Konten dari Pengguna

Hikmah di Balik Kesibukan (3)

Asep Abdurrohman

Asep Abdurrohman

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Marctsra.blogspot.com
zoom-in-whitePerbesar
Marctsra.blogspot.com

Selesai mengambil air wudu’, ganti pakaian yang bersih. Pakaian bersih mendidik yang memakainya untuk menjaga kotoran dari najis. Tidak sedikit orang yang mau salat, memperhatikan kebersihan pakaiannya.

Pakaian yang digunakan harus benar-benar bersih, baik bersih dari najis maupun bersih dari kotoran yang menempel pada baju. Setelah memakai baju, tidak lama kemudian membuka pintu rumah.

Seketika, fisik sudah ada di luar rumah langsung disambut dengan udara sejuk yang masuk menyelinap ke tubuh. Tubuh pun merasakan segarnya udara pagi.

subuh tiba, udara segar sudah mulai bekerja. Udara sudah mulai mengeluarkan udara segarnya. Artinya, udara di waktu subuh sudah mulai beraktivitas.

Aktivitas udara keluar dengan fitrahnya, bukan atas paksaan yang didorong keluar oleh pihak mana pun. Ia benar-benar keluar, murni atas fitrah dan titah-Nya.

Di sinilah udara memberikan pembelajaran bahwa waktu itu adalah waktu di mana mulai memberikan manfaat kepada sesama ciptaan Allah, berupa manusia.

Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan udara bersih dan segar. Kenapa manusia modern di tengah perkotaan banyak yang mencari udara segar ke pegunungan dan tempat liburan, karena mencari udara bersih.

Udara bersih itu memberikan nutrisi pada tubuh agar kembali berfungsi dengan optimal. Banyak tubuh berusia muda, namun fisiknya sudah lanjut usia. Sebaliknya, banyak Tubuhnya berusia tua, namun tubuhnya seperti masih muda.

Ini bergantung pada diolah atau tidak tubuhnya itu. Tubuh yang dididik dengan dilatih berbagai aktivitas, paling tidak tubuhnya sudah terbiasa menerima pendidikan. Tubuh yang tidak terbiasa dilatih, saat dilatih ia akan berontak tidak karuan.

Tubuh yang bergerak dengan cara jalan kaki di waktu subuh adalah tubuh yang akan merasakan segarnya udara pagi. Udara pagi yang masuk ke tubuh adalah udara yang mendidik pentingnya udara bersih.

Pesan dalam kehidupan, jika tubuh ini ingin sehat jasmani dan rohani, sering-seringlah tubuh ini dibawa ke tempat yang bisa menyegarkan jasmani dan rohani. Jasmani yang segar adalah jasmani yang dipakai untuk melatih anggota tubuh agar ia kuat.

Melatih tubuh bisa berupa dengan jalan kaki di tengah hamparan sawah luas, bermain bulu tangkis, sepak bola, bermain bulu tangkis, naik sepeda dan lain sebagainya.

Sementara rohani yang segar dan sehat adalah rohani yang sering dipakai untuk membaca, belajar, mengajar, ikut kajian keagamaan dan berbagai aktivitas ruh lainnya.

Saat pergi ke masjid di waktu subuh, saat itulah tubuh kita diisi oleh udara yang murni tanpa campuran polusi. Siang sedikit, orang-orang sudah pada keluar, termasuk udaranya pun sudah tidak sesegar saat bangun sebelum subuh.

Di tengah perjalanan bertemu sesama jamaah yang akan menunaikan salat. Di sana saling sapa dan saling bertanya kabar. Di sini menunjukkan bahwa salat berjamaah itu mendidik agar manusia beriman tidak hanya sehat secara fisik dan rohani, namun harus sehat secara sosial.

Sehat sosial tidak hanya berhenti ketika ketemu jamaah di jalan, saat masuk masjid pun di sana sudah banyak bertegur sapa dengan jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Ketika iqomah berkumandang, jamaah mendengarkan kalimat thayyibah.

Kalimat thayyibah itu terbiasa kita dengan sehari semalam lima kali bergemuruh di telinga kita. Kalimat itu tidak sekadar kalimat yang keluar tanpa makna dan hikmah. Kalimat itu memberikan pelajaran bahwa Tuhan Allah yang Maha Besar, bukan Tuhan-Tuhan yang lain.

Selesai iqomah, imam rawatib maju ke depan untuk memimpin salat subuh. Sebelum imam start salat, imam terlebih dahulu menghadap ke jamaah. Imam menghadap jamaah bukan tanpa maksud, melainkan melihat keadaan jamaah dan barisannya.

Imam tidak boleh egois, harus mementingkan jamaah secara luas. Bacaan salat harus diatur dan disesuaikan dengan kemampuan jamaah. Maka, fungsi imam melihat ke belakang selain untuk mengondisikan, tapi untuk memetakan keragaman jamaah.

Jika jamaah itu banyak orang tua yang sudah lanjut usia, sebaiknya bacaannya tidak boleh panjang-panjang. Ambil surat yang tidak memberatkan jamaah sepuh.

Sukur alhamdulillah para jamaah sepuh mau salat di masjid. Jangan diperberat lagi dengan bacaan panjang, yang membuat mereka kapok berjamaah.

Sebaliknya, jika jamaahnya campur antara orang tua, anak muda, anak-anak dan banyak mau berangkat kerja, bacaan suratnya yang sedang saja. Tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Ini untuk menjaga semangat jamaah dan mempertahankan keragaman usia jamaah.

Selesai imam melihat ke belakang, imam segera memulai takbir. Sebelum imam takbir, makmum dilarang takbir terlebih dahulu. Makmum harus menunggu imam selesai takbir. Ini pelajaran untuk kita bahwa imam itu berhak diikuti oleh jamaahnya.

Masyarakat akan rapi, jika masyarakatnya patuh dan taat terhadap instruksi imam. Instruksi ini bukan berdasarkan ucapan perintah, tapi ucapan yang memberikan teladan. Tidak banyak berdalil dan beretorika, namun langsung memberikan keteladanan kepada jamaah.

Tetapi bukan tidak boleh menegur imam, sangat boleh menegur imam, namun dengan cara yang baik. Cara yang baik itu, cara yang tidak menyinggung sang imam.

Jamaah dan imam sudah punya kesepakatan kode jika imam salah. Kodenya mengucapkan subhanallah, suatu ucapan yang halus dan penuh makna. Semoga bemanfaat.