Setir, Rem dan Gas dalam Pendidikan Rumah Tangga

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap fakta yang terlihat adalah media pendidikan yang memaksa manusia untuk merenungkan. Jalan yang lurus tanpa berbelok, juga memberi pesan penting bahwa manusia itu harus mencari jalan kebaikan yang lurus sesuai kaidah agama.
Di lain pihak, jalan berbelok pun menjadi tanda pentingnya injak rem agar tidak keluar dari jalur jalan lurus. Jalan lurus, seperti tol, harus lebih waspada. Dengan kecepatan di atas seratus, mengantuk sedikit setir bisa berbelok arah. Akibatnya, akan membahayakan penumpang.
Tidak mentang-mentang berada di jalan yang baik, lalu teledor dan lengah tidak tengok kanan dan kiri dalam konteks mengemudi adalah jalan mulus menuju tanah kusir. Jalan lurus, tidak selalu harus selalu injak gas. Kadang harus rem sedikit, lalu pindah jalur dengan menyalakan lampu sen.
Dalam konteks kehidupan keluarga, seni mengemudi bagi suami mesti tahu kapan membelokkan setir, injak rem dan tancap gas. Mobil yang dikendalikan oleh sopir yang baru belajar, kadang senggol sana-sini. Akhirnya, bodi mobil tergores dan rusak. Sementara penumpang merasa kuatir dan tidak karuan menjadi penumpang.
Dalam kondisi pasangan baru menikah, tidak sedikit benturan sana-sini dirasakan. Persis seperti yang sedang belajar mengemudi mobil. Rumah tangga rusak, pertanda sopirnya belum mengenal medan istri. Sebaliknya, rumah tangga adem dan damai, pertanda sopirnya sudah mengetahui medan yang harus dilalui.
Sebelum mengetahui secara jelas, sopir rumah tangga kadang injak rem secara mendadak tanpa ada aba-aba. Penumpang yang berupa istri jadi kaget dan terbentur dasbord. Ujung-ujungnya mobil yang berupa rumah tangga itu penyok dan harus pergi ke bengkel.
Rumah tangga menjadi retak. Kalau sudah retak terlihat bekasnya. Kalau sudah melukai anggota keluarga susah hilang rasa pedihnya. Ganti pasangan tidak memungkinkan, karena tujuan rumah tangga bukan harus sering-sering ganti pasangan, jika tidak cocok. Namun, harus saling melengkapi antara sopir dan penumpang VVIP.
Harus saling melengkapi antara suami dan istri. Jika suami mengemudi di atas 150 KM per jam, istri harus mengingatkan. Mengemudi di atas itu, memang cepat sampai. Namun, ada risiko yang cepat mengantarkan ke tanah kusir dengan mulus.
Risiko ugal-ugalan mengemudi rumah tangga, bisa terjadi kecelakaan yang berupa perceraian. Perceraian memang barang halal, namun dibenci oleh yang Maha Kuasa. Agar rumah tangga tidak bubar, sang sopir harus tahu kapan kencang, pelan dan berhenti.
Artinya sopir itu harus belajar terlebih dahulu bersama orang-orang yang sudah berpengalaman membawa mobil. Jangan belajar dengan sopir yang baru bisa sebulan dua bulan. Namun, belajarlah kepada sopir yang sudah malang melintang mengarungi berbagai jalanan.
Belajar kepada orang tua dan orang tua lain yang sudah makan asam garam dalam mengarungi rumah tangga. Rumah tangga harus diarahkan kepada jalan bisa menemui ridho-Nya. Dalam memacu rumah tangga, belajarlah tidak terlalu cepat membelokkan setir, jika belum waktunya belok.
Melihat rumah tangga orang lain lebih hijau ekonominya, cepatlah belok kiri dengan menyalakan sen terlebih dahulu. Suami harus belok dengan mengukur diri sesuai kemampuan. Artinya, standar rumah tangga tidak boleh apa yang dilihat pada orang lain, namun lihatlah pada apa yang dimiliki oleh rumah tangga sendiri.
Tetangga boleh hijau istri dan ekonominya, namun rumah tangga kita harus tetap biru memberi rasa ketenangan. Rasa biru ini timbul setelah menginjak rem, agar tidak terlalu silau dengan apa yang dimilikii oleh orang lain.
Jika sudah punya anak, alhamdulillah. Anak yang lahir di tengah rumah tangga yang damai harus dikendalikan oleh instrumen setir, rem dan gas. Pendidikan untuk menggapai kebahagiaan anak di dunia dan di akhirat boleh injak gas sesuai kebutuhan.
Melihat teman anaknya sudah pegang HP yang sudah terkoneksi internet, sebagai seorang ayah sekaligus sopir keluarga harus berani membelokkan setir. Jangan membiarkan keinginan anak yang belum waktunya masuk ke dalam batinnya. Belokkan keinginannya dengan cara memberi nasihat penuh cinta demi kebaikan dirinya sebagai anak.
Bukan tidak cinta terhadap anak, namun sang ayah lebih cinta lagi jika anaknya tidak rusak karena efek negatif dari kecanduan HP. Jika sudah kecanduan HP, anak akan cenderung meminta terus untuk bermain HP.
Bermain HP untuk anak usia sekolah dasar, memang boleh, namun hendaknya dibatasi sesuai dengan kebutuhannya anak. Dilarang sama sekali, bukan keputusan yang baik. Namanya juga era digital, hampir semua orang pegang HP.
Apalagi orang tuanya setiap hari pegang HP, sudah pasti anaknya lama-lama ingin pegang HP. Jika tidak dikasih, pelan namun pasti akan curi-curi waktu untuk bermain HP. Entah HP nenek kakeknya atau HP orang tuanya sendiri.
Maka di sinilah orang tua harus berani injak rem dan membelokkan setir, agar anaknya selamat dari godaan HP yang berlebihan. Jika orang tua melarang sama sekali anaknya bermain HP, maka harus ada alternatif lain untuk sang anak sebagai pengganti bermain HP. Semoga bermanfaat.
