Nilai-Nilai Pendidikan dalam Banjir

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Juli ini tahun 2025 masyarakat Jabodetabek terkena banjir. Banjir tidak hanya melanda di daerah Jabodetabek, tapi banjir juga melanda wilayah yang lain di Indonesia. Banjir kali ini, seperti banjir yang tahun sebelumnya terjadi lantaran curah hujan tinggi dan terjadinya perubahan musim.
Selain itu, musim dingin yang melanda negara Australia mempunyai pengaruh terhadap Indonesia. Bahkan, di beberapa daerah Jabodetabek hujan terasa dingin lantaran arus dingin dari Australia sampai ke Indonesia.
Banjir, tidak hanya terjadi di Indonesia, di luar negeri pun banjir seperti di Amerika Serikat dan negara lainnya. Kejadian demi kejadian yang menimpa bangsa Indonesia, tidak kosong dan hampa makna. Tetapi, kejadian yang datang dan pergi itu mempunyai makna yang dalam untuk manusia apabila direnungkan dengan serius, termasuk kejadian banjir.
Banjir dalam ranah keilmuan pendidikan dan filsafat, mempunyai pesan penting untuk kehidupan manusia. Banjir tidak datang sendirinya, tetapi banjir ada yang bisa dianalisis dari peristiwa turunnya hujan, bahkan sebelum hujan.
Sebelum turun hujan, terjadi penggumpalan awan hitam sebagai pertanda akan datang hujan. Manusia yang memahami akan hal itu, akan mempersiapkan segalanya, misalnya saat akan pergi keluar baik memakai kendaraan motor maupun mobil yang namanya payung akan selalu menemani ke mana pun pergi.
Jika membawa kendaraan motor, jas hujan akan selalu ada dalam bagasi motor. Dari sini kita mengetahui bahwa persiapan dalam menjalankan sesuatu itu penting dilakukan. Tidak ada yang berhasil dalam menjalankan suatu pekerjaan jika tidak ada yang namanya persiapan. Maka, persiapan dipandang sangat penting untuk semua jenis pekerjaan yang menuntut keberhasilan.
Setelah turun hujan dari langit yang merupakan anugerah Tuhan, air datang menyapa manusia di Bumi. Air yang masuk ke gorong-gorong atau selokan berjalan dengan lancar, jika tidak ada penghalang. Namun, jika ada penghalang air akan keluar jalur. Atau air akan menghampiri tempat-tempat yang rendah.
Atau bisa jadi tanggul kali jebol akibat volume air meningkat, sementara kali tidak mampu menampung debit air yang melampau batas. Atau dalam konteks hulu, air berkapasitas banyak dikirim dari hulu ke hilir. Akibatnya, air yang bervolume besar itu melewati pemukiman masyarakat yang ada di pinggiran kali. Lalu, kali tersebut meluap dan airnya masuk ke pemukiman masyarakat.
Banjir tersebut ada yang dalam sampai menutupi rumah dan juga ada yang sekitar 30 CM sampai sepinggang dewasa. Kemudian masuklah berita TV maupun berita yang masuk ke berbagai berita online. Tidak lama kemudian datang bantuan dari pihak pemerintah maupun swasta.
Dampak banjir bagi masyarakat, tentu banyak yang mengungsi ke tempat-tempat yang aman. Di tempat pengungsian juga terdapat dapur umum. Masyarakat menikmati makan gratis sambil berbincang ringan bersama korban banjir lainnya di pengungsian.
Dari pesan ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa saling memperhatikan antara yang satu dengan lainnya adalah penting. Ibaratnya, manusia yang satu dengan lainnya sama-sama membutuhkan peran komunitas sosial. Meskipun ada pihak yang berjiwa introvert, tetapi dirinya membutuhkan komunitas sosial yang searah dengannya. Di tempat pengungsian, jiwa introvert dan ekstrovert akan terlihat.
Jiwa introvert akan cenderung tertutup, tidak banyak bergaul. Sementara jiwa ekstrovert akan banyak bergaul dengan sesama pengungsi. Dalam mengungsi, sejatinya tidak membeda-bedakan kondisi kejiwaan masyarakat. Semua membutuhkan bantuan dan uluran tangan dari berbagai pihak.
Uluran tangan itu, sejatinya adalah mempunyai peran penting untuk meneguhkan kemanusiaan yang korban banjir. Korban banjir perlu disapa. Korban banjir perlu diangkat motivasi hidupnya, bahwa kehidupan itu kadang terasa sempit dan kadang terasa lapang.
Sempit saat terkena banjir dan luas saat selamat dari banjir. Namun, situasi sempit dan lapang harus selalu mengiri manusia, agar bisa merasa dekat dengan Tuhannya dan juga saat lapang agar bisa bersyukur dan berbagai dengan sesama.
Saat di tempat di pengungsian masih bisa mandi air bersih, itu pun harus disyukuri. Karena, masih ada pihak yang memberikan bantuan air bersih untuk mandi dan mencuci. Mandi antri juga bersyukur dan alhamdulillah. Di situlah ujian kesabaran dimulai. Makan dan tidur tidak nyaman pun patut mengucap alhamdulillah.
Di situlah masyarakat yang mengungsi masih bisa makan, di pihak lain ada masyarakat yang tidak bisa makan dengan lahap. Soal tidak enak lain hal, yang dipikirkan adalah asupan badan untuk memperteguh fisik agar tidak loyo dan sakit.
Mengenakan pakaian bekas sebagai ganti perlu diterima dengan lapang dada, yang penting aurat kita tertutup sebagai titah Tuhan. Akhirnya, manusia hanya berharap kepada Tuhannya bahwa di setiap kejadian selalu ada hikmah yang masuk ke dalam jiwa sanubari yang paling dalam. Semoga bermanfaat.
