Isra Mikraj Sebagai Guru Besarnya IPTEK (1)

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Umat Islam 14 abad yang lalu mengenal dan mengetahui apa itu yang disebut dengan Isra Mikraj? Dalam kaidah agama, Isra Mikraj adalah peristiwa yang merujuk kepada Nabi Muhammad SAW yang diperjalankan oleh Allah mulai dari masjid Haram ke masjid Aqsa, setelah itu naik ke Sidratil Muntaha untuk menerima perintah salat.
Perintah Isra Mikraj kepada erat kaitannya dengan situasi dan kondisi Nabi dalam keadaan terguncang kondisi psikologisnya. Mulai dari peristiwa pemoboikotan selama tiga tahun, orang tercinta wafat; Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib dan meminta suaka ke Thaif malah dilempari batu.
Dalam kondisi itu, Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah sebagai bentuk dukungan moril dan sekaligus untuk mengobati rasa sedihnya yang mendalam. Di dalam al-Qur’an QS Al-Isra’ ayat 1, peristiwa Isra Mikraj dibuka dengan redaksi “Subhaana.” Menurut Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya yang monumental, al-Jami’li Ahkamil Qur’an, bahwa kata tersebut untuk menunjukkan “Lita’ajub” artinya untuk mengagetkan.
Setelah rasul kembali dari Isra Mikraj lalu menceritakan kejadian itu kepada sahabat dan orang-orang kafir Quraish, sangat menggagetkan. Betapa tidak, jarak antara masjid al-Haram ke Masjid Al-Aqsa cukup jauh, sekitar 1500 KM. Jika ditempuh dengan jalan kaki waktu itu, paling tidak membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Ini hanya memakan waktu sebentar, tidak lebih satu malam yang singkat.
Peristiwa ini di mata orang-orang kafir sungguh di luar nalar mereka. Akibatnya, Nabi Muhammad diejek dan dihina, dikatakan sudah mengalami delusi dan gila. Kata orang kafir Quraish, masa iya perjalanan perjalanan dari masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa terus naik ke Sidratil Muntaha hanya dalam waktu sebentar.
Peristiwa ini tidak harus dinalar dengan akal jernih, namun harus diterima dengan keyakinan yang lurus. Meskipun demikian adanya dalam pandangan keilmuan, sungguh ini memberikan inspirasi dan motivasi akan pentingnya menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
IPTEK yang dicontohkan pada waktu itu, tidak tanggung-tanggung Allah mendemonstrasikan kepada manusia bahwa Nabi Muhammad SAW naik buraq yang didampingi oleh malaikat Jibril ke Masjid Al-Haram sampai masjid Al-Aqsa, lalu naik ke Sidratil Muntaha dalam waktu kurang dari satu malam.
Jika kita analisis, buraq adalah makhluk putih bercahaya, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari kuda dan kecepatannya secepat kilat. Katakan saja kecepatan kilat sama dengan kecepatan cahaya dengan 300.000 KM/detik. Sehingga, 1500 KM jarak dari masjid al-Haram ke Masjid Al-Aqsa membutuhkan waktu sekitar 0,005 detik.
Sementara jika dibandingkan dengan kecepatan pesawat 800 KM/jam, paling tidak membutuhkan waktu kurang dari dua jam. Kondisi ini semakin menantang IPTEK ketika menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW Isra Mikraj dengan menggunakan fisik dan ruhnya. Sedangkan dalam kaidah ilmu fisika, ketika sebuah benda bergerak dengan kecepatan cahaya, maka benda itu akan hancur lebur tidak tersisa. Hal inilah yang mendorong manusia untuk mendalami IPTEK. Manusia berlomba-lomba untuk mendalami IPTEK.
Tidak heran di kemudian hari ada istilah yang disebut dengan teleportasi. Secara sederhana, teleportasi ini ibaratnya memindahkan sebuah benda dari tempat A ke tempat B dengan waktu yang singkat. Di era digital, kondisi ini bisa dicontohkan dengan mengirim buku elektronik (e-book) dari salah satu HP kita ke WAG lembaga pendidikan.
Waktu yang dibutuhkan sangat bergantung kepada besaran e-booknya, jika hanya belasan halaman paling memakan waktu lima sampai sepuluh detik. Para ilmuan sudah pasti tidak akan puas dengan capaian sekarang ini, di lain waktu akan terus mendalami dan terus mendalami untuk menemukan perkembangan teknologi berikutnya. *Bersambung.
