Hari Pramuka, Lebih dari Sekadar Seragam dan Upacara

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat di sekolah kita masih teringat dengan aktivitas camping. Camping di masa-masa itu begitu mengesankan. Camping waktu itu ibaratnya glamor camping yang dikenal sekarang ini. Anak-anak sekolah dengan senang ria menyiapkan alat camping.
Bahkan camping saat itu ada kesan mendalam untuk anak-anak sekolah. Tiba waktunya camping, hati senangnya bukan main. Di tempat camping terdapat segudang nilai edukasi. Kini, camping tersebut sudah diambil alih oleh kehidupan modern yang bernama glamping.
Kesakralan camping sudah hampir sirna ditelan perkembangan sosial politik. Meski begitu, camping membawa ingatan kita ke tempo dulu saat sekolah hanya mengenakan sandal. Ibaratnya, sandal dan camping ada di dua sisi. Di mana ada camping, di situ ada sandal.
Camping juga mengingatkan kita pada induknya kegiatan, yaitu Pramuka. Pramuka, begitu didengar ternyata sudah cukup tua. Di Indonesia, jika ditarik dari keberadaannya sejak tahun 1961 hingga tahun 2025, berarti sudah memasuki usia yang ke-64.
Usia ke-64 suatu bilangan yang tidak bisa dianggap muda, tapi sudah mendekati usia Lansia. Di usia ke-64 ini, sejatinya peringatan Pramuka tidak hanya sekedar upacara, juga tidak sekadar mengenakan seragam Pramuka.
Dibalik peringatan pramuka itu ada serangkaian nilai-nilai edukasi yang bisa dijadikan pelajaran. Saat upacara, di sana ada pertemuan singkat antar sesama anggota pramuka. Ataupun antar guru dan siswa.
Di sana ada nilai bahwa manusia itu membutuhkan komunitas sosial. Artinya, tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, tetapi hidup secara berjamaah.
Masalah yang muncul pun akan terasa berat jika dipegang sendiri. Tapi, jika masalah itu dihadapi secara berjamaah dalam suatu komunitas, maka masalah itu akan ringan.
Di dalam upacara terdapat pemimpin regu. Hal itu bukan untuk mengisi kekosongan, namun memberi arti bahwa hidup itu jika ingin berhasil harus bisa memimpin diri sendiri. Memimpin diri sendiri memang tidak cukup mudah, ia perlu usaha kerja keras untuk menundukkannya.
Betapa banyak di negeri ini yang sudah maupun yang sedang memimpin. Memimpin tidak saja duduk di ruang pimpinan, tapi ia juga harus berhasil menduduki ruang terdalam dalam jiwanya.
Memimpin ke dalam memang bisa dikatakan jauh lebih sulit dari pada memimpin ke luar. Memimpin keluar ada pihak-pihak yang bisa membantu pemimpin untuk menjalankan tugasnya. Tapi, kalau memimpin ke dalam, siapa yang membantu?
Yang membantu itu tidak ada lain selain diri sendiri yang ada di dalam jiwa, yaitu hati. hatinya yang mengendalikan itu semua. Di dalam hati juga ada nafs. Nafs ada yang mendorong ke dalam perbuatan negatif dan ada yang mendorong ke dalam perbuatan positif.
Inilah yang harus kita pimpin. Jadi sejauh ini, jangan hanya sekadar seremonial upacara, tapi syarat akan makna dan pelajaran.
Upacara harus dihayati dan diinternalisasi, jangan hanya melebarkan spanduk dan panggung untuk para pejabat. Tapi, upacara jauh dari itu harus menjadi faktor pengingat pentingnya memimpin diri sendiri.
Di dalam upacara terdapat juga komandan upacara. Sebagai anggota pasukan, melihat adanya komandan upacara adalah orang yang punya tanggung jawab untuk mencintai komandannya. Mencintai komandannya bisa beragam cara.
Ada yang melalui sikap kritis terhadap kebijakan pemimpin dan ada juga yang loyal dalam mengikuti arahannya. Mungkin juga di sisi lain, ada yang membiarkan sementara waktu untuk memberi ruang sekadar menghela nafas.
Peringatan hari pramuka juga bukan sekadar seragam coklat, kacu, ring, dan kopiah pramuka. Namun, lebih dari itu adalah sebuah simbol yang harus dihayati dan didalami. Seragam, tidak saja menunjukkan tertatanya tampilan lahir, tetapi menunjukkan tertatanya tampilan batin.
Hidup jangan hanya terjebak tampilan lahir, namun harus bisa masuk ke dalam dengan rapi, bukan dengan meringih. Apalagi mengernyitkan dahi pertanda memandang dengan tidak percaya.
Di dalam seragam pramuka ada mengenakan kopiah. Kopiah tidak sembarangan berada di kepala, jauh dari itu ada simbol yang harus dijelaskan dengan kasat mata. Kepala yang ditutup kopiah, bukan hanya menutup fisik kepalanya saja. Tetapi, harus menutup isi kepala.
Isi kepala tidak boleh liar merencanakan kejahatan yang merugikan orang lain, tapi sebaliknya isi kepala harus dipakai untuk merencanakan kepentingan orang banyak, minimal untuk pribadi dan keluarga.
Jika hanya sekadar nempel kopiah di kepala, hewan pun bisa melakukannya. Manusia harus jauh dari itu. Makanya, manusia diminta membaca. Membaca apa saja yang terbaca.
Asalkan membaca itu untuk meninggikan Tuhan, bukan untuk merendahkan Tuhan dalam berbagai bentuk. Misalnya, memandang rendah manusia, itu sama saja merendahkan Tuhan. Paling tidak merendahkan ciptaan Tuhan.
Kacu warna merah putih yang dikenakan di leher dan diikat oleh ring, juga bukan hiasan agar rapi, tapi sebagai penanda agar kita rapi disertai bijak dan berani dalam mengarungi bahtera kehidupan yang penuh dengan gelombang ujian. Baik ujian keimanan, mental, kantong, maupun ujian sosial politik lainnya. Semoga bermanfaat.
