Dari Proposal Akademik Ke Proposal Kehidupan (2)-Habis

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam konteks keluarga, proposal kehidupan yang bernilai hasanah di dunia dan di akhirat harus sudah tercermin dalam perencanaan keluarga. Keluarga yang baik adalah keluarga yang memfungsikan suami sebagai ketua yayasan, dan istri sebagai kepala sekolah.
Suami sebagai ketua yayasan, harus punya arah yang jelas. Dalam mengarahkan keluarga, suami tidak boleh ugal-ugalan dan segala sesuatunya harus ada komunikasi harmonis antara ketua yayasan dan kepala sekolah. Ketua yayasan tidak boleh semaunya sendiri, semua program keluarga harus dibangun dengan musyawarah
Arahan ketua yayasan tidak boleh memaksakan kehendak, jika berbenturan hebat dengan muridnya. Arahan dari yayasan harus diterjemahkan dan disesuaikan oleh kepala sekolah dengan situasi dan kondisi di lingkungan rumah. Jika muridnya sudah dewasa dan bisa diajak diskusi, sebaiknya semua program dan perencanaan pendidikan di lingkungan keluarga melibatkan anak sebagai murid.
Anak berhak bersuara sesuai pengetahuannya. Namun, jika anak masih usia SD dan belum bisa diajak berdiskusi secara serius, ketua yayasan dan kepala sekolah bisa menyesuaikan dengan perkembangan anak.
Suami dan istri yang menjadi ketua yayasan dan kepala sekolah rumah tangga mesti bersepakat dalam rancangan program harian, bulanan, semester dan tahunan. Setelah sepakat, baru kemudian diturunkan kepada keluarga, yang di dalamnya ada anak sebagai murid.
Program harian yang bisa mengantarkan hasanah di dunia dan akhirat, misalnya: laki-laki, anak laki-laki, dan ayah sholat berjamaah di masjid. Sementara istrinya dengan anak perempuannya salat berjamaah di rumah. Tapi jika tidak menimbulkan fitnah dan aman bagi perempuan, bisa melaksanakan shalat di masjid.
Dalam satu pekan sekali atau sebulan sekali, misalnya, keluarga bisa salat berjamaah di rumah. Shalat berjamaah di rumah dalam rangka merapatkan emosi keluarga, mengecek cara shalat, dan tidak kalah penting adalah untuk menumbuhkan rasa aman dan tentram di tengah keluarga.
Setelah salat berjamaah, tidak lupa suami dan anak laki-laki segera pulang ke rumah. Di rumah keluarga bisa membaca al-Qur’an secara bergiliran atau bersama-sama. Membaca al-Qur’an adalah membaca kalamullah, lebih jauh dari itu membaca ayat-ayat semesta.
Membaca al-Qur’an sama dengan memperkenalkan pendidikan tauhid kepada keluarga, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Sina. Begitu juga shalat, memupuk keimanan kepada Allah setiap hari. Setiap hari shalat lima waktu dan setiap hari juga mengaji al-Qur’an. Keduanya dalam upaya mendekatkan shalat dan al-Qur’an kepada keluarga untuk kebahagian di dunia dan di akhirat.
Hakikatnya, antara shalat dan mengaji al-Qur’an adalah media yang langsung diturunkan oleh Allah kepada orang beriman untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Allah tidak butuh sama sekali shalat dan mengaji manusia, namun Allah sangat sayang kepada orang-orang beriman agar hidupnya bahagia dan sukses.
Setelah salat dan mengaji setelah magrib, lalu beranjak untuk makan malam bersama. HP jauhkan dari tangan. Biarkan mulut dan segenap jiwa berdialog secara senyap dan terbuka dengan keluarga. Di sana bisa saling menyapa dengan penuh kasih dan rasa sayang.
Bincang-bincang ringan ketika makan bisa menghangatkan suasana. Bincang-bincang dengan santai dan penuh keakraban adalah penting untuk keluarga. Tujuannya agar semua anggota keluarga bisa nyaman dan aman bercerita kepada keluarga.
Ayah adalah ketua yayasan. Istri adalah kepala sekolah. Dan anak-anak sebagai murid bisa saling bercerita. Jika saat makan masih kaku, karena masih keluarga baru. Salah satu cara untuk membuka diri adalah mengawali dengan bertanya. Misalnya, sang ayah memberi contoh untuk memulai bertanya kepada anak tentang sekolahnya di hari itu.
