Konten dari Pengguna

Filosofi Jam

Asep Abdurrohman

Asep Abdurrohman

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jam. Iya jam. Siapa yang tidak punya jam di rumah?. Dari orang kaya sampai orang miskin. Dari pejabat sampai penjahat. Dari desa sampai orang kota. Semua pasti punya jam. Jam sudah menjadi barang wajib yang harus ada di rumah. Hanya di mall lah yang tidak ada jam.

Baik di rumah, kantor, mesjid, gedung menjulang tinggi sampai jam pribadi yang disebut jam tangan, pasti punya jam. Kemana pun pergi, jam tangan selalu dibawa. Paling tidak di hp terdapat jam. Mau hp murah atau mahal, jam sudah satu paket dengan hp.

Jam bagi orang yang kerja kantoran, selalu menunggu-nunggu. Nunggu jam istirahat. Bagi yang puasa, nunggu waktu buka puasa. Waktunya sholat, jam mengatur untuk kumandang adzan, dan lain-lain.

Jarum jam tiap detik selalu bergerak. Tiap menit selalu berputar. Tiap jam terus berpindah dan tiap hari terus berputar. Mau dihargai atau tidak. Mau diperhatikan atau tidak. Mau dikasih seyum atau tidak. Jam tetap saja bergerak.

https://www.ruparupa.com/

Belajar dari Jam

Detik demi detik. Menit demi menit. Hari demi hari terus berdetak sampai tiba masanya harus diganti batrai jamnya. Jam menyimpan pelajaran penting. Jam dengan ikhlas terus berdetak. Tanpa pamrih, ia selalu mendetakkan dirinya untuk memberikan kabar dari waktu ke waktu.

Dari hari ke hari. Minggu ke minggu. Bulan ke bulan. Tahun ke tahun, ia terus menyapa teman hidupnya, manusia. Jam begitu taat. Tak kenal lelah. Mau musim hujan atau kemarau, ia tetap saja mendedikasikan dirinya untuk memberikan tanda waktu.

Andai saja ia istirahat sehari saja, niscaya bumi ini kacau. Berjalan tak karuan. Jam masuk kerja dan pulang jadi tak jelas. Keberangkatan pesawat dan kreta tak pasti waktunya. Pergantian tahun hijriyah dan miladiyah jadi tak sahdu dan ramai tibanya.

Akad nikah dan resepsi pun tak jelas apa yang jadi patokan. Karyawan atau guru kehilangan nilai displin waktunya, dan lain-lain. Itu lah jam, kiprahnya begitu menakjubkan. Jika jam begitu membanggakan dan mengantarkan kehidupan begitu bermakna, lalu apa yang akan membanggakan kiprah manusia di era digital ini.

Jam ibaratnya kiprah yang tiada henti, seperti tiadak hentinya seorang hamba yang beribadah dengan pengertian luas, yang terus mengabdi sampai maut memutuskan kiprahnya. Totalitas jam jadi inspirasi untuk totalitas hamba Tuhan yang mengabdi kepada-Nya.

Mengabdi tidak dibatasi oleh profesi atau pekerjaan tertentu, tetapi mengabdi kepada setiap pekerjaan yang dipersembahkan untuk mencapai ridho-Nya. Sesuai dengan profesi manusia sebagai hamba Tuhan dalam pengertian yang universal.

Biarlah upah loyalitas dan totalitas itu hanya mengharap ridho-Nya, disamping upah materil yang mencukupinya atau dicukupkinya. Bosan jadi barang taruhan hamba, biarlah bosannya hanya sesaat seperti jam yang kehabisan batrainya.

Dan batrai itu adalah suntikan iman yang didorong oleh segala aktivitas yang melejitkan iman. Iman terus berputar, seperti berputar dan beredarnya bumi pada porosnya. Jika bumi bosan, niscaya akan terjadi ketidakseimbangan atau dalam skala besar apa yang disebut yaumul akhir.

Jam juga tak menawarkan PHP, ia hanya menawarkan kepastian secara perlahan, namun pada akhirnya sampai pada tujuan. Tujuan itulah dalam diri manusia adalah mendekat kepada Tuhan-nya, dalam segala kegiatannya.

Baik kegiatan ibadah ritual yang terpancar ke dalam kebaikan sosial ataupun ibadah sosial yang membumi dan berpijak kepada akar ke-imanan yang berbasis tauhid. Jam mengingatkan kita akan aktivitas yang penting dan sangat penting.

Begitupun manusia, dalam kapasitasnya sebagai penyeru kebaikan, selalu mengingatkan kepada sesama manusia untuk tetap berbuat baik kepada sesama manusia. Menyeru dengan tanpa bosan, tanpa pamrih, tanpa kepentingan ataupun sekedar eksistensi diri yang berwujud pengakuan secara horizontal.

Prilaku tersebut harus dikesampingkan, jika amal kiprah yang kita lakukan akan menjadi kebutuhan yang dibutuhkan pada waktu di mana amal itu sangat dibutuhkan akan nilai dan harganya.

Berdetaklah terus. Berputarlah terus. Bergeraklah terus untuk menghampiri kehidupan dalam upaya untuk melahirkan amal kiprah kehidupan dengan tiada henti, seperti tak henti-hentinya jam berdetak, dan bergerak untuk mengingatkan kebaikan sampai batrainya habis, seperti habisnya kehidupan dalam diri manusia.

Semoga kita selalu berdetak dan bergerak mengukirkan kiprah yang dicatat oleh-Nya dan semoga beristiqomah di jalan yang diridhoi-Nya.

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang