Konten dari Pengguna

Dari Proposal Akademik Ke Proposal Kehidupan (1)

Asep Abdurrohman

Asep Abdurrohman

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lokerpintar.id
zoom-in-whitePerbesar
Lokerpintar.id

Bagi mahasiswa magister, proses perkuliahan membutuhkan kurang lebih dua tahun. Selama dua tahun itu, mahasiswa menempuh berbagai kegiatan. Mulai dari kegiatan masa perkenalan dengan civitas program pascasarjana, matrikulasi beberapa mata kuliah sebagai perkenalan, kuliah umum semua program studi, menjalani proses perkuliahan, pengajuan judul tesis dan dosen pembimbing, seminar proposal, menjalani proses bimbingan, ujian tesis, yudisium dan wisuda.

Setelah melewati perkenalan, kuliah umum, matrikulasi, proses perkuliahan, dan pembuatan proposal tibalah saatnya proposal tersebut untuk diujikan. Dalam proses ujian proposal, mahasiswa oleh pihak program pascasarjana diberikan dua penguji proposal. Satu penguji dari luar pembimbing dan satu penguji lagi dari pembimbing.

Di dalam seminar proposal mahasiswa program pascasarjana menjelaskan rancangan proposal penelitiannya. Mulai dari pendahuluan, di dalamnya harus jelas masalahnya apa? Rumusan masalahnya apa dan tujuannya bagaimana?

Selesai bab 1 pendahuluan dijelaskan, baru kemudian masuk ke dalam bab 2 yang berisi teori. Teori tersebut harus sesuai dengan masalah dan rumusan yang diajukan. Mahasiswa mencari dalil dengan teori-teori yang ada. Di bab dua inilah mahasiswa memperdebatkan berbagai teori.

Baik itu teori yang bersumber dari PAI maupun yang berasal dari luar PAI. Semua ditampilkan untuk memperkuat rancangan proposal. Selesai menjelaskan Bab Dua, tiba saatnya menjelaskan Bab Tiga yang berisi metode penelitian.

Di dalamnya, metode penelitian harus jelas. Sekurang-kurangnya harus menjelaskan objek penelitian, sampel penelitian, teknik pengambilan data, analisis data, sampai kemudian cara pengambilan kesimpulan. Semua itu berbasis teori, tidak boleh asal menulis, namun ada sumber yang dijadikan rujukan.

Proposal tesis memang diperuntukkan bagi kalangan akademik di perguruan tinggi. Meski demikian adanya, bukan tidak ada pembelajaran untuk di luar perguruan tinggi. Pembelajaran di luar perguruan tinggi, dalam konteks pribadi, misalnya, proposal kehidupan harus jelas dan terarah agar tujuan kehidupan tercapai dengan baik.

Di dalam al-Qur’an, setiap manusia beriman punya kewajiban untuk beribadah. Manusia dan jin diciptakan untuk beribadah. Ibadah tidak hanya yang bersifat langsung, yang tidak langsung pun sejatinya harus bernilai ibadah.

Tujuannya, manusia beriman harus jelas proposal kehidupannya agar mendapatkan kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat. Dalam kerangka itu, proposal orang beriman semuanya harus diarahkan ke dalam dua kebaikan itu.

Secara umum, orang beriman harus punya program jarak pendek dan jarak panjang. Jarak pendeknya, di dunia harus baik. Sementara jarak panjangnya di akhirat pun harus baik. Rumusan masalah yang diajukan paling tidak ada dua: bagaimana cara mendapatkan Hasanah di dunia? Dan bagaimana cara mendapatkan Hasanah di akhirat?

Untuk mendapatkan Hasanah di dunia, pertama seseorang harus beriman dan bertakwa. Beriman dan bertaqwa adalah satu kesatuan yang utuh, keduanya tidak bisa dipisahkan. Namun, untuk mencapai keimanan yang paripurna tidaklah mudah. Iman yang baik diawali dengan meniadakan Tuhan selain Allah dan meniadakan rasul selain Nabi Muhammad SAW. Singkatnya, seseorang harus mengikrarkan diri dengan mengucapkan syahadat.

Beriman dan bertakwa setelah ikrar dengan syahadat adalah fondasi yang kokoh. Bangunan yang kokoh tidak akan goyah diterpa badai seganas apa pun; ia akan tetap berdiri tegak lurus di tempat yang sudah ditentukan. Begitu juga bangunan jiwa, fondasinya adalah tauhid dan buahnya adalah taqwa.

Dalam konteks lain, tauhid adalah kuncinya proposal kehidupan dan taqwa adalah kejelasan dari arah proposal itu. Tapi semua itu dalam koridor Hasanah di dunia. Buah lain menurut Ibnu Katsir dari Hasanah di dunia itu adalah kemudahan hidup, rezeki halal dan perlindungan Allah.

Di mana pun seseorang berada, tidak boleh lepas dari takwa. Karena taqwa inilah, menurut Quraish Shihab, fondasi kesejahteraan hidup yang tidak hanya berupa ritual. Artinya, manusia itu di mana pun berada, ia harus hasanah agar rasa bahagia selalu berada dalam jiwa.

Jika sudah bahagia, merancang proposal kehidupan lebih fokus dan terasa nikmat menjalaninya. Rasa bahagia yang sudah tertanam itu agar lebih terarah dan selamat harus berada di bawah kontrol ilmu dan pendidikan berkualitas, karena dengan itulah jalan menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat terbuka luas.

Dengan ilmu juga seseorang bisa melakukan perubahan demi perubahan. Perubahan itu ditandai dengan adanya etos kerja yang membuahkan amal shalih. Etos kerja itu dilandasi tauhid yang bisa memancarkan ke ruang publik yang lebih luas sembari melakukan perluasan jaringan sebagai wujud bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Bersambung*