Setelah anak menjawab, sang istri bisa ikut menimang dengan humanis. Sang ayah pun ikut menggali jawaban anak dengan cara yang bisa menggairahkan psikologi anak. Wujudnya menggairahkan psikolog anak dengan cara tidak menghardik, tidak menghukumi salah, dan orang tua memandang dari sudut anak, bukan dari sudut orang tua.
Jika jawaban dipandang dari sudut orang tua, nanti akan lain ceritanya. Bisa jadi salah dan bisa jadi tidak tepat. Makanya, orang tua perlu memposisikan jawaban anak yang wajar berbicara demikian.
Saat makan malam, dekatkan menu yang disukai oleh keluarga. Ketika anak suka makan telur dadar, dekatkan telur itu. Ketika ayah suka menu makan sayur sop dan ikan nila, dekatkan pula menu itu. Begitu juga istri, ketika suka menu makan rendang dan lalapan, dekatkan menu itu.
Hal itu dilakukan untuk menjaga anggota keluarga agar tidak menjulurkan tangan yang bisa mengganggu anggota keluarga lainnya. Jika ada kesalahan dalam makan, sebaiknya tidak langsung ditegur ketika makan. Kesalahan ketika makan, alangkah indah diluruskan ketika selesai makan.
Jika ditegur saat makan, takut selera makannya menjadi hilang dan bisa mengganggu anggota keluarga lain yang sedang menikmati makanan. Selesai makan malam, lanjut salat Isya berjamaah di masjid. Selesai salat Isya, anggota keluarga bisa beraktivitas sesuai seleranya masing-masing.
Barangkali untuk anak ada PR dari sekolah, dikerjakan setelah Isya di bawah bimbingan orang tua. Istri ada pekerjaan lain, bisa dikerjakan dengan santai. Setelah aktivitas masing-masing, baru bisa berkumpul kembali untuk membina lingkungan rumah dengan aktivitas bersama.
Tidak lupa, jam 21.00 atau jam 22.00 anggota keluarga sudah tidur. Jika ada program 1/3 malam bisa shalat tahajud, sang ayah bisa mencoba membangunkan anggota keluarga. Kali pertama shalat tahajud, bisa dilaksanakan satu pekan sekali. Jika sudah terbiasa satu pekan sekali, ditingkatkan menjadi dua hari dalam satu pekan, dan seterusnya bisa setiap malam shalat tahajud.
Besoknya, ketua yayasan membangunkan salat subuh berjamaah. Anak dan istri dibangunkan. Anak dibawa ke masjid, selesai salat subuh, membaca al-Qur’an. Setelah itu, aktivitas berikutnya diserahkan kepada masing-masing. Asalkan aktivitas itu bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.
Misalnya, ada yang membaca buku, mengikuti kajian di masjid atau online, rapi-rapi rumah dan persiapan untuk berangkat kerja. Setelah semuanya siap, sarapan sudah menanti. Sarapan sejenak dengan penuh kebersamaan. Setelah sarapan, ketua yayasan, kepala sekolah, dan murid pergi ke tempat kerja masing-masing.
Ayah dan Ibu bekerja. Anak sekolah. Atau ayah kerja, istri di rumah. Untuk saling menghargai, jangan lupa pamit ketika keluar rumah. Ayah memintakan kepada istri, mencium tangan, dan keduanya saling memberi kecupan. Kecupan pipi dan kening agar selama di luar rumah, suami, istri, dan anak dalam keadaan bahagia dan tentram.
Setelah sekian lama bekerja, tibalah pulang ke rumah. Jika ada salah satu anggota keluarga yang pulangnya terlambat karena ada kegiatan lain setelah kerja, tidak lupa anggota keluarga memberi kabar. Tujuannya, agar masing-masing pihak keluarga merasa tenteram dan tidak bertanya-tanya.
Semoga kondisi keluarga kita semua sehat. Sehat jasmani, rohani dan tidak kalah pentingnya adalah kondisi keluarga sehat tidak ada bibit perpecahan yang menyebabkan runtuhnya rumah tangga. Semoga bermanfaat.
