Hikmah di Balik Kesibukan: Pulang Kerja dan Kumpul Bersama Keluarga (11-Habis)

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tulisan yang ke sepuluh, penulis sudah menjelaskan hikmah kesibukan ketika sedang kerja. Maka, pada tulisan yang kesebelas ini penulis insya Allah menjelaskan hikmah kesibukan saat pulang kerja dan berkumpul bersama keluarga.
Pada umumnya, kerja di perkantoran dibatasi dengan waktu selama delapan jam. Lebih dari itu masuk ke dalam lembur. Setelah selesai kerja delapan atau lebih, tiba waktunya untuk pulang. Sebelum pulang, tentu punya kewajiban untuk merapihkan tempat kerja.
Merapihkan tempat kerja, sepertinya sepele dan tidak ada nilain pelajarannya. Merapihkan tempat kerja, sebaiknya jangan hanya mengandalkan petugas OB, namun yang menggunakannya secara moril tidak ada salahnya ikut merapihkan.
Meja kerja yang rapih, mencerminkan nilai dirinya yang rapih dan sikapnya terukur, tidak sembarang bersikap. Di samping itu, membantu meringankan tugas OB yang setiap hari membersihkan ruangan.
Selesai merapihkan meja kerja, tidak lupa perlengkapan lain yang dipakai kerja ikut dirapihkan. Umpamanya: komputer, AC dan lampu yang masih menyala dimatikan. Meskipun, nanti dinyalakan lagi oleh OB lampunya untuk membersihkan rungan.
Sikap seperti itu ikut tidak jadi mengapa, itung-itung penghematan listrik. Hemat dan tidak boros dalam upaya menjalankan nilai pelajaran dalam agama. Setelah itu, semua barang milik pribadi dimasukan ke dalam tas dan dibawa pulang.
Sebelum keluar kantor, pamit kepada rekan kerja yang ada di rungan. Ucapkan salam untuk rekan kerja. Pamitan kepada rekan kerja adalah bentuk penguatan iklim kerja yang kondusif. Setelah itu, keluar kantor menuju tempat parkir kendaraan.
Kendaraan sudah digenggam. Ucapkan Bismillah dan kendaraan siap melaju dengan kecepatan yang disesuaikan dengan kondisi jalan raya. Di jalan tidak kebut-kebutan dan tidak ugal-ugalan, karena risikonya tidak main-main, nyaitu nyawa taruhannya.
Hormati pengguna jalan. Beri jalan saat kendaraan lain meminta jalan. Yang diberi jalan jangan lupa ucapkan terimakasih dengan kode klakson halus atau dengan melambaikan tangan. Itu pelajaran bentuk syukur kepada orang yang sudah peduli dengan kita.
Tidak usah merasa paling penting di jalan, semua orang yang ada di jalan penting dan perlu dijaga keselamatannya. Kecuali pihak-pihak tertentu yang sangat membutuhkannya, kita pun harus sigap dan rela memberinya jalan.
Tiba di rumah dengan selamat. Jika di rumah sudah ada keluarga, ucapkan salam dan sambil bersalaman dengannya. Salaman dengan keluarga adalah bentuk pendekatan emosional, agar langkah psikologisnya menyatu dalam balutan rumah tangga yang sakinah.
Tas dan kunci kendaraan disimpan di tempatnya. Mengendorkan baju sambil menikmati secangkir minuman yang sudah disediakan oleh orang tercinta. Tangan menikmati minuman, tidak lama kemudian menyapa keluarga yang sudah menanti sekian jam.
Saling sapa setelah tidak bertemu sekian jam, bukan hanya semata-mata basa-basi, namun bentuk rasa tanggung jawab kepada anggota keluarga. Bukankah agama juga memerintahkan masalah itu. Bahwa kita harus menjaga diri dan keluarga dari api neraka.
Tidak saling berkabar soal diri dan anggota keluarga, itu mengindikasikan tidak ada niat baik untuk menjauhkan dari situasi keluarga yang tidak kondusif. Jika terjadi apa-apa di antara keluarga, sesak di dada sudah pasti dirasakan. Itu lah neraka kecil, salah satunya.
Makanya, perhatian antar keluarga itu menjadi penting di saat dada sesak, karena merasakan peliknya masalah keluarga. Di sinilah baru ketahuan bahwa kondisi sakinah di tengah keluarga itu menjadi penting.
Tiba waktu maghrib, anak diajak untuk salat berjamaah di masjid. Sementara istri di rumah salatnya. Namun, di lain kesempatan penting juga sekali-kali salat berjamaah di rumah bersama anak dan istri sebagai bentuk merawat keluarga dari situsi yang tidak kondusif. Semogga bermanfaat.
