Konten dari Pengguna

Dari Kampus Ke Masyarakat: Membaca Wisuda dalam Perspektif Pendidikan (2)

Asep Abdurrohman

Asep Abdurrohman

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Galerikonveksi51.com
zoom-in-whitePerbesar
Galerikonveksi51.com

Setelah undangan diterima oleh calon wisudawan/i, orang tua ikut diundang untuk mendampingi anaknya. Anak sudah mulai sibuk bertanya kabar kepada akademik soal kapan dan di mana tempat wisudanya.

Laki-laki tidak terlalu repot mencari baju untuk menghadiri wisuda, cukup mengenakan kemeja, dasi, celana panjang dan toga yang diberikan oleh pihak kampus. Tapi, perempuan cukup repot mencari kebaya yang sesuai dengan seleranya masing-masing.

Mencari kebaya ke berbagai toko dan mall, hingga toko-toko yang berjejer pun tidak luput dari incaran kaum hawa. Maklum, wanita senang tampil berhias. Wanita sudah fitrahnya senang berhias dan bersolek yang indah.

Setelah anaknya dapat seragam baju yang pas, sekarang giliran orang tua mencari baju yang pas dan cocok untuk dikenakan sebagai pendamping anaknya. Ada orang tua laki-laki yang mengenakan setelan jas rapi dan ada juga orang tua yang mengenakan pakaian batik.

Pilih memilih pakaian untuk dikenakan saat wisuda adalah usaha sadar untuk mendidik diri agar rapi dan penuh bahagia saat dikenakan. Pakaian yang melekat di badan sejatinya adalah pakaian identitas pemakainya.

Pemakai baju, memilih sana-sini untuk mencari baju yang pas, bukan berarti manja dan hedonis belanja. Namun, lebih dari itu upaya mendidik diri agar mencari baju yang sesuai dengan karakter dan tentunya sesuai dengan warna kulit.

Jangan sampai mengenakan baju yang tidak pas antara baju dan rok bagi kaum wanita. Begitu juga bagi laki-laki, dipilih antara baju, dasi, batik dan celana. Semuanya harus pas, agar enak dipandang dan menimbulkan penghargaan dari masyarakat.

Ini bukan ingin dipuja dan dipuji oleh orang lain, namun ingin memperlihatkan bahwa orang beriman itu harus menampilkan rapi dan enak dipandang. Mukanya tidak buluk. Baju disetrika. Pakaiannya harum, tidak bau badan. Sehingga masyarakat pun yang memandang merasa takjub melihatnya.

Nabi Muhammad SAW dalam suatu waktu pernah menegur sahabat yang rambutnya kumel dan acak-acakan. Nabi Muhammad SAW meminta kepada sahabat itu agar disisir. Di lain kesempatan kondisi badan Nabi harum. Bahkan, beberapa meter sebelum Nabi tiba, sahabat sudah mencium bau harumnya.

Ini menunjukkan bahwa agama itu indah dan menyukai keindahan. Umatnya pun harus indah dan harum, termasuk saat mengenakan baju akan wisuda. Wisuda memang ajang transfer haru dan bahagia. Baik untuk yang wisudanya maupun yang mengantarnya, orang tua.

Rasa haru dan bahagia itu ditunjukkan dengan mengenakan pakaian yang indah dan bau harum badannya. Bahkan, di antara keluarga yang mengantar, ada membawa bus untuk keluarga besarnya. Ini saking ikut bahagia dan senangnya, karena ada anggota keluarga yang berhasil mendapatkan titel sarjana.

Setelah mendapatkan baju yang pas untuk wisuda dan orang tua yang mengantar, tiba keesokan harinya rasa bahagia segera menyelinap dalam jiwa. Calon wisudawan/i rasanya tidak enak makan. Bahkan, malamnya tidak bisa tidur, karena ingin segera tiba waktu pagi.

Pagi menyapa, toga dan baju yang sudah disiapkan itu segera dipakai. Sarapan sudah siap, namun rasanya tidak karuan. Hal itu wajar, mengingat momen wisuda hanya terjadi selama hidup, jika tidak lanjut ke jenjang kuliah berikutnya.

Kendaraan yang sudah siap betul-betul disiapkan dari kemarin. Yang belum punya kendaraan berani untuk sewa kendaraan, demi untuk menjalani wisuda bersama orang tercinta. Pada titik ini, orang tua rela berkorban untuk anaknya.

Bagi anak, pengorbanan orang tua adalah bentuk kasih sayang nyata yang mendidiknya, agar rela berkorban untuk orang-orang tercinta. Sikap orang tua ini, akan terekam kuat oleh sang anak sampai dewasa nanti, bahkan sampai tua renta.

Melihat pengorbanan itu, kadang sang anak menangis. Orang tua pun menjadi haru, balik menyapa dengan tangisan sayangnya. Sambil kendaraan melaju ke tempat wisuda, di dalam kendaraan rasa gundah ingin segera sampai tidak terbantahkan.

Sesekali tengok sana-sini mencari jalan yang tidak macet. Injak gas, rasanya injak kopling. Menekan rem rasanya menekan gigi. Semua jadi serba salah, saking harunya. Jarak rumah ke tempat wisuda itu rasanya cukup lama, seperti lamanya menunggu jodoh yang belum kunjung tiba.

Tidak lama kemudian, kendaraan tiba di tempat wisuda. Mencari parkir sambil diiringi macet tersendat-sendat, orang tua dan anak semakin salah tingkah. Setelah turun dari parkir, kakinya seperti tidak menyentuh bumi.

Bertanya kepada tukang parkir mengenai ruang wisudanya di sebelah mana gerangan? Ini semata-mata agar tidak menyasar ke tempat lain, karena wisuda akan segera mulai. Bertanya adalah pendidikan keberanian di tengah rasa haru menyelimuti calon wisudawan/i.

Didapat petugas parkir yang mampu mengarahkan ruangan wisuda, kaki wisudawan/i melangkah ke ruangan dengan pasti dan rasa haru. Wisudawan/i masuk dan orang tua pun masuk dan duduk di barisan belakang wisudawan/i.

Orang tua masuk ke ruang wisuda, seperti sedang masuk ke lorong masa depan anak yang penuh keindahan. Tiba di kursi tunggu, matanya kadang terpejam dan kadang menengok sana-sini melihat posisi duduknya anak di depan.

Begitu pun anaknya yang sedang duduk di depan, matanya menoleh ke belakang. Larak-lirik ke sana kemari untuk mencari keberadaan orang tua. Jadilah dua insan yang terpisah oleh jarak dan peran. Keduanya merasakan betapa indahnya dunia ini sambil berlinang air mata, tidak menyangka bisa sampai pada momen penting ini. Semoga bermanfaat.