan iman yang teguh, bukan mengeluh yang meluluh-lantahkan sendi-sendi motivasi hidup. Mengeluh sewajarnya saja, tidak usah menghentikan deyut nadi kehidupan.
Sejatinya orang beriman berdoa setelah wudu dengan syahadat, taubat dan penyucian diri adalah bentuk kelemahan manusia dihadapan Tuhannya. Agar ia tetap teguh motivasi hidupnya, meskipun ujian datang bertubi-tubi menghampiri.
Saat datang ujian bertubi-tubi, saat itulah manusia kembali kepada Allah dengan cara bertaubat. Pada umumnya, momen manusia kembali kepada Allah ketika himpitan kehidupan datang kepada manusia.
Saat sedang bahagia kadang lupa. Saat sedang ditimpa musibah manusia kembali banyak berdzikir kepada-Nya. Ini lumrahnya. Namun, pelajaran doa setelah wudu kita diajak untuk kembali kepada Allah setiap waktu.
Di saat itulah manusia beriman bisa meraih kesucian batin, karena dosa-dosa yang diperbuat oleh muka, tangan, kepala dan kaki itu sudah dicuci bersih oleh wudu yang merupakan simbol gerbang pembersihan dosa-dosa sebelum menghadap Allah melalui shalat. Semoga bermanfaat.
