Polemik Sebagai Media Pendidikan Perdamaian

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akhir-akhir ini ormas terbesar di Indonesia, NU, sedang mendapatkan ujian organisasi. Berita pencopotan Gus Yahya, sudah banyak beredar (27/11/2025. Masyarakat yang mencintai NU, jadi kaget dan tentu banyak pihak yang menyayangkan.
Terlepas dari apa pun masalahnya, yang jelas polemik atas pencopotannya Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU memberi ancaman serius bagi warga yang mencintai NU. Dalam banyak kasus, konflik di tubuh organisasi kerap kali muncul.
Kemunculan konflik, entah itu karena faktor dari dalam atau pun dari luar, intinya sama-sama membutuhkan perhatian dan perbaikan. Organisasi yang sedang konflik, tentu bisa melahirkan polemik di masyarakat, sedikit banyak menguras tenaga dan pikiran.
Ketika itulah perlu perhatian dan perbaikan. Perbaikan dalam tubuh organisasi yang sedang dilanda polemik, masing-masing harus duduk bareng. Semua masalah bisa diselesaikan dengan baik. Setiap masalah yang memicu polemik muncul, setiap itu juga solusi akan datang.
Datang dan tidaknya solusi, bergantung kepada pihak-pihak yang terlibat dalam polemik. Masing-masing pihak perlu berbesar hati, tidak mengandalkan egosentrisnya, namun mengedepankan aspek perbaikan dan perdamaian.
Maka, di sinilah perlu ada Peace Education atau pendidikan perdamaian. Menurut Akbar Metrid, pendidikan perdamaian adalah model pendidikan yang mengupayakan pemberdayaan masyarakat agar mampu mengatasi konflik atau masalahnya sendiri dengan cara kreatif dan tanpa kekerasan.
Dengan melihat konsep di atas, konflik sejatinya perlu kesadaran setiap orang untuk mencari jalan keluar tanpa kekerasan fisik. Masing-masing pihak perlu menyadari bahwa konflik itu meskipun ada baiknya, juga ada tidak baiknya.
Agar kerugian karena konflik tidak menyebar ke mana-mana, perlu adanya keinginan semua pihak untuk berdamai. Konflik dalam konteks psikologis mengganggu stabilitas jiwa seseorang. Dalam konteks organisasi pun mengganggu jalan roda organisasi. Berbagai keperluan dan kepentingan organisasi akan terbengkalai, bahkan menimbulkan kerugian besar. Baik bagi individu maupun organisasi.
Konflik tidak boleh dibiarkan berlama-lama mengendap dalam arus bawah sadar organisasi, namun harus cepat dengan cara dikelola. Pengelolaan konflik, masing-masing pihak harus menurunkan tensinya masing-masing. Sadarilah, tensi pembicaraan tinggi yang diumbar ke berbagai media, hanya akan memberi peluang untuk memperlebar masalah.
Hati yang terbuka dan pikiran yang jernih penting untuk dikedepankan. Jika masing-masing pihak sudah membuka diri, maka setengah konflik akan segera selesai. Namun, akar masalah penting dianalisis secara kritis oleh masing-masing pihak.
Masalah diurai dan dijelaskan dengan mengundang pihak yang ahli dalam pendidikan perdamaian. Tentu, setelah mendengarkan masing-masing menjelaskan masalahnya. Lagi-lagi, di sinilah penting menghadirkan tokoh yang bisa mendamaikan antara dua kubu yang bertikai.
Tanpa kehadiran tokoh yang bisa mengendalikan, rasanya hampir mustahil dan bisa jadi tidak ada titik temunya. Kondisi demikian, perlu kiranya masing-masing menurunkan egonya dengan cara wudu dan salat hajat.
Suasana panas sebelum duduk bareng dalam upaya menyelesaikan konflik, kiranya penting untuk menghadirkan suasana keagamaan melalui dua rakaat salat hajat. Basuhan air wudu, dalam sekala kecil maupun besar mampu mengendorkan urat syaraf. Paling tidak, menurunkan tingkat ketegangan yang diakibatkan oleh derasnya aliran darah.
Teori dan cara itu pastinya sudah pada khatam ditubuh organisasi terbesar itu. Meski begitu, perlu ada pihak yang bisa mendorong untuk membuka kran dan masuk masjid agar bisa bersimpuh sebelum duduk bersama.
Setelah dirasa siap lahir batin untuk kembali berdamai demi kemajuan organisasi dan masyarakat, datang dan berjalan dengan santai untuk mencari titik temu. Salami dan beri perhatian lebih masing-masing pihak, agar jiwanya kembali tergugah untuk kemaslahatan orang banyak.
Semua gerak-gerik dalam proses pendidikan perdamaian dipantau oleh pihak-pihak yang punya otoritas untuk mendamaikan. Entah itu otoritas keagamaan maupun otoritas pemerintahan yang punya andil untuk memakmurkan jiwa rakyatnya.
Setelah bertemu di dalam majelis perdamaian, masing-masing bisa mengungkapkan fakta sebenarnya, tidak dibuat-buat. Tidak lupa membawa bukti-bukti sebagai dalil dan untuk menyadarkan pihak yang berkonflik.
Ketika menimpali data, ungkaplah dengan bicara yang baik penuh hikmah. Biarkan bicara diselesaikan, tidak boleh dipotong. Setelah itu niatkan cari titik temu dan ego yang tinggi harus diturunkan. Jika keputusan harus mundur, mundurlah dengan terhormat.
Jika jabatan harus dipertahankan, keluarkan dalil-dalil terkuat untuk memberi pelajaran kepada masyarakat. Tunjukkan bahwa konflik yang melahirkan polemik itu akan selesai dengan membuka diri masing-masing menjadi pihak yang tercerahkan oleh kelapangan jiwanya. Semoga bermanfaat.
