Konten dari Pengguna

Makna Universal di Balik Mendung

Asep Abdurrohman

Asep Abdurrohman

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

www.kompas.com
zoom-in-whitePerbesar
www.kompas.com

Musim hujan di awal tahun 2022 sudah tiba. Awal Januari, selain tahun baru juga awal di mana hujan segera datang menyapa. Menurut BMKG, puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Januari-Februari dan akhir musim hujan sekitar April-Mei 2022.

Sebelum hujan turun, pada umumnya diawali dulu dengan “mendung”. Hampir semua orang, percaya bahwa “mendung” sebagai tanda akan hujan turun. Tidak salah memang, tetapi yang salah adalah sudah mengetahui akan hujan, tapi tidak mempersiapkan alat pelindung hujan. Salah satunya payung. Ada peribahasa mengatakan “sedia payung sebelum hujan”.

Peribahasa tersebut, bisa dimaknai sangat luas. Di antaranya: sedia perbekalan sebelum pergi jauh, sedia cangkul sebelum mencangkul sawah, sedia perlengkapan sekolah sebelum belajar, dan sedia uang sebelum membeli barang.

mendung dalam bahasa sehari-sehari adalah sebuah tanda. Tanda akan turun hujan, ya “mendung”. Namun, bukan berarti setiap “mendung” akan turun hujan. Karena, ada “mendung” tetapi tidak turun hujan. Ini lantaran hujan tersapu jauh oleh angin.

Makna universal “mendung” dalam kehidupan sehari-hari begitu dalam dan berantai. Ibaratnya, rantai makanan yang saling terkait. Ketika “mendung”, pada dasarnya Tuhan menawarkan segala hikmah dan pintu kebaikan di dalamnya.

Dengan “mendung”, masyarakat yang bekerja mempersiapkan payung. Sikap ini, mendidik dirinya agar melindungi tubuh. Karena tubuh bentuk amanah dari Tuhan, maka keberadaannya harus dijaga dari segala sesuatu yang membahayakan, termasuk ketika turun hujan. Bagi pengendara motor dan tukang ojek, jas hujan sudah selalu sedia di dalam bagasi.

Ke mana pun pergi, tidak salah jas hujan akan selalu ada di dalam bagasi. Saat lupa tidak mempersiapkan jas hujan, pasangan hidup akan mengingatkan. Saling mengingatkan antara suami dan istri, pada dasarnya rahman dan rahim Tuhan sedang tercurah deras kepada pasangan.

Maka wajar, pasangan saling memberikan perhatian, di samping anugerah Tuhan yang diberikan, kasih sayang pasangan intensitasnya akan naik. Di saat itulah, angka perceraian akan mengalami penurunan.

Tidak sedikit, pasangan yang tidak saling memperhatikan, entah itu perhatian terhadap kebutuhan jasmani maupun rohani, berpotensi terjadi perceraian. Tengok saja, angka perceraian selama pandemi dari tahun 2020-2021 terus mengalami peningkatan. Salah satu penyebabnya adalah karena masalah perhatian terhadap masalah jasmani.

Sama seperti masyarakat yang naik kendaraan roda dua, agar jasmaninya kuat, mau tidak mau harus memperhatikan kebutuhan tubuh. Apalagi di waktu musim hujan, perhatian harus semakin berlebih.

Agar tubuh menjadi kuat dan sehat, tidak sedikit masyarakat memburu makanan dan minuman untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Di antaranya, jahe. Jahe, seperti yang kita saksikan di tahun kemarin begitu laris.

Saking larisnya, harganya pun melambung tinggi. Tidak pelak, situasi ini memberikan berkah tersendiri kepada para petani jahe. Petani jahe semakin semangat menanam jahe. Dalam benaknya, menanam jahe akan terus diserap oleh pasar, karena masyarakat sangat membutuhkannya. Apalagi, banyak para pedagang susu jahe berdatangan kepada para petani.

Pedagang susu jahe meracik jahe dan susu dengan balutan tangan yang semerbak menaburkan kekhusuan. Gayung bersambut, respon masyarakat terhadap susu jahe sempat mengalami lonjakan permintaan. Lagi-lagi, inilah kasih sayang Tuhan yang turun kepada manusia. Meskipun di sana sini banyak pekerja yang di rumahkan akibat pandemi Covid.

Jahe juga dijual dipasar. Secara otomatis masyarakat berdatangan ke pasar. Di pasar, tukang parkir kecipratan berkahnya. Ia sibuk menata motor yang parkir. Pembeli datang silih berganti. Tukang parkir pun menerima uang dan mengembalikan kembalian uang kepada masyarakat, sambil sibuk memperhatikan situasi dan kondisi parkiran.

Setali tiga uang, di samping jahe, asupan nutrisi lain pun mengalami peningkatan tajam. Contohnya Vitamin C 500 Gram. Selama pandemi kemarin, vitamin C 500 gram laku di pasaran. Harganya pun sempat mengalami kenaikan. Setelah kondisi pandemi mengalami penurunan, harga-harga kebutuhan masyarakat termasuk jahe dan vitamin 500 gram juga ikut turun.

Semua ciptaan Tuhan tidak ada yang sia-sia, termasuk dalam hal ini adalah “mendung”. Hanya manusia saja, yang lalai akan tanda-tanda yang diberikan oleh-Nya. Di lain waktu dan kesempatan, semoga kita lebih peka lagi terhadap tanda-tanda Tuhan yang berserakan di sekitar kita. Semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang.