Makna Yudisium dalam Kehidupan Keluarga dan Masyarakat (1)

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap mahasiswa yang sudah menyelesaikan proses perkuliahan di penghujungnya ada yang namanya yudisium. Yudisium adalah pengumuman kelulusan yang diselenggarakan oleh pihak fakultas.
Sebelum pengumuman kelulusan mahasiswa, pihak fakultas akan melihat nilai apakah sudah lengkap atau belum. Jika sudah lengkap, fakultas akan menetapkan nilai transkrip. Setelah menetapkan transkrip kemudian membuat predikat kelulusan.
Tujuan dari yudisium, tidak lain untuk penentuan kelulusan, pengumuman nilai dan sebagai syarat mengikuti wisuda. Hampir semua fakultas baik di tingkat sarjana maupun di pascasarjana mengadakan yudisium.
Ibaratnya yudisium ini dalam konteks pernikahan sebagai akad nikah, setelah resmi dilamar. Meskipun dalam konteks perkuliahan yudisium itu ibaratnya akad nikah ke-2 setelah sidang tesis yang menjadi akad nikah pertama.
Spirit yudisium dalam kehidupan sosial, tidak hanya berlaku di kalangan perguruan tinggi saja, tapi juga berlaku di masyarakat. Sebelum yudisium, pihak fakultas menentukan nilai. Dalam kehidupan keluarga, ibaratnya anak yang belum bisa dilepas dengan penuh tanggung jawab tidak boleh dilepas dulu.
Setelah anak terlihat punya tanggung jawab diri, baru kemudian dilepas secara perlahan-lahan. Nilai diri yang belum bisa dilepas itu, bisa berupa: kemampuan kerja sama, kemampuan untuk menghormati, kemampuan untuk berbagai, kemampuan menolong sesama, kemampuan berempati dan simpati dan lain sebagainya.
Maka dalam kehidupan era digital, anak yang ada ditingkat sekolah dasar dan menengah pertama belum bisa dilepas penuh memegang HP. Karena, anak di usia SD dan SMP masih perlu banyak pengawasan dari orang tuanya.
Jika dilepas tanpa kontrol, bisa saja anak-anak terbawa arus dalam pergaulan sosial, seperti kasus judi online beberapa bulan yang lalu merebak di masyarakat, di mana salah satu korbannya adalah anak-anak di bawah umur sepuluh tahun.
Maka penentuan nilai diri anak, sangat lah penting dievaluasi oleh orang tuanya. Orang tua, jika di perguruan tinggi seperti Dekan dan Kaprodi. Orang tua di rumah harus jeli melihat kelebihan dan kekurangan anak.
Jika anak belum sanggup salat berjamaah dengan tertib, sebaiknya anak didampingi oleh orang tuanya. Tidak boleh dilepas dan dibiarkan mengganggu jamaah lain. Jika masih belum bisa dikondisikan, salatnya di rumah saja.
Kecuali masjid yang menyediakan imam khusus untuk anak-anak, seperti yang sudah diterapkan oleh masjid As-Syarif, yang ada di kawasan di BSD. Di sana, anak laki-laki dan anak perempuan diimami sesuai jenis kelamin.
Anak perempuan ditempatkan di serambi masjid sebelah kanan, lalu diimami oleh perempuan dewasa. Begitu juga, anak laki-laki di tempatkan di serambi sebelah kiri masjid. Anak laki-laki diimami oleh laki-laki dewasa.
Dalam kegiatan orang tua menilai diri anaknya, jika perlu dipetakan kemampuan bergaulnya secara sosial. Misalnya, jika anak belum bisa mengerti tata cara bermain petak umpet, sebaiknya anak tidak boleh langsung main, tapi belajar terlebih dahulu.
Orang tuanya pun memberikan pemahaman permainan tersebut, setelah betul-betul mengerti baru kemudian dipersilahkan untuk main bersama teman-teman sebayanya. Jangan kemudian, anak belum paham betul tentang permain petak umpet, orang tua sudah menyuruhnya main.
Hal ini tidak baik bagi perkembangan mental anak. Bersyukur jika anak itu bermain tidak diolok-olok sama teman-temannya. Kalau diolok-olok, apa yang akan terjadi pada mental anak?
Anak bisa saja kapok bermain dan dampak luasnya anak akan mengurung diri tidak mau bermain lagi sama teman-temannya. Jika sudah terjadi seperti itu, siapa yang repot? Pasti orang tuanya sendiri yang repot.
Sukur alhamdulillah orang tuanya bisa menyadari akan hal itu, jika tidak bagaimana dengan keutuhan mental anak dan tentunya situasi keluarganya terganggu? Di sinilah letak kejelian orang tua harus benar-benar diperhatikan.
Setelah dirasa cukup nilai akan diri anak, orang tua bisa melepas ke luar secara perlahan-lahan, tidak boleh langsung sepenuhnya dilepas. Tapi dihitung dan di pantau terus tingkah polahnya ketika bermain dengan teman sebayanya.
Tidak salah pendidikan di Jepang pada jenjang TK, belum mulai pembelajaran materi, namun lebih memilih bagaimana anak itu bisa bergaul dengan teman-temannya. Bisa kerja sama atau tidak? Bisa saling berbagi atau tidak? Bisa saling membantu atau tidak? Bisa saling menghargai atau tidak? Dan bentuk-bentuk sosialisasi lainnya.
Di dalam melepas anak pun ke masyarakat, sebaiknya anak-anak diajarkan tata cara bergaul. Misalnya, bagaimana anak-anak ketika salaman sama orang tua? Apakah cium tangan atau tidak? Ini penting agar dalam diri anak tertanam menghormati orang tua lain saat bertemu.
Jika perlu, ayah dan ibunya bertanya kepada orang tua di luar mengenai tata cara anaknya saat bergaul dengan masyarakat di sekitar rumah. Ini semata-mata untuk mengevaluasi tata cara pergaulan anak yang langsung dari orang yang pernah menyapanya.
Jika anak pegang HP dan menyalakan smart TV, ayah dan ibu harus tahu tayangan apa yang ditonton oleh sang anak. Berteman sama siapa saja di HP-nya itu? Ayah dan ibunya pun baiknya harus tahu, agar memudahkan untuk bertanya jika ada hal-hal yang tidak diinginkan. Inilah makna penentuan nilai diri pada anak berbasis yudisium. Semoga bermanfaat.
