Selat Hormuz Sebagai Laboratorium Pendidikan Interdisipliner

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia dicengangkan oleh perang antara Iran dan Amerika Serikat dan Israel sebagai anak kesayangan AS. AS dan Israel ibaratnya bapak dan anak. Keduanya melawan Iran sebagai negara yang sudah lama berkonflik.
Dalam sejarah, permusuhan Iran dengan AS-Israel bermula sejak Revolusi Iran 1979 hingga kini masih terus bersitegang melakukan adu kekuatan dengan senjata rudalnya. Puncaknya, konflik itu berujung pada penanganan Selat Hormuz secara khusus oleh Iran.
Selat hormuz adalah titik sempit yang menghubungkan antara Teluk Persia di sebelah Barat dengan Oman dan Laut Arab di sebelah Timur. Sementara di sebelah utaranya di bawah naungan Iran dan di sebelah selatan di bawah Uni Emirat Arab (UEA).
Ditutupnya Selat Hormuz itu memberi dampak ekonomi yang luas pada berbagai negara. Di sisi lain, negara-negara yang bisa lewat melalui teluk itu cukup terbatas. Negara tetangga kita, Malaysia, bisa lewat dengan aman tanpa biaya. Namun, Indonesia melalui kapal Pertamina mengalami kendala serius.
Problem di atas, memberi pelajaran bahwa fakta masalah di lapangan harus banyak melibatkan berbagai macam keilmuan. Masalah yang muncul ke permukaan, tidaklah tunggal, melainkan ada beragam masalah harus didekati dengan beragam keilmuan juga.
Masalah di Selat Hormuz itu tidak bisa didekati oleh ilmu geografi saja, melainkan perlu pendekatan ilmu sejarah, ilmu kelautan, ilmu geologi, ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu komunikasi, ilmu hubungan internasional, dan termasuk ilmu agama. Semua ilmu itu punya peran strategis untuk mengurai benang kusut di atas.
Jika hanya menerapkan ilmu tunggal, seperti ilmu geografi, maka tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Di sinilah perlu meleknya umat Islam untuk menguasai berbagai keilmuan. Tidak hanya ilmu Agama Islam, tetapi juga ilmu-ilmu lain yang bisa mengurai masalah Selat Hormuz.
Dalam kacamata pendidikan interdisipliner, adanya masalah di Selat Hormuz punya nilai edukasi yang besar untuk warga dunia, jika merenungkannya. Selat Hormuz adalah kampus yang tidak berdinding dan beratap, namun memberi dorongan kepada banyak negara untuk keluar dari akibat itu.
Tidak sedikit warga dunia merasa khawatir mengenai masa depan minyak dunia, termasuk Indonesia. Masyarakat sudah banyak khawatir akan terjadi kenaikan BBM. Masalahnya, kenaikan BBM ini akan berdampak pada harga-harga konsumsi pokok harian masyarakat. Di sisi lain, beberapa bulan ke belakang masyarakat Indonesia sedang mengalami penurunan daya beli.
Jika ditambah dengan kenaikan BBM, bukan tidak mungkin akan menambah jumlah kemiskinan di kalangan masyarakat. Kemiskinan bertambah secara tidak langsung berdampak pada kenaikan jumlah subsidi di berbagai sektor, kriminalitas bisa meningkat dan menimbulkan kelainan jiwa di sebagian masyarakat.
Dampak-dampak di atas harus segera disikapi dengan serius oleh berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah, para pengusaha, para tokoh, para ilmuwan, berbagai instansi, dan lain sebagainya harus ikut bahu membahu menyelesaikan raksasa laboratorium itu. Sudah tidak musim lagi saling menyalahkan antarpihak. Sekarang harus bermusim saling sinergi antarpihak. Namun, itu semua tidak lepas dari kendali pemerintah yang punya alat untuk merangkul berbagai pihak.
Sejatinya, Selat Hormuz tidak hadir dalam ruang masalah yang tidak ada nilai edukasinya, namun ia datang untuk memberi pelajaran bahwa kerja sama dalam laboratorium raksasa dengan beragam ilmu yang saling bersinergi itu penting dilakukan oleh umat Islam.
Agar umat Islam bisa lebih melek lagi bahwa setiap masalah yang muncul itu bukan semata-mata masalah tanpa nilai edukasi, tapi ia memberi kekuatan kepada berbagai ilmuwan untuk bangkit menguasai peradaban ilmu yang dimulai dari membaca dan mengkaji mengenai suatu objek masalah, termasuk Selat Hormuz. Semoga bermanfaat.
