Membaca Episode Kehidupan dari Masa Ke Masa (5)

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pada tulisan bagian yang ke-4, penulis sudah menjelaskan kondisi bayi usia dua bulan, sudah bisa mengucapkan bunyi-bunyian vokal yang berulang, seperti “u..u..” atau ”a..a..”. lalu, bisa mengoceh ketika mendapatkan perhatian pada usia 5 bulan.
Mengoceh, seperti dengan kata-kata papapa atau mamama atau bababa. Pada tahun pertama, bayi seperti benar-benar berbicara. Tapi, belum ada kata-kata yang benar-benar jelas dikatakan. Baru pada usia 18 bulan, bayi sudah bisa berbicara sekitar 50 kata.
Pada tulisan yang ke-5 ini, penulis fokus pada kemampuan bayi untuk mendengar dan berbicara. Menurut Alzena, bayi sudah mempunyai bahasa reseptif, yaitu mendengar suara dan bunyi-bunyian, kemudian mengartikan apa yang ia dengar. Bayi juga sudah memiliki kemampuan bahasa ekspresif. Bayi mampu membuat suara atau bunyi sendiri, sehingga dapat berkomunikasi dengan Ibu/Bapak.
Biasanya, kemampuan bayi mendengar bunyi berkembang terlebih dahulu dari pada bahasa mengeluarkan bunyi. Inilah keunikan perkembangan bayi, ia mengawali kemampuan bahasanya dengan lebih banyak mendengar dari pada berbicara.
Titik awal bayi belajar bahasa, bagi orang dewasa, tentu sangat mengagumkan bagi manusia yang menggunakan alat pikirnya. Jika kita renungkan dan bertanya kepada diri kita, kenapa Tuhan memberikan kita satu mulut dan memberikan kita dua telinga. Tentu, ini bukan tanpa maksud dan tujuan yang jelas.
Dibalik itu semua, Tuhan ingin menjelaskan kepada kita, bahwa ketika berbaur dengan masyarakat, maka prinsip pertama adalah mendengar dulu, lalu berbicara. Ini artinya, mendengar dimaksudkan untuk menyerap berbagai data dan fakta di lingkungan sekitar kita, setelah data dan faktanya akurat, baru kemudian berbicara.
Secara kuantitatif dan kenyataan yang ada, Tuhan memberikan dua buah telinga dimaksudkan untuk lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Jika berbicara 10 kali, maka mendengar 20 kali. Satu berbanding dua (1:2). Ini selaras dengan perintah agama, bahwa selamatnya manusia terletak pada kemampuan menjaga lisannya.
Teori di atas, bisa kita lihat pada tataran aplikasi di media sosial yang banyak didiami anak-anak muda. Perkembangan kekinian, paradigma berbicara hampir bergeser dari mulut ke tangan yang menghasilkan kata dan kalimat. Banyak yang tidak tahan menjaga tangannya dari menulis komentar atau membuat tulisan yang dapat menyinggung orang lain.
Dewasa ini, kemampuan bertahan untuk tidak menulis atau berkomentar ketika menanggapi berbagai peristiwa yang miring, bisa dikatakan kompetensi mendesak. Kenapa demikian? Tentu ini berangkat dari asumsi bahwa anak-anak muda senang membuat berbagai kreativitas, baik berupa tulisan di media sosial, stiker, banner, ataupun video.
Pada berbagai bentuk kreativitas itu, pastinya menggunakan teks untuk membantu memahamkan kepada nitizen. Kalau bahasanya amburadul dan banyak menyinggung berbagai kalangan, maka diperlukan literasi digital sebagai etika memproduksi kalimat.
Ini penting, karena pembaca di media sosial beragam alias majemuk, kalau tidak menggunakan literasi digital dikhawatirkan akan keluar jalur. Istilah kasarnya, bukannya mendapatkan kebaikan, malah mendapatkan keburukan. Meskipun tujuannya baik, tetapi kalau menggunakan jalan yang tidak baik, mustahil hasilnya akan menjadi baik.
Oleh karena itu, pesan tersirat pada titik awal belajar mendengar dan berbicara pada bayi ini, perlu mendapatkan perhatian dari orang dewasa. Karena, Tuhan mengajarkan manusia bukan hanya dari al-Qur’an dan al-Hadis, tetapi dari berbagai kejadian yang menimpa manusia, termasuk lewat bayi yang mengawali berbicaranya dengan banyak mendengar terlebih dahulu.
Kemampuan manusia modern untuk mendengar terlebih dahulu, dirasa sangat penting sebagai bekal menyaring informasi yang datang kepada kita. Apalagi di era sekarang ini, berbagai macam informasi datang kepada kita.
Entah itu informasi yang memerlukan ketajaman pendengaran atau informasi yang memerlukan ketajaman penglihatan. Kedua-duanya penting diseimbangkan, agar bisa saling menguatkan untuk menyeleksi informasi yang berkualitas. Informasi yang berkualitas, salah satunya akan menentukan sehat atau tidaknya kejiwaan seseorang.
Salah satu contohnya adalah tidak sedikit di era pandemi ini, yang tidak percaya adanya Covid-19. Sehingga, ketika keluar rumah, dirinya mengabaikan protokol kesehatan. Tentu, ini berbahaya untuk dirinya dan juga untuk orang lain. Agama mengajarkan, “tidak boleh rugi dan tidak boleh merugikan.”
Informasi di atas, tidak sedikit masyarakat mempercayainya. Kalau dilacak sumbernya, ternyata banyak beredar di media sosial, kemudian ditangkap oleh anak milenial yang cenderung lebih suka mengonsumsi informasi instan dan singkat dari pada yang panjang, tetapi tidak jelas manfaatnya. Semoga bermanfaat. Wallu a’lam.
Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang.
